
Matahari kembali terbit dari ufuk timur. Membangunkan semua makhluk yang tertidur. Hari ini, aku dan Kak Salsa akan mengikuti ujian masuk ke sekolah yang baru. Kami memulai hari seperti biasa, kami bangun, merapikan tempat tidur, mandi, lalu sarapan seperti biasa. Setelah selesai melakukan semua itu, kami pun berangkat menuju sekolah baru kami. Sesampainya di sana, tampak gedung sekolah yang megah kosong melompong tanpa terlihat satu pun siswa maupun guru yang beraktivitas. Kami pun disambut oleh guru wanita yang mengenakan seragam batik dengan rok hitam panjang dan hijab berwarna merah, “Selamat datang! Kalian pasti anak-anak yang ingin mendaftar ya! Baiklah, silakan masuk!” Kami pun masuk dan diantar ke ruang kelas yang luas dan sepi. Sedangkan Ibu dan Ayah diantar ke ruang kepala sekolah untuk diwawancarai.
“Baiklah anak-anak, silakan keluarkan alat tulis kalian! Tes pertama hari ini adalah tes IQ. Semangat!!” kata guru tadi. Ia pun mengeluarkan 2 kertas kosong yang digunakan untuk menulis jawaban. Kemudian ia mengeluarkan 2 buku tipis yang berisi soal-soal tes IQ. “Baiklah, silakan mengerjakan!” Kami pun mengerjakan semua soal sesuai instruksi. Kami menjawab setiap soal dengan teliti. Sudah 10 menit berlalu. Kami pun melanjutkan ke tes selanjutnya.
“Baiklah anak-anak, ini adalah tes akademik. Selamat mengerjakan!” Kami pun mulai mengerjakan soal demi soal yang ada. “Untung tadi malam sempat belajar, kalau tidak mungkin aku tidak bisa mengerjakan ini,” batinku dalam hati. Kulihat Kak Salsa menjawab semuanya dengan cepat. Yah, dia sudah meramal soal apa saja yang akan keluar dan sudah mengetahui jawabannya.
***
Sudah 2 jam berlalu, kami sudah menyelesaikan semua tes termasuk tes wawancara. “Bu guru, kenapa sekolah ini tampak sepi?” tanyaku polos. “Minggu ini, sekolah masih libur semester dan baru masuk hari Senin,” jawabnya. “Tunggu dulu! Seharusnya Ayah mengajak kita jalan-jalan selama seminggu ini!” kataku. “Iya, itu benar!” sahut Kak Salsa. Kami pun protes ke Ayah dalam perjalanan pulang. “Yah maaf. Ayah kan sudah menghabiskan cukup banyak uang untuk tiket pesawat dan uang muka apartemen,” jawab Ayah. “Hah, sudah kuduga akan begini,” sahut Ibu. Kami pun pulang dengan penuh kekecewaan. Beberapa hari kemudian, libur semester sudah selesai. Kami sudah dinyatakan lulus dan kami sudah mendapat seragam dan buku. Kami pun berangkat ke sekolah yang baru.
Aku pun meletakkan tasku di meja Layla, “Kenapa kau meletakkan tasmu di atas mejaku?” “Maaf, habis kulihat tidak ada tempat kosong. Lagi pula, kita harus ke lapangan sekarang, kan?” jawabku sambil mengenakan topi berwarna merah putih yang digunakan untuk upacara. “Ya. Ayo pergi! Lapangannya ada di sebelah sana!” jawab Layla. Aku pun mengikutinya hingga ke lapangan tempat upacara dilakukan. “Cepatlah berbaris!” perintah Layla. “Iya-iya. Tak usah menyuruhku!” jawabku. Setelah masuk ke barisan, upacara pun dimulai.
Setengah jam sudah berlalu. Upacara pun akhirnya selesai. Semua murid dan guru pun kembali ke kelas masing-masing. “Setelah masuk kelas, cepat bawa tasmu pindah dari mejaku!” “Tenang saja. Kalau ada tempat kosong aku pindah. Kalau tidak, ya aku titip tasku, hehehe!” jawabku. Sesampainya di kelas, semua anak sibuk bermain dan mengobrol. Aku pun mengambil tasku dan mencari tempat yang kosong. “Hei, Layla. Sebelahmu kan kosong. Apa aku boleh duduk di sana?” “Baiklah. Kurasa Amalia tidak masuk hari ini,” jawabnya singkat.
Tak lama kemudian, Bu guru datang. Ia mengenakan seragam warna coklat satu setel. Wajahnya yang berseri-seri membuat semua orang merasa nyaman. “Baiklah semuanya, Ibu punya sedikit pengumuman. Mulai hari ini, teman lama kita Amalia pindah sekolah karena mengikuti tempat kerja Ayahnya yang juga berpindah. Selain itu, mulai hari ini kita memiliki teman baru. Roy, silakan perkenalkan dirimu!” kata Bu guru. Aku pun berdiri dan memperkenalkan diriku, “Hai, aku Roy. Aku berasal dari Beijing, Cina. Beberapa hari yang lalu, aku pindah ke Indonesia. Semuanya, mohon kerja samanya.” “Baiklah Roy, terima kasih. Ngomong-ngomong perkenalkan, nama Ibu adalah Ayu. Salam kenal, ya!” timpal Bu guru. Yah, perjalananku di Indonesia baru dimulai. Hari ini murid baru, lain waktu murid senior.