
Aku pun pulang ke apartemenku dengan menahan lapar karena tak sempat makan siang. “Assalamu’alaikum!” seruku sambil membuka pintu. “Wa’alaikumussalam! Roy! Kenapa kamu seperti tengkorak berjalan?!” seru Ibu saat melihat jalanku yang sempoyongan. “Aku tidak sempat makan siang, jadinya lemas,” jawabku. “Baiklah, cepat makan bekalmu!” perintah Ibu. Aku pun duduk di meja makan dan mengeluarkan bekal dari dalam tasku. Kemudian, aku segera makan dengan lahap. Sekitar setengah jam kemudian, “Alhamdulillah, aku kenyang! Haak!” kataku sambil bersendawa.
“Astaga, bagaimana mungkin kau tidak sempat makan siang?” tanya Ibu. “Tadi saat istirahat siang, aku pergi melawan para perampok di bank. Saat aku kembali ke sekolah, ternyata istirahatnya sudah selesai,” jawabku. “Assalamu’alaikum! Aku pulang!” seru Kak Salsa yang baru membuka pintu. “Wa’alaikumussalam!” jawab kami berdua. “Hei, sepertinya harimu cukup sibuk, ya!” sindir Kak Salsa. “Ya, sangat sibuk. Aku saja tak sempat makan siang tadi. Oh iya, dari mana kau tahu?” tanyaku. “Ya, seluruh dunia membicarakannya di internet,” jawabnya sambil menunjukkan sebuah video.
“Kurasa kau akan diburu oleh para wartawan dan warga lagi,” sahut Ibu. Ayah pun tiba membuyarkan percakapan kami, “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikumussalam!” jawab kami bertiga serempak. “Ayah, apakah sudah jadi?” tanyaku semangat. “Tentu saja sudah!” jawab Ayah sambil melemparkan sebuah barang berbentuk tabung kecil seperti tumbler. “Apa itu?” tanya Kak Salsa penasaran. Aku pun menekan tombol yang ada di tengahnya, kemudian tumbler itu memanjang dan berubah menjadi tongkat. “Wah, bagus Ayah! Terima kasih!” “Sama-sama,” jawabnya.
“Jadi, apa fungsi tongkat ini?” tanya Kak Salsa. Aku pun kembali menekan salah satu tombol, kemudian tongkat itu mengeluarkan sayap di ujung atas bagian samping kanan kiri dan pijakan kaki di tengahnya. Aku pun menaikinya seperti menaiki sebuah skateboard. “Wah, tongkat terbang! Lumayan bagus!” puji Kak Salsa. “Tapi kau kan sudah bisa terbang, untuk apa butuh tongkat terbang?” tanya Ibu. Aku pun turun dari tongkatku dan menekan tombol yang lain. Kemudian, sebuah hologram berbentuk diriku muncul di atas tongkat itu. “Lihat, kan! Ini adalah fungsi yang sesungguhnya. Dengan begini, para wartawan dan warga akan mengikutinya. Bukan mengikuti kita,” jawabku.
“Ide yang bagus!” puji Ibu. “Jadi, apa kau bisa menggunakannya sekarang. Para wartawan sudah mengepung apartemen kita. Kita tak bisa pergi ke mana-mana sampai mereka menghilang,” kata Ayah. “Ini kan digunakan untuk berangkat sekolah. Bukan sekarang,” jawabku. Kami pun bersantai sambil menunggu adzan Maghrib.Saat adzan Maghrib berkumandang, kami pun segera sholat di kamar masing-masing. Selesai sholat, kami makan bersama kecuali aku karena aku masih kenyang.
Aku pun kembali bermeditasi di kamarku. “Oh iya, kalian tadi bilang kalau aku mungkin menggabungkan kekuatanku. Bagaimana caranya?” tanyaku saat aku tenggelam dalam pikiranku lagi. “Kami belum pernah melakukannya. Coba saja fokus pada kekuatan yang ingin kau gabungkan,” kata Garuda. Aku pun mencoba fokus pada kekuatan api dan angin. Setelah membuka mata, aku tak berubah sama sekali. “Kenapa aku tak berubah seperti biasa?” batinku. “Mungkin karena ini adalah dua energi yang berlawanan. Maksudku, energi kami memiliki elemen yang berbeda-beda. Selain itu, bentuk tubuh kami juga berbeda,” jawab Phoenix. “Kau sadar kalau kita sama-sama burung? Tapi kurasa kau ada benarnya. Energi kita berbeda sehingga bentuk tubuhmu tidak berubah, Roy!” sahut Garuda.
“Yah, tubuhku memang tidak berubah. Tapi kurasa energi kalian bercampur dan menyelimuti seluruh tubuhku,” gumamku sambil bercermin. “Kalau begitu, mungkin gabungan ini tidak dapat kau namai dengan perubahan yang sebelum-sebelumnya. Bagaimana jika kita namai gabungan ini dengan sebutan Cakra? Cakra berarti energi yang mengalir dalam tubuh,” sahut Naga Biru. “Itu masuk akal. Tapi sebutan Cakra saja kurang spesifik. Aku tahu! Setiap gabungan disebut Cakra dan ditambah sebutan elemen yang digabungkan. Aku akan menyebut gabungan ini, Cakra PiNgin! Singkatan dari aPi dan aNgin!” “Sshs! Itu nama terburuk dan teraneh yang pernah kudengar,” jawab Kobra. “Lalu, kau punya ide lain?” tanyaku. “Sshs! Cakra Kemarau!” jawabnya. “Yah, sedikit lebih baik kurasa.”
Tak lama kemudian, adzan Isya berkumandang. keluargaku pun sholat Isya di sendiri-sendiri di kamar masing-masing. Setelah itu, aku pun kembali berlatih. “Jadi, kalian siap untuk penggabungan kekuatan lainnya?” tanyaku. “Tentu saja, kami akan selalu siap!” jawab para monster dengan yakin. “Sekarang, akan kucoba! Aku adalah badai yang mengamuk di atas dunia!” Tubuhku pun diselimuti energi angin dan petir yang bergabung. “Aku, Cakra Badai!” seruku. Ternyata, ada beberapa orang yang tak suka saat aku berlatih. “Hei, bisa tidak pelan-pelan! Ini sudah malam, tahu!” protes Kak Salsa sambil membuka pintu kamarku. “Baiklah, aku akan tidur saja,” jawabku. Aku pun kembali ke wujudku yang biasa dan berbaring di kasur untuk tidur.
***
Matahari kembali terbit, hari baru dimulai kembali. “Hei, Ayah! Kita tidak latihan?” tanya Kak Salsa. “Tidak! Para wartawan dan warga masih mengepung apartemen. Lagi pula, Ayah tidak enak badan. Hacih!” jawab Ayah. “Sepertinya Ayah terkena flu,” sahutku. “Sshhs! Sakit biasa seperti itu sangat mudah disembuhkan. Salurkan energi daun kepadanya. Dia akan segera sembuh. Sshhs!” kata Kobra. Aku pun berubah menjadi Kobra Daun dan menyalurkan energiku dengan menyentuh badan Ayah. “Kuharap cara ini memang bisa berhasil,” batinku. Tak lama kemudian, Ayah bangkit dari tempat tidur. “Wah, Ayah merasa sangat sehat. Roy! Kekuatanmu tidak sia-sia!” katanya. “Tentu saja tidak. Memangnya ada kekuatan super yang sia-sia?” batinku dalam hati.
Sementara itu, aku dan Kak Salsa sudah tiba di sekolah berbarengan dengan tongkat terbangku. Aku pun mendaratkan tongkat terbangku ke tanah dan mengembalikan bentuknya menjadi tumbler. “Alhamdulillah tidak ada orang yang memerlukan pertolongan. Kalau tidak, aku bisa terlambat lagi,” gumamku. “Hei, Roy! Sepertinya kau tidak terlambat seperti kemarin!” sindir Layla. “Tentu saja tidak! Kan kemarin aku ada permintaan tolong. Jadi, ya harus kutolong,” jawabku. Sekitar 15 menit kemudian, bel berdering pelajaran pun dimulai. “Baiklah anak-anak, hari ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Silakan buka halaman 17!” kata Bu Esti.
***
Setelah belajar selama 3 jam di kelas, akhirnya istirahat pertama tiba. Aku pun bergegas membeli lumpia dan kembali ke kelas menggunakan Lightning Rush. Setelah itu, aku menikmati lumpia yang kubeli dengan tenang. “Hmm, sepertinya hari ini sangat tenang,” batinku. Kemudian, sesuatu yang tak terduga terjadi. Kepulan asap membumbung tinggi di angkasa. Aku pun mendengar teriakan minta tolong dari arah asap itu. Segera kubuang bungkus plastik bekas lumpia ke tempat sampah dan terbang menggunakan tongkatku. “Aku harus menyimpan tenaga untuk menyelamatkan mereka. Lagi pula, tongkat ini cukup cepat,” batinku.
Beberapa menit kemudian, tampak sebuah rumah warga sedang dilalap api. Warga sekitar mencoba memadamkan api itu, namun tidak berhasil. Aku pun mendarat dan membantu mereka. “Semburan es!” seruku sambil menyemburkan udara pembeku dari mulutku. Sebagian api di luar sudah padam. Namun, api yang ada dalam rumah masih membakar benda-benda di dalamnya. Di balik teriakan warga yang menyorakiku, aku mendengar suara lain. “Tolong! Aku terjebak!” Aku pun langsung masuk ke dalam sambil berubah menjadi Naga Biru. “Astaga, api di sini sangat besar!” gumamku. Aku pun menghembuskan udara pembeku di ruangan yang aku lewati. Tak lama kemudian, tampak seorang Ibu dan bayinya ketakutan terkurung dalam kobaran api. Aku pun kembali meniupkan udara pembeku dan kobaran api itu pun padam.
“Baiklah, ayo keluar!” ajakku. Ibu itu dan bayinya mengikuti langkahku dan menuju ke luar rumah. Namun, baru beberapa langkah, atap bangunan runtuh setelah dilalap api. “Kalau begini, dengan dinding tanah pun tak bisa terlindungi,” batinku. Aku pun mendapatkan ide cemerlang. “Tombak es! Tembak!” seruku sambil membuat beberapa tombak es dari tanganku dan menembakkannya ke puing atap yang runtuh. Setelah ditembakkan, puing-puing tadi hancur menjadi kepingan yang sangat kecil. “Ayo!”, seruku sambil berlari menuju pintu keluar. Ibu itu pun mengikutiku hingga keluar dari rumah yang hampir runtuh sepenuhnya. “Terima kasih, Nak!” kata Ibu itu berterima kasih.
Kemudian, para wartawan kembali berkerumun untuk mewawancaraiku. “Roy! Bagaimana perasaanmu setelah menjadi bocah super?” tanya seorang wartawan. “Kurasa aku tak punya pilihan selain menjawab pertanyaan mereka,” batinku. “Itu sangat menyenangkan. Tapi, tolong jangan panggil aku Roy, Si Bocah Super. Menurutku itu sedikit aneh. Panggil aku, Roy, pengendali enam elemen!” jawabku. “Roy! Bagaimana caramu mendapatkan kekuatan?” “Apa kau akan menggunakan kisahmu untuk dijadikan novel, komik ataupun film?” Para wartawan menanyakan semua hal padaku. Di balik suara wartawan yang mewawancaraiku, aku mendengar bel sekolah sudah berbunyi. “Ah, baiklah semuanya! Aku harus pergi!” Aku melompati para wartawan dengan kekuatan angin dan menerbangkan kembali tongkat terbangku kemudian bergegas kembali ke sekolah.
“Uh, semoga saja, aku tidak dimarahi,” batinku. Sesampainya di sekolah, aku masuk melalui jendela untuk masuk ke kelasku. “Hei, apa-apaan kamu ini! Pahlawan super kok tidak punya sopan santun! Masuk itu dari pintu depan! Belum salam juga!” omel Bu Yasmin, guru pelajaran agama. “Ah, maaf Bu! Saya terburu-buru!” jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. “Baiklah. Cepat duduk! Sekarang, buka halaman 15!” perintahnya. Aku pun duduk di bangkuku dan mengeluarkan buku paket PAI. “Hehehe! Bagaimana rasanya diomeli Bu Yasmin?” sindir Layla. “Sudahlah! Jangan kepo seperti para wartawan!” jawabku kesal sambil membuka buku PAI.
***
Sudah sekitar dua jam kami belajar, adzan Dhuhur pun berkumandang. Kami semua pun menghentikan pelajaran dan menuju masjid sekolah untuk sholat Dhuhur berjama’ah. Setelah sholat, kami kembali ke kelas untuk makan siang bersama. “Kuharap tidak ada yang meminta pertolongan sekarang,” batinku.