The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin

The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin
Bab 20: Teman Sekaligus Lawan



Berjam-jam kami belajar di sekolah dengan hati yang gelisah. Usai sekolah, aku dan Layla langsung mengikuti Azrul untuk mengetahui kebenarannya. “Hei, bukankah kita seharusnya menyamar atau semacamnya?” tanya Layla. “Memangnya mau menyamar menjadi apa? Seragam ini juga tidak mencolok,” jawabku. “Memang tidak, tapi rambutmu itu terlalu mencolok,” kata Layla sambil melirik rambutku. “Yang benar saja, pikirkan rambutmu sendiri, pirang!” balasku. “Kau bilang a-” suaranya terhenti ketika aku menutup mulutnya. “Diamlah! Kita sedang mengamati, bukan meneriakinya,” bisikku.


Tampak Azrul pergi ke sebuah pabrik tua dan terbengkalai yang cukup jauh dari sekolah. Bahkan lebih jauh dari jarak apartemenku ke rumah Layla. Ia pun masuk ke dalam pabrik tua itu. “Kalian sedang apa?” tanya Kak Salsa yang tiba-tiba ada di belakang kami. “Kak Salsa, kenapa kau kemari?” tanyaku. “Tentu saja mengikutimu,” jawab Kak Salsa. “Lalu, bagaimana kau tahu kami ada di sini?” tanyaku lagi. “Tentu saja dengan ramalan. Tadi siang, aku sempat meramal dan isinya seperti ini, ‘Saat kegelapan bangkit dari utara, pendekar terkuat akan melawan sekuat tenaga. Saat keenam pilar menjadi satu, muncullah sebuah cahaya baru,’” jawabnya panjang lebar. “Yang benar saja, kau bisa meramal sejauh itu? Kalau begitu, harusnya kau saja yang jadi detektor kejahatanku,” gumamku. Kami pun mengikuti Azrul dan masuk ke dalam pabrik itu. “Selamat datang kembali, Azrul. Apakah kau sudah siap untuk meningkatkan dirimu lagi?” tanya seorang pria berperawakan tinggi berkaus merah-hitam dengan celana training yang serupa. “Ya! Aku siap, Sensei!” jawab Azrul. “Tidak mungkin!” kataku tak percaya.


“Hei, Azrul! Kenapa kau mengkhianati kami?!” tanyaku. “Apa yang kau maksud? Aku tidak mengkhianati siapa pun. Aku kemari untuk berlatih karate. Dia adalah guruku, Sensei Toni," jawab Azrul. “Tunggu dulu, kau belajar karate di sini? Lalu, kenapa ada bekas luka di dadamu?” “Oh, bekas luka yang ini? Ini kudapatkan saat aku kecelakaan waktu masih kecil," jawabnya sambil menunjukkan bekas luka yang kulihat melalui Mata Biologi tadi pagi. “Tapi bagaimana kau mengetahuinya? Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun," sambungnya. “Yah, anggap saja firasat peramal gagal milikku yang kadang benar,” jawabku asal. “Berarti kau salah menetapkan tersangka?” tanya Layla. “Kurasa kemampuanmu semakin memburuk, ya?” timpal Kak Salsa.


“Hahaha!! Akhirnya kita bertemu secara langsung, Ling Royyan Fallahi. Aku sudah mengawasimu sejak perkemahan waktu itu. Sudah banyak yang kau lakukan untuk kota ini dengan Batu Cakra. Tapi, maaf. Aku akan mengambil apa yang harusnya menjadi milikku!” seru sebuah suara lelaki yang entah dari mana asalnya. Aku menajamkan indra pendengarku dan menemukan sumber suara. “Tanah pelindung!" seruku sambil mengeluarkan dinding tanah yang kuat dan kokoh. “Duarr!!” Suara ledakan menggelegar sampai angkasa. “Syukurlah kau menggunakan jurus ini. Tapi, bagaimana dengan Sensei Toni?” tanya Azrul. “Dia bukan pelatih karatemu. Dia palsu,” jawabku sambil menghancurkan dinding tanah buatanku sendiri. Tampak sebuah robot seukuran manusia dewasa hancur lebur akibat ledakan.


“Lumayan, bisa mengetahui trik milikku,” jawab suara itu lagi. “Bum!!” Sesuatu yang besar terhempas ke tanah, menyebabkan debu-debu beterbangan. Tampak sesosok monster yang kulihat kemarin berdiri tepat di hadapan kami. Di kedua pundaknya, masing-masing tersandar sesosok berbaju hitam bertopeng. “Serius? Kau lagi Darko?” tanyaku. “Tidak. Bukan aku yang merencanakan ini, tapi bosku. Aku hanya menemani saja.” “Benar. Akulah bos yang memerintahkan perebutan Batu Cakra, Bento!" jawab sosok berbaju hitam yang bersandar di pundak kanan A-5-RUL. “Serius? Bosnya Bento, anak buahnya Darko, monsternya A-5-RUL. Aku tak mengerti kenapa kau memilih nama-nama itu,” ujar Layla. “Bento, singkatan dari Bos Eksekutif Nomor Teri pembuat Onar! A-5-RUL, singkatan dari Antek bintang 5 Raksasa Unik dan Licik!” serunya. “Kalau Darko?” tanyaku. “Yah, aku suka nama itu. Lagi pula, bos menyetujuinya,” jawab Darko.


“Baiklah, tak perlu basa-basi lagi. A-5-RUL, serang!” teriak Bento. Monster itu pun melayangkan dua tinju besar ke arah kami. “Semuanya, menghindar!” teriakku sambil mendorong Layla dan Kak Salsa menjauh menggunakan kekuatan angin. “Roy! Kau tidak apa-apa?!” tanya Layla. “Ya! Aku baik-baik saja. Untung sempat menghindar,” jawabku. “Astaga, monster itu benar-benar kuat,” sahut Kak Salsa. “Baiklah, akan kugunakan kekuatan gabungan seperti kemarin. Aku adalah badai yang mengamuk di atas dunia! Aku, Cakra Badai!” teriakku sambil berubah. Seluruh tubuhku kembali diliputi oleh energi angin dan petir yang bersatu. “Sekarang rasakan ini! Cakaran badai!” teriakku sambil menggunakan jurus yang sama seperti kemarin. Namun setelah mengenainya, ia tidak jatuh tersungkur dan tidak terluka sedikit pun. Ia pun meninjuku dengan keras.


“A-apa? Bagaimana mungkin kau menahan serangan monsterku?!” Aku pun bangkit dengan tubuh yang terluka cukup parah. “Hhh, aku adalah Ling Royyan Fallahi! Pengendali enam elemen! Aku tak akan pernah menyerah melindungi keluarga dan teman-temanku, juga dunia ini! Walaupun sampai titik darah penghabisan!!” teriakku. “Saat keenam pilar menjadi satu, muncullah sebuah cahaya baru. Kalau aku menggabungkan semua kekuatan, aku akan semakin kuat,” batinku. Aku pun fokus pada semua kekuatan yang ada pada diriku. Tak lama kemudian, aku pun berubah menjadi sesosok manusia, namun diliputi energi berwarna putih terang layaknya cahaya matahari di siang hari. Luka-lukaku pun sembuh dengan sendirinya. “Wau, ini memang berhasil. Aku benar-benar mendapatkan kekuatan baru! Aku akan memanggil ini, Cakra Putih!” seruku. “Wau, itu sangat menakjubkan!” seru Layla dan Azrul serempak. “Yah, sepertinya ramalanku benar-benar tepat,” sahut Kak Salsa.


“Hah, itu tak akan mengubah apa pun! Aku akan menghancurkanmu! Serang!!” seru Bento dan Darko bersamaan. “Ini tak akan sama seperti tadi!” jawabku. Aku pun langsung menghindari cakaran tajam A-5-RUL dengan kecepatan yang luar biasa. Lebih cepat daripada saat menggunakan Lighning Rush. “Apa? Tidak kena?” gumam Darko dengan nada heran. “Sekarang, giliranku! Tapak putih penghancur!” teriakku sambil melayangkan serangan yang dahsyat ke A-5-RUL. “Ah!!” jerit monster itu saat ia menerima seranganku. Bento dan Darko melompat turun sebelum monster mereka menghantam dinding pabrik dengan keras “Ti-tidak mungkin aku kalah!” seru Bento. “Jadi, mengapa kau ingin merebut Batu Cakra dariku?” tanyaku yang masih dalam mode Cakra Putih.


“Hah, aku memerlukannya untuk menyembuhkan anakku. Ia memiliki penyakit yang sangat langka, Progeria. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya. Aku pun mencari ke seluruh internet bahkan ke dalam dark web, untuk menemukan sesuatu yang dapat membuatnya tetap hidup. Suatu hari, aku pun menemukan legenda tentang Batu Cakra. Batu-batu itu dapat menyembuhkan dan membuat pemiliknya abadi. Selama bertahun-tahun, aku mencari satu per satu Batu Cakra di seluruh tempat yang kuyakini terdapat batu itu. Mulai dari ujung utara hingga ujung selatan serta dari ujung timur sampai ujung barat. Akhirnya, aku menemukannya. Namun, malah kau yang mendapatkan kekuatannya. Aku tak terima akan hal itu!” teriaknya sambil menembakkan sebuah peluru kepadaku. Aku pun menghindari serangannya. Namun, ia berusaha kabur ke luar gedung. “Semburan es!!” seruku sambil menyemburkan nafas es ke arahnya. Ia dan Darko pun langsung membeku di tempat.  Azrul yang menilai situasi cukup aman langsung menelepon polisi agar para penjahat segera ditangkap.


Aku pun kembali ke wujud biasaku dan menghampiri monster A-5-RUL. Namun tak disangka, monster itu tiba-tiba berubah menjadi seorang anak lelaki seumuran denganku. Karena masih penasaran, aku pun membuka topeng miliknya. “A-Asep!!” seru kami semua terkejut. “Ya! Ini aku. Maaf karena aku sudah menyakiti kalian. Aku hanya iri dengan Roy. Dulu sebelum Roy dan kakaknya datang, aku adalah anak paling populer di sekolah. Bakatku di bidang olahraga terutama sepak bola menjadikanku sorotan para murid dan guru. Namun semenjak mereka datang, semua itu sirna. Mereka meredupkan cahayaku dan mendekatkanku pada kegelapan.”


“Suatu hari, tanpa sengaja aku bertemu Darko. Awalnya ia hanya bertanya tentangmu, Roy. Seiring waktu, aku dikenalkan dengan Bento. Bento menawarkan padaku sebuah cara agar aku dapat meredupkan cahaya yang ada dalam dirimu. Aku pun setuju dan mengikuti sebuah percobaan genetika yang dilakukannya selama liburan semester. Setelah liburan, aku pun berubah menjadi seperti yang kau lihat tadi, A-5-RUL,” jelas Asep. “Kau seharusnya tak perlu menyimpan dendam. Aku pernah mendengar sebuah ayat, ‘Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)... Surat Ali-Imron ayat 140.” Asep yang mendengar ayat itu langsung menangis tersedu-sedu, menyesal akan perbuatan. Tak lama, para polisi datang menjemput tahanan mereka.