
Beberapa hari berlalu dengan cepat. Jadwal untuk berkemah telah tiba. Aku ditugaskan untuk membawa panci, dandang, dan sutil yang digunakan untuk berkemah. Kami pun berkumpul di lapangan sambil menunggu siswa yang lain datang. Tampak lapangan sekolah dipenuhi bus pariwisata yang berjejer rapi dan siap untuk berangkat. Kami kemudian mengangkat barang bawaan kami dan meletakkannya di truk. Beberapa menit kemudian, kami naik ke bus karena semua siswa sudah tiba. Perjalanan sepanjang 60 km siap kami jalani. Kami melewati jalan-jalan ibu kota yang ramai. Setelah itu, kami memasuki tol Jagorawi yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi.
Kami pun menikmati perjalanan itu dengan hati yang senang. Ada yang tidur, ada yang mengobrol, dan juga ada yang menikmati camilannya. Aku yang cukup lelah bersandar di kursi dan bersiap tidur. “Hei, Roy! Kukira kau akan menikmati pemandangan?” tanya Layla yang berada di sebelahku. “Hoaam!! Aku sangat mengantuk. Lebih baik tidur sekarang dari pada tidur saat acara di mulai.” “Ya, terserah kau saja!” timpalnya.
***
Aku tertidur sangat lelap hingga tak sadar kalau kami sudah tiba di bumi perkemahan. Aku pun bangkit dari tempat dudukku dengan malas dan turun dari bus. “Baiklah anak-anak! ambil tas dan barang bawaan kalian, ya!” kata Bu Ayu. Kami pun mengambil tas dan barang-barang bawaan kami di truk. Setelah selesai mengeluarkan semua barang, kami masuk ke dalam bumi perkemahan. Tampak pepohonan rindang memenuhi sebagian besar perkemahan. Tampak juga sebuah pondok sederhana yang terbuat dari beton sebagai penyangga dan fondasinya, beratap namun tanpa dinding.
Kami pun meletakkan tas barang bawaan kami di sana untuk sementara waktu. Setelah itu, kami mendirikan tenda. “Roy, Syuaib, Harun! Pegang tongkatnya kuat-kuat! Kalau tidak, tenda ini tak bisa berdiri!” seru Azrul, ketua kelompokku. Aku dan dua temanku ditugaskan untuk memegangi tongkat pramuka yang akan dijadikan pilar agar tenda dapat berdiri tegak. Sementara itu, Asep menancapkan pancang kayu dengan palu. Kemudian, Azrul melilitkan tali ke pancang dan tenda agar tak goyah saat ditiup angin. Setelah selesai, kami pun mengambil tas dan barang-barang kami lalu memasukkannya ke dalam tenda.
***
Malam pun tiba, kami semua sholat Maghrib berjama’ah di pondok sederhana yang ada di dekat gerbang. Selesai sholat Maghrib, kami melanjutkan kegiatan dengan makan malam dan sholat Isya berjama’ah. Setelah selesai, hujan turun cukup deras. Kami pun bergegas kembali ke tenda masing-masing. Semua siswa pun tertidur tak terkecuali aku. Beberapa jam kemudian, aku terbangun karena ingin buang air kecil. Aku pun keluar tenda dan menuju kamar mandi yang cukup jauh jaraknya. Aku melewati tanah lapang yang penuh dengan rerumputan setinggi mata kaki. Setelah selesai kencing, aku pun kembali ke tenda.
Sosok itu tak menjawab dan langsung berlari terbirit-birit. Ia sempat terjatuh dan menjatuhkan sebuah koper. “Hei, mau ke mana kau??!!” Ia pun kembali berlari dan meninggalkan kopernya begitu saja. Aku pun mengambil dan membuka koper yang ditinggalkannya. “Yang benar saja, ini tidak dikunci?” gumamku. Saat kopernya terbuka, kulihat 5 batu berbagai warna dengan corak yang berbeda. “Sebenarnya apa ini?" sembari memerhatikan kelima batu itu dengan saksama.
Ada batu merah yang bercorak burung seperti phoenix, batu kuning bercorak macan, batu hijau bercorak ular kobra, batu coklat bercorak kalajengking, dan yang terakhir berwarna putih keabu-abuan yang bercorak elang yang mirip garuda. “Enam batu yang dapat bercahaya dengan warna dan corak yang berbeda. Ini sangat tidak normal.” Aku pun memasukkan semua batu ke koper dan membawanya kembali ke perkemahan. Namun baru dua langkah, aku terpeleset dan terbentur ke sebuah batu yang sangat keras. Semua batu itu keluar dari koper karena benturan yang hebat dengan tanah. Sambil menahan sakit akibat pendarahan di kepala, aku berusaha mengumpulkan batu yang berserakan. Darahku pun menetes ke semua batu itu. Tak lama kemudian, kepalaku pusing dan aku pun pingsan.
***
Dengan kepalaku yang masih pusing, aku mendengar guru dan teman-teman memanggilku. “Roy! Kamu di mana?! Roy!” seru mereka mencariku. “Bu Ayu, itu Roy tergeletak di dekat sungai!” seru Layla. Mereka pun menghampiriku. “Roy, syukurlah kau selamat! Kukira terjadi sesuatu!” kata Layla sambil menarik kedua tanganku agar aku bangkit. “Yah, terima kasih. Apa yang terjadi? Kenapa semua lukaku sembuh. Seingatku aku membawa koper berisi batu-batu yang aneh, lalu aku terpeleset dan kepalaku membentur batu yang sangat keras,” kataku. “Kurasa kau bermimpi, Roy! Selain itu, tak ada koper apa pun di sekitarmu. Mungkin kau hanya berjalan dalam tidur,” kata Layla menenangkan.
“Baiklah, kalau begitu ayo kembali ke perkemahan!” seru Bu Ayu. Kami semua pun kembali ke perkemahan. Kami pun melanjutkan aktivitas kemah kami. Hari ini, adalah waktunya menjelajah hutan. Kami pun membawa botol air dan bekal makanan yang dibungkus kertas minyak dan dimasukkan ke dalam keresek. Kami mulai keluar dai perkemahan dan menuju jalan setapak yang membawa kami ke dalam hutan. Kami pun berjalan hingga 2 jam lamanya. Namun kami belum juga keluar dari hutan. “Bu Ayu, bagaimana ini?” tanyaku. “Maaf anak-anak, kurasa Ibu tersesat. Di sini juga tidak ada sinyal, jadi kita tak dapat memanggil bantuan,” jawabnya. “Kalau begitu, kita akan terjebak di sini selamanya? Tidak!! Aku tidak ingin dimakan harimau!!” teriak Layla histeris. Ia membuat semua siswa panik. “Tenanglah, anak-anak! Kita akan menemukan jalan keluar,” kata Bu Ayu menenangkan. Setelah itu, sebuah sosok tak diduga muncul di hadapan kami.