
Fajar mulai menyingsing, kami pun tiba di Jakarta. Perjalanan selama 7 jam tak membuat kami lelah untuk menjelajahi kota ini. Kami pun mulai mencari apartemen yang cukup murah untuk tempat kami tinggal. Hanya beberapa kilometer dari bandara, kami menemukan apartemen yang cocok. Kami pun mengangkati barang bawaan kami ke apartemen baru kami. “Kurasa ini adalah pilihan yang tepat. Saat sebuah biji pohon keluar dari area pohon induknya, ia akan tumbuh menjadi pohon yang lebih baik dari induknya,” ujar Ibu sembari membaca isi ramalan di kartunya. Kami pun menata barang-barang bawaan kami, dan juga membersihkan diri. Setelah selesai, kami pun pergi mencari sarapan di sekitar apartemen.
Di seberang apartemen, terdapat sebuah warung soto yang cukup ramai oleh pembeli. Kami pun masuk ke warung itu dan memesan. “Jadi, kalian ingin makan apa?” tanya Ayah. “Soto ayam!!” jawabku dan Kak Salsa bersamaan. “Kurasa aku juga ikut memesan soto ayam,” sahut Ibu. “Baiklah. Mas, pesan soto ayam 4 sama teh hangat 4!” kata Ayah kepada pelayan laki-laki berkaus merah polos dan celana training bergaris merah. “Soto ayam 4, dan teh hangat 4, ya!” jawabnya sambil menulis pesanan kami. Ia pun pergi ke dapur dan memberikan pesanan kami kepada koki di dapur. Lalu si pelayan kembali melayani pelanggan lain. Tak lama kemudian, pelayan memberikan pesanan kami. Empat buah soto ayam yang masih panas, ditambah teh hangat hampir membuat kami meneteskan air liur. “Baiklah, waktunya makan! Bismillaahirrohmaanirrohiim!” kataku dan Kak Salsa serempak.
***
Setengah jam kemudian, kami menyelesaikan makan kami. Ayah pun membayar pesanan yang kami makan, “Soto ayam 4 sama teh hangat 4, ya Mas. Berapa totalnya?” “Soto ayamnya Rp. 10.000, kalau 4 berarti Rp. 40.000. Tehnya Rp. 3.000, kalau 4 berarti Rp. 12.000. Totalnya Rp. 52.000, Pak!” kata Si Kasir. “Lima puluh dua, ya. Baiklah, ini uangnya!” kata Ayah sambil menyodorkan selembar uang Rp. 50.000 dan selembar uang Rp. 2.000. Yah, untung saja kami sempat menukarkan uang Yuan dengan Rupiah sebelum berangkat ke bandara. Kalau tidak, mungkin kami akan kelaparan karena tidak bisa membeli makanan.
Kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan mobil yang kami bawa dari Cina. Kami pergi untuk mendaftar ke sekolah yang baru. Beberapa blok dari apartemen, kami pun menemukan sekolah yang menurut kami bagus. Kami pun mendaftar ke sekolah itu. Setelah mengisi beberapa formulir, kami diminta untuk melakukan tes, “Baiklah, Pak! Anaknya sekarang tinggal melakukan tes. Kalau lulus, mereka akan bisa bersekolah di sini,” “Jadi, kapan kalian siap?” tanya Ayah. “Aku siap kapan pun!” jawabku dan Kak Salsa bersamaan. “Baiklah kalau begitu, kami akan persiapkan tesnya. Dan kalian bisa tes besok,” kata guru di bagian pendaftaran. Kami pun kembali ke apartemen.
“Ayah, kenapa kita tidak jalan-jalan saja?” tanyaku dalam perjalanan pulang. “Ini kan bukan hari libur. Jadi, kita seharusnya tidak jalan-jalan. Lagi pula, bukannya kalian harus belajar untuk ujian masuk besok?” jawab Ayah. “Aku kan bisa menggunakan ramalanku,” jawab Kak Salsa. “Tak bisakah kau tak menggunakan ramalan. Kalau kau mau lulus, kau harus punya otak yang pintar sepertiku,” sahutku. “Kita lihat saja nanti!” kata Kak Salsa. “Jadi, kita makan siang apa?” tanya Ibu. “Aku tahu tempat yang pas untuk makan siang di sini,” kata Ayah dengan yakin. “Memangnya Ayah sudah pernah ke sini?” tanyaku. “Tentu saja, Ayah kan lahir dan dibesarkan di kota ini.” “Yah, terserah!” jawabku.
***
“Rendang adalah masakan daging asli Indonesia yang berasal dari Minangkabau. Masakan ini dihasilkan dari proses memasak suhu rendah dalam waktu lama menggunakan aneka rempah-rempah dan santan. Rasanya yang gurih dan aromanya yang enak, membuat orang tak kuat menahan air liurnya.” “Kurasa Ayah sedikit berlebihan,” kata Kak Salsa. “Biarkan saja. Dia hanya membanggakan kampung halamannya,” sahut Ibu. Kami pun terkejut ketika pelayan membawa semua pesanan kami menggunakan kedua lengannya tanpa nampan. “Ini rendangnya, Pak!” katanya sambil meletakkan piring-piring yang dibawa olehnya. Tak lama kemudian, es teh kami pun datang.
Sebelum kami makan, sesuatu yang tak terduga terjadi, “Hei, Fattah! Lama tidak bertemu,” seru seorang pria tambun berusia 30-an dengan menggandeng anak perempuan berambut pirang seumuranku. “Wah, Ghazali! Tak kusangka akan bertemu denganmu lagi di sini!” jawab Ayah sambil berjabatan tangan dengannya. “Ayah, dia siapa?” tanyaku. “Ah, ini teman lama Ayah. Oh iya, perkenalkan ini istri dan anak-anakku. Apakah ini anakmu?” tanya Ayah sambil menunjuk gadis berambut pirang yang dikuncir dua itu. “Iya, ini anakku. Namanya Layla. Layla, salim ke om Fattah ya?” jawab teman Ayah. “Ya,” jawab gadis itu. Ia pun menjabat tangan Ayah dan meletakkannya di keningnya. “Oh iya, ngomong-ngomong di mana istrimu?” tanya Ayah. “Dia sudah meninggal saat melahirkan Layla,” jawabnya dengan tatapan sedih. “Innalillahi wainnailaihi raji’un. Maaf, aku tidak tahu,” kata Ayah dengan terburu-buru.
“Tidak apa-apa. Oh iya, mengapa kalian ke Indonesia? Terakhir kudengar, kau pergi ke Cina untuk melanjutkan S1-mu,” tanyanya. “Yah, sebenarnya aku sudah merencanakan ini sejak lama. Namun, baru beberapa hari lalu aku lulus S2,” jawab Ayah. “Wah, jadi kau sudah lulus S2, ya. Selamat!! Oh iya, kau rencana mau kerja ke mana?” “Aku tidak tahu. Aku masih mencari lowongan,” jawab Ayah. “Kalau begitu, kerja bersamaku saja. Kebetulan di kantorku ada posisi kosong,” tawarnya. “Wah, pas sekali. Besok aku akan ke kantormu.” Kami pun makan bersama dalam suasana yang menyenangkan. “Hei, aku Roy. Senang berkenalan denganmu.” “Senang berkenalan denganmu, aku Layla,” jawabnya sambil tersenyum.