
PAS sudah selesai, jadwal berkemah kami pun sudah kami lalui. Hari ini dan besok adalah pertandingan antar kelas. Kami semua bersemangat, terutama aku. Hari ini lomba yang dilaksanakan adalah lomba robotik, pidato, dan juga puisi. Aku tentu saja mengikuti lomba robotik. Selain aku, Layla juga mengikuti lomba robotik. Sementara itu, kebanyakan siswa memilih mengikuti lomba pidato. Sedangkan sisanya mengikuti lomba puisi. Pertandingan pun dimulai. Para peserta robotik diminta untuk membuat dari barang-barang yang ada di gudang sekolah. Kami semua berebutan untuk mendapatkan barang-barang yang ada di gudang.
Dengan keadaan yang sangat ramai, aku mengambil barang apa pun yang dapat kujangkau. Aku mengambil helm, beberapa kabel, aki, beberapa pipa paralon, dan beberapa komponen komputer yang semuanya bekas. “Untuk apa sekolah menyimpan barang-barang ini?” batinku dalam hati. Layla yang hanya menunggu di luar gudang terkejut ketika aku hanya membawa barang-barang itu. “Apa??!! Hanya ini yang bisa kau dapatkan!! Helm bekas! Kabel bekas! Pipa tua! Aki bekas! Dan komponen komputer bekas! Astaga, apa yang akan kita buat dengan ini?” keluhnya. “Tenang saja. Walaupun bekas, barang-barang ini masih cukup bagus. Selain itu, silakan berdesak-desakan dan ambil barang yang kau inginkan. Itu pun kalau kau mau,” jawabku. “Baiklah, terserah! Jadi, apa yang akan kita buat?” Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalaku.
“Bagi peserta yang sudah mendapatkan barang-barang yang diperlukan, silakan mencari tempat untuk merakit robot. Boleh di lab, lapangan, maupun kelas. Yang terpenting, jangan keluar dari daerah sekolah! Kalian boleh meminjam peralatan yang dibutuhkan di lab,” kata Pak Zainal, penanggung jawab lomba ini menggunakan toa yang dipegangnya. Suaranya yang tegas dan perawakannya yang tinggi, jelas mengundang perhatian semua peserta.
“Baiklah. Layla, ayo pergi ke kelas. Siswa yang lain pasti sedang mengikuti lomba,” ajakku sambil berbisik. “Kita tidak mengambil peralatan di lab dulu?” “Kalau kau punya kekuatan super kenapa harus pakai peralatan,” bisikku. “Bukankah itu namanya curang?” “Yah, seperti yang kubilang tadi. Silakan berebut dan berdesak-desakan di lab. Aku pergi ke kelas dulu,” ujarku sambil melangkah ke kelas. “Baiklah, aku ikut. Tunggu aku!” ujarnya sambil mengikuti langkahku.
Kami pun masuk ke kelas. Sesuai dugaan, kelas kosong melompong tanpa adanya siswa maupun guru. “Wah, kelas ini benar-benar kosong. Kalau begitu, ayo mulai merakit!” kata Layla. Kami pun menyusun satu per satu barang-barang yang kami ambil ke atas meja. “Jadi, bagaimana kita merakitnya?” “Tenang saja, aku punya ide,” jawabku sambil mengambil helm. Aku melubangi kedua sisinya menggunakan cutter yang kubawa di tas. “Astaga, benda ini keras sekali. Bahkan cutter milikku yang paling tajam pun tak bisa menembusnya,” gumamku.
“Kalau begitu, lelehkan saja menggunakan api,” kata Phoenix. “Baiklah, rasakan ini helm tua! Bola api!!” seruku sambil mengeluarkan api dari tanganku. Aku pun menyesuaikan bentuk api dan memanaskan suhunya. Tak lama kemudian, api pun melubangi helm yang keras itu. “Wah, jadi kau punya kekuatan api!” kata Layla. “Ya. Aku baru menguasainya tadi pagi.” “Roy! Helmnya terbakar!” teriak Layla panik. “Dasar helm nakal! Semburan es!” aku meniup api itu dengan nafas es yang sudah kusesuaikan intensitasnya. Api pun padam dan kelas tidak membeku. “Bagus, selanjutnya apa?”
“Ambilkan pipa-pipa itu!” jawabku. “Ini!” kata Layla sambil memberikan pipa-pipa itu padaku. Aku pun menerima pipa-pipa itu dan menyambungkannya satu persatu sehingga membentuk tangan robot. Aku memperkuat sambungannya dengan melelehkan sedikit bagian pipa yang ujung-ujungnya tersambung. “Nah, kedua tangan sudah siap!” seruku. “Wah, hebat. Bagaimana kamu melakukannya?” “Tentu saja kulelehkan dengan kekuatan apiku. Aku hanya menggunakan sedikit sekali kekuatan agar pipanya tak terbakar. Setelah meleleh, aku langsung mendinginkannya dengan semburan es yang sangat kecil,” jawabku panjang lebar.
“Baiklah. Sekarang berikan aki dan kabelnya! Aku akan membuat rangkaian listrik agar robot ini bisa menyala. Oh iya. Kalau bisa, sekalian buatkan program untuk robot ini! Programnya meliputi bicara, bergerak, dan merespons.” “Siap!!” jawab Layla. Ia pun memberikan aki dan kabel lama itu. Kemudian, ia pergi ke lab komputer untuk membuat program bagi robot ini.
***
Beberapa jam berlalu. Sebentar lagi, adzan Dhuhur akan dikumandangkan. “Hah-hah-hah! Ini-programnya-sudah-selesai,” kata Layla sambil terengah-engah. Ia pun memberikan flash disk yang berisi program yang aku minta. “Baiklah, sekarang tinggal memasukkan program ini ke dalam robot. Kemudian, robot ini akan berfungsi dengan baik,” kataku. “Memangnya bisa? Robot ini kan tidak memiliki microphone ataupun speaker,” tanya Layla. “Tenang saja, aku sudah menambahkan microphone, speaker, bahkan kamera yang berasal dari komputer bekas tadi,” jawabku.
“Pemrograman selesai!” kata robot itu. Robot itu pun terbang sekitar 15 senti dari meja. “Hai, perkenalkan. Aku Helmbot. Senang bertemu kalian,” kata robot itu memperkenalkan diri. “Serius, Helmbot? Dari mana kau mendapat ide itu?” tanyaku. “Mudah saja, dia berasal dari helm. Dan dia sebuah robot. Jadi, aku menamainya Helmbot,” jawab Layla. “Oh iya, bagaimana robot ini bisa terbang?” tanyanya. “Aku tadi sempat mengambil 2 pengering rambut. Aku pun mengotak-atiknya hingga seperti ini,” jawabku. Kemudian, adzan Dhuhur berkumandang. Kami pun mematikan Helmbot dan pergi sholat Dhuhur berjama’ah di masjid.
Ada mobil yang bisa berjalan sendiri, ada yang membuat senter yang menyala sesuai pencahayaan, dan lain sebagainya. “Kelas 4B, silakan demonstrasikan robot kalian!” Tiba giliranku dan Layla mendemonstrasikan robot kami. Kami pun mengaktifkan robot kami. Robot kami pun menyala dan terbang setinggi satu meter dari atas tanah. “Hai, perkenalkan. Aku Helmbot. Senang bertemu kalian,” kata robot itu memperkenalkan diri di hadapan para juri. Para murid dan guru yang menyaksikan langsung bertepuk tangan melihat robot kami. Robot kami pun dinilai sebagai yang terbaik dan mendapat juara satu. Untung saja juri tak menanyakan terkait peralatan yang kami gunakan. Hasilnya sangat memuaskan. Tak sia-sia aku menahan lapar saat jam istirahat pertama tadi. Setelah selesai, kami pun kembali ke rumah masing-masing.
***
Fajar kembali menyingsing, hari baru dimulai lagi. Aku, Ayah, dan Kak Salsa pergi ke taman untuk berlatih. “Baiklah, Roy! Hari ini adalah latihan pernafasan dan juga kecepatan. Kalian harus berlari mengelilingi taman ini!” kata Ayah. “Bagus, aku yakin Kak Salsa tak dapat menyusulku.” “Oh ya? Kita lihat saja nanti!” jawabnya. “Bersiap! Bersedia! Prrtt!!” Ayah membunyikan peluitnya. Aku pun bergegas berlari untuk mengalahkan Kak Salsa. Namun, ternyata Kak Salsa jauh lebih cepat dari yang aku duga. “Astaga, cepat sekali. Apa ada cara untuk mengalahkannya?” gumamku.
“Tentu saja gunakan kekuatan petirmu. Kau akan dapat berlari secepat kilat,” kata Si Macan Petir. “Baiklah, akan aku coba! Aku adalah petir yang menyambar keras dan menakuti para penjahat. Aku, Macan Petir!” teriakku sambil berubah menjadi manusia setengah kucing. Kulitku ditumbuhi bulu-bulu berwarna biru keunguan. Tulang ekorku kembali memanjang dan berubah menjadi ekor kucing. Tangan dan kakiku pun ditumbuhi cakar-cakar yang panjang. Sepasang telinga hewan muncul di kepalaku yang tertutup rambut berwarna ungu. Sementara itu, telinga normalku seperti menghilang tertutup bulu.
“Yang benar saja. Kukira ini kekuatan macan, ternyata malah kekuatan kucing,” gumamku kecewa. “Hei, bentuk macan dan kucing itu mirip tahu!! Sudahlah, cepat susul dia!” bentaknya. “Baiklah!! Hyaa!!” Aku pun berlari dengan sangat cepat hingga tak menyadari aku sudah melewati Kak Salsa. “Wau, ini sangat cepat! Apa nama jurus ini?” “Aku tak pernah menamainya. Namun, ini adalah salah satu cara tercepat untuk berlari, kan?” katanya. “Ya. Kalau begitu aku akan menamainya Lightning Rush!” seruku.
Kemudian, “Brukk!!” Tanpa kusadari aku keluar lintasan dan menabrak pohon. “Aduh!!” jeritku kesakitan. “Kurasa kau terlalu cepat!” sindir Kak Salsa sambil melanjutkan larinya. “Akan aku tunjukkan apa itu cepat!” aku pun menggunakan Lightning Rush dan melewati Kak Salsa. Saat aku melewatinya, ia sampai berputar-putar tak terkendali. “Maaf, Kak! Lebih baik kau dipinggir jalan dari pada ditabrak!” balasku menyindir.
Setelah melakukan rutinitas pagi kami, kami pun pergi ke sekolah dengan bersepeda. Kemudian seperti biasa, Kak Zidan berangkat berbarengan dengan kami. Sesampainya di sekolah, lomba pun dimulai. Hari ini, adalah lomba yang dilakukan di luar ruangan. Ada lomba bulu tangkis, lomba lari, lomba voli, dan juga lomba futsal. “Ah! Sayang sekali mereka tidak mengadakan lomba silat!” keluhku. “Jangan khawatir, Roy! Kita masih bisa menonton pertandingan yang lain, bukan?” hibur Layla. “Yah, kurasa itu benar,” jawabku dengan muka yang masih murung. Tak lama kemudian, sebuah insiden mengejutkanku. “Gol!! Asep dari tim kelas 4B mencetak gol di 5 menit pertama!! Ini adalah awal yang bagus bagi tim kelas 4B!” kata komentator paling kocak di sekolah, Bu Ayu, wali kelasku. “Yang benar saja! Bu Ayu yang jadi komentatornya?!”
“Tentu saja, dia sudah menjadi komentator pertandingan futsal di sekolah ini selama bertahun-tahun,” jawab Layla. Aku pun menjadi bersemangat untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. “Tak peduli bagaimanapun pertandingannya, kelasku yang akan menang. Saat prajurit terhebat gugur dalam pertempuran, maka seluruh pasukan akan hancur ditelan kesedihan,” kata Kak Salsa sambil membaca isi kartunya dari dalam kelasnya. Beberapa menit sebelum babak kedua berakhir, Asep tersandung oleh kaki kakak kelas yang berusaha merebut bolanya. Ia pun cedera cukup parah. Aku dan Layla pun menghampiri Asep. “Apakah kau masih dapat melanjutkan pertandingan?” tanya Pak Zainal sebagai wasit. “Tidak!! kakiku sangat sakit!!” jawabnya.
“Waduh, bagaimana ini? Kalau Asep cedera, kita akan kekurangan pemain. Selain itu, kita tidak punya pemain cadangan!” sahut Bintang, teman sekelasku. “Kalau begitu, aku saja yang menjadi pemain cadangan,” tawarku. “Yah, kurasa kita tidak memiliki pilihan lain,” katanya. Aku pun masuk ke lapangan dengan dada yang berdebar-debar. Karena Asep cedera, aku menggantikan posisinya sebagai penyerang utama. “Baiklah! karena kejadian tadi adalah pelanggaran, tim kelas 4B silakan mengambil posisi untuk melakukan tendangan bebas!” kata Pak Zainal. Aku pun mengambil ancang-ancang sebelum menendang. kakiku gemetar tak karuan saat bersiap menendang. “Tak usah cemas. Kalau kau menggunakan kekuatan angin, kau akan dapat menendangnya sangat keras. Sama seperti saat kau meninju penjahat itu,” kata Garuda. “Menggunakan kekuatan angin, ya!” batinku. Aku pun memfokuskan pikiranku pada kekuatan angin. Tanpa kusadari, mataku berubah warna dan menjadi putih keabu-abuan.
“Baiklah! Rasakan ini!! Tendangan penghancur!!” teriakku sambil menendang bola dengan kekuatan penuh. Saking kuatnya, bola itu malah melambung keluar lapangan. “Eh?!” gumamku keheranan. Waktu pun berjalan dan akhirnya babak kedua usai. Timku kalah dengan skor 2-1. “Yah, lumayan. Untuk seorang pemula tendanganmu sangat kuat!” sindir Asep. “Hmm, sudah kuduga! Ramalanku, tidak pernah salah!” kata Kak Salsa yang dari tadi menonton dalam kelasnya. “Yah, kurasa aku tak dapat menendangnya dengan baik tadi. Namun, aku sudah berhasil menguasai kekuatan angin tadi,” batinku. Kami pun mengikuti pengumuman pemenang yang diadakan setelah makan siang. Setelah mengikutinya, kami pulang ke rumah dengan hati yang lapang. Sebentar lagi, liburan yang menyenangkan akan dimulai.