
Setelah mengalami hari yang sulit, kami kembali ke perkemahan. Sesampainya di sana, adzan Ashar berkumandang. Kami pun sholat Ashar berjama'ah. Selesai sholat, kami pun bergiliran memasak dan membersihkan diri. Malam ini, kelompokku akan memasak tumis kangkung dan ayam goreng tepung. Aku ditugaskan untuk memasak nasi, Azrul memotong sayur, sedangkan Harun menggoreng ayam. Sementara itu, Syuaib izin untuk mandi terlebih dulu. Selesai mandi, ia pun membantu kami hingga semua hidangan matang.
Selesai memasak, kami pun mengantre untuk mandi. Sembari mengantre, kami mengobrol berbagai hal hingga tak terasa kami sudah menghabiskan setengah jam. “Anak-anak! 15 menit lagi waktunya sholat! Segera wudhu dan siapkan peralatan sholat kalian!” seru Bu Ayu melalui pengeras suara. Kami pun mandi dengan tergesa-gesa. Selesai mandi, kami langsung berwudu dan bersiap sholat.
Adzan Maghrib dikumandangkan oleh Harun dengan merdu. Tak disangka, Harun yang pendiam ternyata memiliki suara semerdu ini. Kami pun sholat Maghrib berjama'ah. Setelah itu, kami makan malam bersama. “Makanannya sangat enak. Kerja bagus, semuanya!” puji Syuaib. “Yah, memang enak. Tapi kita menghabiskan waktu terlalu lama untuk memasak nasinya. Selain itu, membersihkan kangkung juga menghabiskan setengah jam,” sahut Azrul.
“Itu benar. Kalau kita memasak seperti tadi, mungkin kami bisa terlambat di kegiatan lain,” batinku. Tiba-tiba, aku kembali masuk ke dalam pikiranku kembali. “Yang benar saja. Kau bingung dengan memasak? Kenapa kau tidak gunakan saja kekuatan kami?” tanya Phoenix. “Aku belum bisa mengendalikan kekuatan kalian. Lagi pula, aku juga baru membebaskan kalian hari ini. Rasanya agak aneh jika aku memanfaatkan kalian di hari pertama kalian bebas,” jawabku.
“Aku tidak menyangka masih ada manusia yang tidak egois sepertimu. Andai semua manusia sepertimu, tuan! Mungkin kami tidak berkelahi dan meninggalkan rakyat kami sendirian. Tanpa seorang pemimpin yang mampu melindungi mereka,” kata Scorpion. “Takdir semua makhluk dan seluruh alam semesta sudah ditentukan. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan mengubahnya. Jadi, tak perlu berandai-andai dan menyesali masa lalu. Bukankah lebih baik jika kita memperbaiki diri agar tak mengulangi kesalahan yang sama?” tanyaku. “Sshhs! Ternyata kau lebih bijak dari yang kukira,” jawab Kobra. “Benar. Kami merasa sangat beruntung dapat bertemu dan melayanimu,” sahut Garuda. “Kalau begitu, tolong bantu aku, makhluk-makhluk yang dianugerahi kekuatan oleh Sang Pencipta!”
***
Fajar menyingsing, pagi pun tiba. Hari ini adalah hari di mana kami akan pulang. Setelah memasak dan sarapan hidangan sederhana, kami memasukkan tas dan barang bawaan ke dalam truk. Kemudian, kami naik bus dan pulang. Sesampainya di sekolah, kami sudah ditunggu oleh orang tua kami masing-masing. Aku pun pulang dengan keluargaku sambil membawa barang bawaan. Di perjalanan, Ibu bertanya kepadaku, “Roy, sepertinya perkemahanmu sangat menyenangkan. Oh iya, kau mendapat sebuah kejutan besar, kan?”
“Ba-bagaimana Ibu tahu?” tanyaku dengan gagap karena terkejut. “Ibu kan peramal. Insting Ibu selalu tepat,” jawabnya. “Jadi, bagaimana rasanya? Punya kekuatan hebat?” tanya Kak Salsa. “Menyenangkan, tapi aku masih belum bisa mengendalikannya,” jawabku. “Tenang saja, Ayah akan membantumu agar kau bisa mengendalikannya.” “Ya! Terima kasih, Ayah!” Kami pun kembali ke apartemen dengan perasaan yang sedikit aneh. “Bos! Saya sudah menemukan tempatnya!” kata seseorang berpakaian gelap dalam mobil Avanza hitam yang diparkir di pinggir jalan. “Baiklah, tetap awasi dia!” kata sebuah suara di telepon sebelum ditutup.
***
“Menembak ya? Kusarankan kau menggunakan kekuatanku, kekuatan api,” ujar Phoenix. Aku pun kembali masuk ke dalam pikiranku yang diisi berbagai monster sekarang. “Jadi, bagaimana caranya? Aku saja tak bisa mengendalikan penyembuhanku. Bagaimana aku bisa menembak target menggunakan kekuatan api?” tanyaku. “Mudah saja, kosongkan semua pikiranmu. Kemudian, fokuslah pada kekuatan api yang membara dalam dirimu.”
Aku pun kembali ke dunia nyata dan melakukan apa yang disarankan Phoenix. Kukosongkan semua pikiran. Aku hanya fokus pada api. Tak lama kemudian, aku merasakan panas membara yang berasal dari tubuhku. “Aku adalah api abadi yang akan membakar kejahatan di dunia ini! Aku, Phoenix Api!” seruku sambil berubah menjadi manusia setengah burung. Setelah berubah, aku memiliki 2 sayap di punggungku dan kakiku berubah menjadi cakar. Rambutku pun berubah menjadi merah kekuningan.
“A-aku berhasil. Aku berubah menjadi Phoenix!” seruku. Ayah dan Kak Salsa pun bahagia mendengarnya. “Baguslah. Nah, sekarang tembak target-target itu dengan apimu yang membara!” perintah Ayah. “Baik!!” aku pun menembakkan beberapa bola api dari tanganku. “Rasakan ini! Bola api!” aku melemparnya dan langsung mengenai target-target itu hingga terbakar.
“Wau, ini sangat hebat. Apa aku bisa menggunakan kekuatan yang lain?” batinku dalam hati. “Tentu saja. Sshhs! Selama kau bisa fokus pada kekuatanmu, kau bisa menggunakan seluruh kekuatan. Bahkan mungkin kau bisa menggabungkannya,” kata Kobra. “Baiklah, sekarang aku mau coba sesuatu yang dingin,” jawabku. Aku pun kembali mengosongkan pikiran dan fokus pada kekuatan es. “Aku akan memadamkan api dendam yang membakar dunia ini! Aku, Naga Biru! Sang penguasa air dan es!”
Aku pun berubah menjadi manusia setengah naga sekarang. Kulitku berubah menjadi sisik biru muda yang keras, tulang ekorku pun memanjang dan menjadi ekor naga. Sepasang tanduk turut tumbuh di kepalaku yang tertutup rambut biru muda. “Rasakan ini. Semburan es!” kataku sambil menyemburkan nafas es yang membuat semua target membeku. “Kurasa dia terlalu bersemangat,” kata Ibu yang melihat latihanku sembari memasak di dapur. “Baiklah, sepertinya latihannya sudah cukup. Kita harus mencairkan semua es yang ada di sini. Kalau tidak, kita akan sangat dicurigai,” kata Ayah.
“Bukan masalah. Phoenix Api!” kataku sambil berubah kembali sebagai Phoenix. “Jadi, apa yang akan kau lakukan dengan itu?” tanya Kak Salsa. “Aku akan mencairkan es di sini dengan memanaskan udara,” jawabku. Kemudian aku fokus mengalirkan panas dari tubuhku ke lingkungan sekitar yang beku akibat seranganku. “Pemanasan maksimal!” seruku sambil mengeluarkan dan mengalirkan panas secara teratur. Tak lama kemudian, es pun mulai mencair. Setelah semuanya selesai mencair, kuhentikan pencairan dan kami pun kembali ke apartemen dan bersiap untuk berangkat ke sekolah maupun kantor.