The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin

The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin
Bab 2: Legenda Keluarga Peramal



Saat aku masih kecil, aku sering mendengar cerita ini dari ibuku. Dahulu kala, Ling Fujirou, seorang penyihir dan peramal terkemuka, memiliki 2 orang anak. Yang perempuan diberi nama Ling Annchi dan yang laki-laki diberi nama Chen Fujirou. Si anak perempuan diajari cara meramal. Sedangkan Si anak laki-laki diajari sihir dan cara bertarung. Selama beberapa generasi, kedua keluarga itu hidup berdampingan. Namun entah karena suatu kejadian, keluarga Ling dan Fujirou terpisah.


Keluarga Ling memilih menetap di negeri yang disebut negeri tirai bambu sekarang ini. Sementara itu, Keluarga Fujirou memilih untuk berkelana untuk membantu orang-orang menggunakan sihir mereka. Namun, hal tragis terjadi pada keluarga Fujirou. Mereka semua mati dibunuh oleh iblis jahat, Kurogakejigumo. Keturunan keluarga Fujirou yang terakhir, Rey Fujirou menyegel Kurogakejigumo dalam artefak ajaib yang disebut Gold Prison. Hinga saat ini, tak diketahui keberadaan Rey Fujirou dan artefak ajaibnya. “Baiklah anak-anak, ayo kita mulai kelas hari ini!” seru Bu guru membuyarkan lamunanku.


“Hari ini, kita punya teman baru. Ayumi, perkenalkan dirimu!” Kemudian seorang gadis berambut hitam panjang masuk. Ia mengenakan kaos hitam lengan pendek dengan corak putih di sekitar leher dipadukan dengan rok berwarna merah muda yang serasi dengan warna sepatunya dan sebuah topi rajut alias  bobble hat berwarna hitam. Ia berdiri di samping Bu guru yang mengenakan seragam coklat muda. “Hai, perkenalkan aku Ayumi. Aku baru pindah dari Jepang,” ucapnya dengan bahasa Cina yang agak patah-patah.


Walau begitu, semua anak mengangguk-angguk, memahami apa yang dikatakan Ayumi. “Baiklah Ayumi, silakan duduk di kursi yang kosong,” kata Bu guru dengan lembut. Ayumi pun mencari kursi yang terlihat kosong. Ia memilih kursi kosong di sebelahku, “Bu guru, aku ingin duduk di sini!” “Baiklah. Semuanya, tolong berteman dengan Ayumi ya!!” kata Bu guru. “Baik!!” kata semua anak secara serempak. “Baik…” kataku dengan malas. Ayumi pun duduk di sebelahku.


***


“Kriing!!” Bel istirahat berbunyi. Aku pun bergegas pergi ke kantin untuk membeli camilan kesukaanku, burger ayam yang berisi daging ayam berbentuk pipih, selada, tomat, juga saus yang menggiurkan selera. Namun belum sempat aku beranjak dari tempat dudukku, Ayumi memintaku mengajaknya berkeliling, “Roy, bisakah kamu mengajakku berkeliling? Aku belum hafal ruangan-ruangan di sekolah ini.” Ya, kurasa tak ada pilihan lain selain mengajaknya berkeliling.


“Baiklah. Kalau begitu, ayo kita ke kantin terlebih dulu!” Aku langsung menggandeng tangannya dan pergi ke kantin. Aku hanya bisa berharap masih ada satu burger untuk kubeli. “Nah, kita sampai. Inilah kantin sekolah kita!” “Wah, ini sangat besar!” kata Ayumi sambil memandangi bangunan kantin. “Ayo cepat! Kalau tidak, makanannya akan habis!” seruku sambil menarik tangannya ke dalam kantin. “Baiklah!!” jawabnya.