
Hari Senin, hari yang tak kunantikan akhirnya tiba. Sekolah pun kembali dimulai. Setelah sarapan, aku dan Kak Salsa berangkat sekolah dengan bersepeda. Namun tentu saja, para warga mengerumuni kami untuk meminta tanda tangan dan berfoto. “Astaga, seandainya ada cara untuk membelah diri atau membuat tiruan,” batinku. Aku pun terpaksa menggunakan kekuatan angin untuk melompati kerumunan warga. Namun, para warga selalu mengikuti aku pergi. Aku pun tak punya pilihan lain dan langsung berlari menggunakan Lightning Rush sambil meninggalkan sepedaku. Para warga pun kewalahan karena tak sanggup mengejarku. Aku pun tertawa melihat tingkah mereka sambil melihat ke belakang.
“Awas, di depanmu!” teriak Macan Petir. Aku pun kaget saat ada bapak penjual cireng menepi di pinggir jalan sambil melayani anak-anak yang membeli dagangannya. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung melompat menggunakan kekuatan angin. Penjual cireng dan anak-anak itu takjub saat aku melompat di atas mereka. “Kurasa lebih baik kau terbang saja, Roy!” kata Phoenix dan Garuda bersamaan. “Baiklah! Waktunya, Garuda Angin!” teriakku sambil berubah menjadi manusia setengah burung berwarna putih keabu-abuan. Aku pun terbang di atas langit Jakarta.
“Yang benar saja, bentuk Phoenix dan Garuda tidak berbeda. Hanya warnanya saja yang berubah,” gumamku. “Tentu saja sama! Kami sama-sama burung, kau tahu!” teriak keduanya bersamaan. “Iya-iya. Kalian kan tak perlu berteriak seperti itu,” kataku. Setelah beberapa menit terbang, sebuah suara mengganggu penerbanganku. “Hehehe! Cepat serahkan uangmu, anak kecil!” kata seorang preman kepada beberapa anak yang sedang berangkat sekolah. Aku pun langsung mendarat ke sumber suara itu.
“Yang benar saja! Kalau kalian ingin mendapat uang, cepat cari kerja sana! Jangan menakuti anak kecil seperti ini!” “Heh, kau pasti Si Bocah Super itu, ya! Aku takkan takut padamu! Rasakan ini! Katanya sambil mengeluarkan sebuah pisau tajam dan mengarahkannya ke perutku. Aku pun menghindar dan langsung meninjunya begitu ada kesempatan. Ia pun terpental beberapa meter setelah menerima tapak penghancurku. “Aduh!! Semuanya, ayo cabut!!” kata preman itu ke teman-temannya. Mereka semua pun kabur dariku. “Te-terima kasih!” kata gadis berhijab yang seumuran denganku.
Ia juga mengenakan seragam merah putih yang serupa denganku. “Ya, sama-sama,” jawabku. Aku pun pamit pergi dan kembali terbang ke sekolah. “Ternyata menolong orang itu menyenangkan, ya!” gumamku. Tak lama kemudian, aku tiba di sekolah. Aku pun mendarat di gerbang sekolah. Para siswa yang melihatku langsung mengerumuniku meminta tanda tangan. “Astaga, yang benar saja! Kenapa semua orang ingin mendapat tanda tanganku?” batinku.
“Baiklah, akan kutanda tangani satu per satu!” jawabku menanggapi permintaan mereka. Mereka pun langsung berbaris dengan rapi. Aku pun memberi tanda tangan kepada mereka semua. “Hah, akhirnya mereka semua pergi,” gumamku. “Wah, sepertinya kau punya hari yang sibuk, Roy!” kata Layla. “Bagaimana tidak sibuk? Setiap aku pergi ada yang ingin minta tanda tangan. Hah, benar-benar menyebalkan!” “Oh, iya. Roy, apakah kau tahu kalau Bu Ayu sudah keluar dari sekolah ini?” tanya Layla. “Aku tidak tahu. Tapi kenapa ia keluar? Memangnya ia tak suka dengan sekolah ini?” “Dari yang kudengar, ia dipindahkan ke kampung halamannya di Jawa Timur. Yah, namanya juga guru PNS,” ujar Layla.
Tanpa disadari, kami tiba di kelas. Beberapa teman kami yang sudah tiba menyapa kami. “Hei, Roy! Selamat atas pelantikanmu menjadi pahlawan super! Hahaha!” sindir Azrul. “Yang benar saja, itu bukan pelantikan! Tapi penghinaan! Bagaimana mungkin pahlawan super sepertiku bisa terekam oleh sorang turis semudah itu? Astaga, itu sangat memalukan!” jawabku kesal. “Tenang saja. Berkat video itu, semua orang jadi menyukaimu,” sahut Asep. Tak lama kami mengobrol, bel pun berdering menandakan upacara akan dimulai. Kami semua pun pergi ke lapangan untuk melaksanakan upacara.
Kepala sekolah mengisi amanat saat upacara hari ini. Setelah upacara, kami kembali ke kelas masing-masing. Sesampainya di kelas, kami disambut oleh guru baru kami, Bu Esti. Ia mengenakan seragam berwarna khaki alias cokelat muda satu setel dan sebuah tanda nama yang tertera di bagian kiri atas, membuat kami tahu namanya. Rambut hitamnya yang pendek, membuat kami sempat mengira dia adalah laki-laki saat melihatnya dari belakang. Namun saat berbalik, wajahnya yang cantik dan murah senyum jelas menjelaskan kalau dia adalah perempuan. “Wah, kalian semua sudah datang, ya! Silakan masuk ke kelas!” katanya. Kami pun masuk kelas dan duduk di bangku yang kami pilih.
“Baiklah. Perkenalkan, saya Bu Esti. Senang bertemu kalian semua. Sekarang, ayo kita perkenalkan diri masing-masing!” ajaknya dengan suara yang lembut dan enak di dengar. Kami pun maju satu per satu dan memperkenalkan diri kami. Ketika tiba giliranku, aku pun maju ke depan kelas. “Hai, aku Ling Royyan Fallahi. Panggil aku, Roy! Akulah Si Bocah Super yang kalian lihat di TV dan berita,” kataku dengan lantang. “Katanya tidak senang, tapi malah memperkenalkan diri seperti itu,” gumam Layla di bangkunya. “Wah! Kalau begitu, Ibu boleh minta tanda tangannya?” tanya Bu Esti. “Kami juga!” teriak seisi kelas kepadaku. “Baiklah, berbaris yang rapi. Aku akan tanda tangani semuanya!” kataku.
Tak lama kemudian, gadis itu kembali sadar. “Ah, di mana aku?” gumamnya. “Kau ada di UKS,” jawabku. “Ah! Roy Si Bocah Super! Ah! Maaf! Aku merepotkanmu, ya!” serunya panik. Ia sampai terbangun dari posisi tidurnya karena terkejut. Wajahnya merah padam menahan rasa malu. “Tenang saja, kami ini teman-temanmu. Jadi, kami akan ada untuk membantumu. Oh iya, ngomong-ngomong siapa namamu?” tanyaku. “Emm, aku Sarah. Aku dari Jogja,” jawabnya dengan muka tertunduk karena menahan malu.
“Ah, ternyata kau murid pindahan, ya! Senang bertemu denganmu! Saya Bu Esti, wali kelas barumu!” sahut Bu Esti. “Boleh... Emm... Tanda tangan?” tanya Sarah dengan gugup. Ia menyodorkan sebuah bolpoin dan buku catatan kecil kepadaku. “Baiklah. Akan kutanda tangani,” jawabku sambil mengambil bolpoin dan buku catatan itu. “Ah! Makasih! Ah! Maaf! Aku terlalu semangat, yo?” tanyanya. “Kurasa sedikit,” sahut Layla. Kami pun kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran.
Bel kembali berdering. Istirahat pertama pun dimulai. Aku langsung ke kantin dan membeli camilan kesukaanku. Lumpia isi ayam dengan saus asam manisnya dengan enak, membuatku jatuh hati saat gigitan pertama. Setelah membeli, aku pun kembali ke kelas menggunakan Lightning Rush. “Apa dia selalu seperti ini?” tanya Sarah ke Layla. “Tidak. Biasanya dia tidak menggunakan kekuatannya di depan orang-orang,” jawab Layla. Mereka berdua turut pergi ke kantin untuk membeli makanan layaknya siswa lain. Tak lama kemudian, aku mendengar sebuah teriakan dari jauh, “Tolong! Dompetku dicopet!” Aku pun langsung terbang menuju ke sumber suara tersebut menggunakan kekuatan angin.
“Wah, itu, Roy!” seru para siswa dari bawah. Aku pun mendarat di tempat suara itu berasal. Seorang Ibu berhijab sedang menangis tersedu-sedu. “Ada apa? Mengapa Ibu menangis?” tanyaku. “Dompet saya dicopet, dik! Hiks!” jawab Ibu itu. “Ke mana pencopetnya pergi, Bu?” tanyaku. “Ke sana!” katanya sambil menunjuk ke arah gang kecil. Aku pun menggunakan Lightning Rush dan menghampiri pencopet itu. “Hei, dompet itu bukan milikmu! Cepat kembalikan!” seruku.
“Pergi kau bocah!” kata pencopet itu sambil mencoba untuk memukulku. Aku pun menghindar dan menjegal kakinya. Ia pun jatuh tersungkur dan melepaskan dompet Ibu yang tadi. Aku pun mengambil dompet itu dan mengembalikan kepada pemiliknya. “Nah, ini, Bu!” kataku sambil menyodorkan dompetnya. “Terima kasih, dik!” katanya. “Sama-sama!” jawabku sambil berubah menjadi Garuda dan terbang kembali ke sekolah. Sesampainya di sana, “Kriingg!!!” Bel istirahat sudah berbunyi. “Ti-tidak!! Aku saja belum sempat makan lumpiaku!” teriakku.
Sekolah pun usai, kami pulang ke rumah masing-masing. Aku pun berubah kembali menjadi Garuda dan terbang pulang. “Assalamu’alaikum! Aku pulang!” seruku. “Wa’alaikumussalam. Roy, di mana Kakakmu?” tanya Ibu. “Mana kutahu, aku kan pulang pergi dengan terbang menggunakan kekuatan angin,” jawabku. Kemudian, Kak Salsa masuk ke rumah, “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikumussalam,” jawab kami. Kak Salsa yang terlihat marah langsung menjewer kupingku. “Aaah!! Kenapa kupingku dijewer?!” tanyaku. “Yah! Gara-gara kau, aku jadi terlambat! Kemudian aku dihukum berdiri dengan satu kaki selama upacara! Kau tahu seberapa capeknya aku menunggu upacara selesai?!” bentaknya.
“Ah! Iya-iya! Maaf! Tenang saja, mulai hari ini aku akan ke sekolah sambil terbang! Jadi, jangan khawatir tentang para penggemar yang akan mengepung apartemen!” jawabku. Kak Salsa pun melepas jewerannya, “Awas saja, jika aku terlambat lagi karena ulahmu!” Kami pun mandi dan bersantai sambil menunggu Ashar tiba. Setelah mandi, aku menghubungi Layla. “Hei, Layla! Bisakah kau menambah fitur baru ke Helmbot?” tanyaku. “Fitur baru? Fitur apa?” tanyanya balik. “Fitur pendeteksi kejahatan. Apa kau bisa?” tanyaku. “Memangnya ini film apa?! Sudahlah!!” bentaknya sambil menutup telepon. “Yah, kurasa itu memang hanya khayalan di film. Kurasa aku hanya bisa mengandalkan kekuatan telinga angin ini,” batinku.
Sembari menunggu waktu Ashar, aku pun memikirkan kendaraan yang cocok denganku. Kalau aku menggunakan kekuatan angin saat terbang secara terus menerus, aku bisa kelelahan. Aku pun memutar otak agar dapat menemukan inspirasi. Kemudian, sebuah ide yang cukup aneh muncul, tongkat yang bisa terbang. Aku pun mulai menggambar cetak birunya dengan teliti. Setelah sekitar dua jam aku menggambar cetak biru, adzan Ashar berkumandang. Aku pun bersiap ke masjid dan sholat berjama’ah. Kupakai baju koko berwarna biru muda dengan bawahan yang serasi. Lalu kupakai kopyah hitam dan kuambil sajadah biru dari dalam lemari. Aku pun berangkat ke masjid.