The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin

The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin
Bab 8: Saatnya Bersinar



Semester satu sudah hampir berakhir. Satu semester lagi, aku akan naik kelas ke kelas 5 dan Kak Salsa akan naik ke SMP. Semua mata pelajaran dapat kupahami dengan baik. Nilai ujian juga bagus. Kurasa tak ada masalah untuk naik kelas. Namun, masih ada satu masalah yang cukup besar. Aku masih tak bisa meramal dengan tepat. Sementara itu, Kak Salsa semakin terampil dalam hal meramal. Semua orang terheran-heran termasuk aku.


“Roy, kenapa kau tidak bisa meramal? Padahal Kakakmu sangat terampil. Banyak siswa dari seluruh sekolah meminta ramalan padanya,” tanya Layla sambil mengeluarkan tempat makan siang berwarna kuning polos bertutup putih dari dalam tasnya. Ia pun membuka tutupnya dan meletakkannya di atas meja. Terlihat ayam goreng bagian paha, nasi putih, juga tumis kangkung yang cukup menggiurkan selera. “Aku juga tidak tahu. Bahkan keluargaku pun heran. Karena hanya aku keturunan keluarga Ling yang tak bisa meramal hingga saat ini.” jawabku sambil mengambil sesendok nasi lalu memasukkannya ke dalam mulutku. Selesai makan siang, Bu Ayu mengumumkan suatu hal.


“Baiklah anak-anak, segera rapikan meja kalian! Ibu punya sebuah pengumuman. Minggu depan, kita akan berkemah di Bumi Perkemahan Suaka Elang. Ibu harap kalian semua dapat ikut. Jadi, jaga kesehatan kalian semua, ya!” “Baik!” jawab kami semua serempak. Kami pun merapikan barang-barang dan pulang dengan hati gembira. Aku pun menaiki sepeda berwarna biru bercorak hitam dan bersiap pulang. Kak Salsa pun keluar dengan teman sekelasnya, Zidan. “Hei! Kak Salsa! Kenapa kau lama sekali?!” seruku memanggil mereka.


Kak Zidan hanya menjawab dengan senyuman, sementara Kak Salsa tetap menunjukkan wajah dinginnya. Mereka segera mengambil sepeda masing-masing dan menaikinya. Kami bertiga pun bersepeda bersama ke rumah. Yah, itu adalah kebiasaan kami. Karena rumah Kak Zidan dan kami berada di apartemen yang sama, kami sering berangkat maupun pulang bersama. Sebelum kami sempat mengayuh sepeda, Layla memanggil, “Hei, Roy! Kau lupa kalau kita harus mengerjakan proyek robotik kita?” Yah, aku benar-benar lupa soal itu. “Baiklah! Kalau begitu aku akan ke rumahmu," jawabku.


“Kenapa kita tak bersepeda bersama saja ke rumah Layla? Lagi pula, kita juga bisa membantu proyek kalian, kan? Bagaimana, apakah kau keberatan, Layla?” tanya Kak Zidan. “Wah, itu ide yang bagus. Kalau semakin banyak orang, maka akan semakin meriah!” jawabnya sambil tersenyum. Senyum Layla mengingatkanku pada Ayumi. “Bagaimana kabarnya sekarang, ya?” batinku dalam hati. Kami berempat pun bersepeda bersama menuju rumah Layla.


Sebenarnya, jarak rumah Layla ke sekolah hampir sama dengan jarak rumahku ke sekolah. Namun, arahnya berkebalikan dengan arah rumahku. Kami pun sampai di sebuah rumah yang cukup besar untuk ditinggali dua orang. Kami pun masuk ke halaman dan memarkir sepeda di bagasi. “Silakan masuk!” kata Layla. Kami pun masuk sambil mengucapkan salam. “Oh iya Layla, apa kamu sendirian di sini?” tanya Kak Zidan sambil memerhatikan sekeliling. “Iya, ayahku kan sedang bekerja. Jadi, aku sendirian di rumah sampai nanti sore.”


Kami pun membuat setiap bagian dengan hati-hati. Matahari mulai menyingsing ke arah barat. Kami pun sudah menyelesaikan robotnya dan berhasil dioperasikan. “Alhamdulillah, akhirnya selesai juga!” kata Layla. Kami pun beristirahat sebentar selagi menunggu adzan Ashar berkumandang. “Hei, Layla. Apakah aku boleh pinjam HP-mu sebentar?” tanyaku. “Untuk apa?” “Aku mau telepon teman lamaku di Cina. Apa boleh?” “Ya, boleh saja!” katanya sambil memberikan HP-nya padaku.


“Sepertinya ada yang rindu teman wanitanya,” goda Kak Salsa. “Apaan sih!” sahutku dengan wajah sedikit memerah. “Teman wanita. Maksud Kak Salsa, Roy punya pacar?” tanya Layla dengan wajah bersemangat. “Cuma teman dekat tahu!” jawabku kesal. “Kau yakin bukan teman tapi mesra? Hahahaha!” goda Kak Zidan. “Sudah kubilang, hanya teman dekat!” teriakku kesal. Aku pun memasukkan nomor orang tua Ayumi yang kuingat. “Kriing!!” Tak lama kemudian, muncul suara Om Akira, “Halo, ini siapa?” “Halo, Om! Ini aku Roy! Om apa kabar?” tanyaku. “Oh, Roy. Om baik-baik saja. Oh iya, apakah kau ingin bicara dengan Ayumi?” tanya Om Akira. “Ah iya, apa dia ada?” “Iya, dia sedang menonton TV. Sebentar, biar Om panggilkan,” katanya di telepon.


Tak lama kemudian, suara Ayumi terdengar di telepon, “Hei, Roy! Lama tak bertemu, ya! Kukira kau melupakanku.” “Tentu saja tidak, hanya saja aku sering sibuk, jadi tidak sempat,” jawabku. “Yang benar saja, kau itu memang lupa , kan!” sahut Kak Salsa di belakang. “Oh iya, sebentar. Ayo kita video call! Aku sudah lama tidak berjumpa denganmu,” kata Ayumi. Ia pun mengalihkan telepon ke video call. Video Ayumi pun muncul di layar HP.


“Wah, Roy! Apa itu Ayumi? Wau, dia sangat cantik!” sahut Layla yang tiba-tiba berada di belakangku. “Terima kasih. Oh iya, dia siapa?” tanya Ayumi. “Ah, perkenalkan aku Layla. Aku teman Roy,” jawab Layla. “Oh iya, bagaimana kabarmu Ayumi?” tanyaku. “Aku baik-baik saja. Oh iya, bagaimana kehidupanmu di sana? Apakah kau betah?” “Tentu saja betah. Di sini ada banyak makanan enak, gado-gado, siomay, soto, sate, rendang. Hmm, ini lebih enak daripada berada di Beijing dan berurusan dengan Chang Yi,” jawabku. “Ya, syukurlah kalau kau betah,” katanya dengan senyum yang berseri-seri. Kami pun mengobrol berbagai hal hingga adzan Ashar berkumandang. “Baiklah Ayumi, kita lanjutkan kapan-kapan lagi. Sampai jumpa!” jawabku sambil menutup telepon. Kami pun sholat Ashar berjama’ah. Kemudian aku, Kak Salsa, dan Kak Zidan pulang bersama.