The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin

The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin
Bab 17: Waktunya Menegakkan Keadilan



Sesampainya di masjid, tampak tempat ibadah itu sepi oleh jama’ah. Hanya ada beberapa anak kecil yang sedang bermain dan juga beberapa bapak-bapak yang mengobrol sambil menunggu iqomah dikumandangkan. Aku pun memasuki masjid dan sholat rowatib 2 raka’at. Setelah itu, aku pun duduk dan berdzikir sembari menunggu iqomah.  Di tengah ketenangan dzikir, aku merenung tentang kehidupanku di negeri ini. Jujur saja, awalnya aku kadang atau bahkan sering heran dengan penduduk negeri ini.


Negeri yang masyarakat Islamnya mayoritas, masjid dan musholla di mana-mana, namun sedikit sekali yang mendatanginya. Di Beijing, kami umat muslim minoritas, masjid pun jarang. Jadi cukup masuk akal jika masjidnya sering kali sepi. Namun di sini, menurutku itu hal teraneh sepanjang hidupku. Bagaimana tidak, setiap sholat hanya ada dua sampai tiga shaf. Itu pun sering tak penuh.


“Allhahu Akbar! Allahu Akbar!” Gema takbir iqomah membuyarkan lamunanku. Aku pun berdiri dan meluruskan serta merapatkan shaf. “Oh iya, kau Roy Si Bocah Super, kan? Setelah sholat, tolong beri aku tanda tanganmu, ya!” pinta seorang bapak-bapak sambil berbisik. “Yang benar saja. Ini masjid, tempat ibadah. Bukan tempat untuk memikirkan urusan dunia. Apalagi hal sepele seperti meminta tanda tangan,” batinku. Kufokuskan kembali pikiranku, dan bertakbir mengikuti imam.


***


Salam telah dilaksanakan, aku pun memberikan tanda tangan kepada bapak yang telah meminta. Setelah semua urusan usai, aku pun kembali ke apartemen. Jarak antara masjid dan apartemen tidaklah jauh. Hanya beberapa pertokoan yang berjejer di antara masjid dan apartemen.


“Assalamu’alaikum! Aku pulang!” seruku sambil memasuki kamar. “Wa’alaikumussalam! Roy! Cepat ganti baju! Habis ini kalian akan latihan!” titah Ibu. Aku pun segera mengganti bajuku dengan baju silat yang sudah dicuci dalam lemari. Tak lama kemudian, Ayah datang. Ia pun mengajak aku dan Kak Salsa pergi berlatih. Kami pun berlatih seperti biasa.


***


“Assalamu’alaikum! Kami pulang!” seru kami sembari masuk ke dalam kamar seusai berlatih. “Wa’alaikumussalam! Cepat mandi! Sebentar lagi adzan Maghrib!” seru Ibu. “Baik!!” jawab kami. Setelah mandi, kami bersantai sejenak sambil menunggu adzan Maghrib. Aku pun menggunakan kesempatan ini untuk membicarakan sesuatu. “Ayah, apa Ayah bisa membantuku membuat ini?” tanyaku sambil menunjukkan cetak biru yang kubuat. “Wah, ini benar-benar luar biasa! Baiklah! Akan Ayah bantu!” jawabnya. “Terima kasih, Ayah!” timpalku dengan kegirangan. Tak lama kemudian, adzan Maghrib berkumandang. Aku dan Ayah pun pergi ke masjid.


Setelah sholat berjama’ah di masjid, kami pun kembali ke apartemen dengan mendapati hal yang sama. Para penggemar atau pun warga yang meminta tanda tangan. “Astaga, bagaimana bisa para warga itu selalu mengikuti kami?” batinku. Saat sampai di rumah, kami pun berganti baju dan makan malam bersama. Selesai makan, kami melakukan rutinitas kami masing-masing. Ibu mencuci piring, Kak Salsa menonton TV, Ayah melanjutkan pekerjaannya, sementara aku bermeditasi untuk meningkatkan indra pendengaranku.


Aku pun kembali tenggelam dalam pikiranku sendiri. “Sepertinya kekuatanmu semakin kuat. Sshhs!” puji Kobra. “Tentu saja, kita kan sering berlatih. Oh iya, apa mungkin jika aku menggabungkan dua kekuatan atau lebih?” tanyaku. “Mungkin saja. Tapi kami belum pernah melakukannya,” jawab Garuda. “Kalau begitu, ayo coba kita lakukan!” seru Phoenix dengan semangat. “Yah, kurasa lain kali saja. Aku masih ingin memperkuat dan mengendalikan pendengaran dari kekuatan angin.”


***


Matahari kembali terbit dari ufuk timur, hari baru kembali dimulai. Sesuai janjiku, aku pun pergi ke sekolah dengan terbang. Namun, lagi-lagi ada kejahatan lain yang terjadi di kota ini, “Tolong! Ada pencuri!” Aku pun menuju suara itu. “Tolong! Ambilkan kembali barangku!” seru seorang Ibu meminta pertolongan. Aku pun mendarat dan bertanya, “Tenang saja, Bu! Ling Royyan sudah tiba! Di mana pencurinya?” “Itu, di sana!” jawabnya. Aku pun berbalik dan melihat seekor kucing membawa ikan bakar. “Eh, apakah pencurinya kucing itu?” tanyaku. “Iya, Nak! Dia mencuri ikan bakarku!” “Yang benar saja!” batinku. Aku pun mengembalikan ikan bakar yang setengah dimakan oleh kucing itu.


“Iihh! Menjijikkan. Sudahlah! Berikan saja pada kucing itu!” jawabnya. Ibu itu pun melangkah pergi. Aku pun mengembalikan ikan bakar itu ke kucing yang tadi dan melanjutkan perjalanan ke sekolah. Tak lama kemudian, aku kembali mendengar seseorang berteriak, “Tolong!!” “Hah, sekarang apa lagi?” batinku. Aku pun mendarat di tempat suara itu. “Tenang saja, Ling Royyan  sudah tiba! Ada masalah apa?” tanyaku pada seorang gadis kecil yang berteriak minta tolong sebelumnya. “Kak, tolong ambilkan balonku yang tersangkut!” katanya sambil menunjuk ke arah balon yang tersangkut di pohon. “Baiklah, ini dia! Jangan terlepas lagi, ya!” kataku sambil mengambilkan balon miliknya.



“Ya, itu kan salah satu kewajiban pahlawan super, melayani masyarakat. Hehehe!” jawab Layla. “Bukankah yang melayani masyarakat itu bukan hanya pahlawan super? Kan ada polisi, pegawai negeri, dan pemerintah baik pusat maupun daerah?” tanyaku balik. Layla pun hanya bisa diam seribu kata mendengar pertanyaanku. Kami pun mengikuti pelajaran dengan seksama.


***


Bel istirahat pertama berdering. Aku pun beristirahat seperti biasa. “Yah, kuharap istirahatku tak terganggu seperti kemarin,” batinku. Aku pun menikmati makananku dengan tenang. 20 menit kemudian, bel kembali berdering. Pelajaran pun dimulai kembali. “Baiklah anak-anak, hari ini kita akan belajar matematika. Cepat buka halaman 13!” perintah Pak Dani, guru matematikaku selama aku di Indonesia.


“Baik!!” jawab kami semua serempak. Tidak seperti Pak Li, guru matematikaku di Beijing, Cina yang sangat galak. Pak Dani sangat ramah. Bahkan ia sering memberi guyonan saat menjelaskan materi. Satu jam kemudian, pelajaran matematika usai dan berganti ke pelajaran IPS. “Maaf ya, anak-anak. Karena guru IPS hari ini sakit, kalian diminta membaca materi dari halaman 4-8,” kata Bu Esti. Kami pun membaca setiap halaman dengan teliti. Setelah kami semua selesai membaca, kami pun melaksanakan aktivitas yang tak pernah kulakukan di Cina. Yaitu, jam kosong atau biasa disebut JAMKOS. Kami pun memulai JAMKOS kami dengan bermain dan mengobrol hingga tanpa  kami sadari, kami sudah menghabiskan waktu 1 jam. Adzan dhuhur pun berkumandang dengan merdu. Kami pun  bergegas sholat Dhuhur berjama’ah kemudian makan siang bersama di kelas.


“Ah, akhirnya jam makan siang tiba. Mulutku sudah tak sabar untuk menyantap udang saus telur asin ini,” kata Layla sambil membuka bekalnya. “Udang telur asin? Aku belum pernah dengar,” sahutku. “Yah, makanan ini memang cukup jarang. Orang Indonesia sendiri belum tentu tahu makanan ini. Oh iya, Roy! Kata ayahku, aku sangat mirip dengan ibuku. Mulai dari mata, warna rambut, selera makanan, dan lain-lain. Yang berbeda hanya cara kami menata rambut,” katanya.


Aku agak kasihan melihat Layla. Dia pasti sangat merindukan Ibunya. Tiba-tiba, aku mendengar teriakan minta tolong, “Ah! Tolong!!” Kemudian, aku mendengar suara lain dari tempat yang sama, “Hahaha! Tenang saja, kami tak akan menyakiti kalian jika kalian menurut. Tapi kalau tidak! Dor!” Aku mendengar sebuah tembakan dilepaskan ke udara.


“Ini gawat, aku harus segera menyelamatkan mereka,” batinku. “Layla, tolong jaga makananku! Aku memiliki panggilan darurat!” seruku. Aku pun melompat keluar jendela dari kelasku yang berada di lantai dua. “Garuda Angin!” aku pun berubah menjadi Garuda dan terbang menuju lokasi secepat mungkin. “Bagus! Terus ambil uangnya!” perintah bos perampok kepada anak buahnya. Aku pun mendarat dari atap dan menggertak mereka, “Cepat hentikan perampok! Atau aku harus menghajarmu sampai *****!”


“Ah, ternyata Si Bocah Super yang viral di internet itu. Akan kutunjukkan perbedaan orang dewasa dengan anak-anak!” kata si ketua perampok. Ia pun menembakkan peluru kepadaku. Aku pun menghindar dan peluru itu hampir mengenai seorang tawanan. “Sepertinya kau masih beruntung. Bagaimana dengan tembakan beruntun?” gertaknya. Para perampok pun menembakiku secara bersamaan dan terus menerus. “Kalau seperti ini, pelurunya bisa mengenai semua tawanan. Bagaimana? Harus bagaimana?” “Aha! Tanah pelindung!” teriakku sambil mengeluarkan dinding tanah yang kuat dan kokoh.


“Apa?! Bagaimana mungkin?” kata si perampok dengan nada terkejut. “Semuanya! Serang terus!!” mereka pun menembaki kami yang terlindung dalam dinding tanah. “Astaga, tidak ada habisnya,” gumamku. Tak lama kemudian, aku menemukan sebuah ide cemerlang. “Aku adalah pasir yang mengaburkan penglihatan para penjahat, Scorpion!” seruku sambil berubah menjadi manusia setengah kalajengking. Seluruh tubuhku masih berbentuk manusia. Namun, tanganku berubah menjadi capit yang besar. Selain itu, muncul ekor yang memiliki sengat di belakang. “Sekarang rasakan ini! Pasir hisap!” seruku.


Aku pun memunculkan pasir hisap di tempat para perampok itu menembaki kami. “Hah, apa-apan ini?!” seru para perampok terkejut. Mereka pun terjebak di pasir hisap itu. Setelah mereka tak bisa bergerak, aku menghancurkan dinding tanah yang kubuat dengan capitku. Aku pun kembali ke bentuk tubuhku yang semula. “Ya, sepertinya aku berhasil,” gumamku. Beberapa menit kemudian, para polisi menangkap dan membawa para perampok ke penjara. Aku pun kembali terbang menggunakan kekuatan angin ke sekolah. “Yah, semoga saja aku masih sempat makan siang,” gumamku. Sesampainya di  sekolah, “Kriiing!!” Bel berdering dan jam makan siang telah usai. “Tidak lagi!!” teriakku kesal.