
Aku bergegas mencari burger kesukaanku, “Nah, itu dia!” Aku pun mengambil burger itu dan langsung membayarnya. “Ayumi, kamu tidak beli?” tanyaku polos. “Aku tidak punya uang Yuan, yang kupunya cuma uang Yen,” jawabnya dengan nada memelas. “Baiklah, hari ini aku akan mentraktirmu. Cepat ambil camilan yang kau mau!” kataku. “Benarkah? Terima kasih, Roy!” jawabnya semangat. Dia pun mengambil beberapa camilan dan membawanya ke kasir. “Totalnya 3 Yuan,” kata kasir. “Ini uangnya,” kataku sambil menyodorkan 3 lembar uang kertas bernilai 1 Yuan. Kami pun makan dulu sebelum melanjutkan tur sekolah. “Wah, burgernya sangat enak!” kata Ayumi kegirangan.
“Memang menurutmu kenapa aku tergesa-gesa?” batinku dalam hati. Kemudian, Si Pembawa Masalah datang menghampiri kami, “Wah, wah, wah. Baru kenalan sudah makan bersama. Hei Peramal Gagal, apakah kau bisa meramal masa depanku? Siapa yang akan menjadi pacarku nanti? Bagaimana hubungan kami? Oh tunggu, aku lupa. Kau kan Peramal Gagal. Jadi, ramalanmu tak mungkin benar. Hahahahaha!!!”
Kesabaranku sudah memuncak. Awalnya sudah kuabaikan. Tapi ejekannya masih berlanjut hingga sekarang. Aku sudah muak. “Oh, maaf ya. Kali ini pasti benar. Menurut ramalanku, hari ini kau akan berada di rumah sakit!” jawabku sambil melayangkan tinju ke wajahnya. Chang Yi pun jatuh tersungkur setelah menerima tinju dariku. Tubuh tinggi dan besarnya tak bisa menghindari tinju cepat dariku. Ia kembali berdiri sambil memegangi rahangnya yang lebam. Tampak di matanya kemarahan yang dapat membuat siapa saja merinding.
“Kalau kau ingin bertarung, mari kita bertarung. Hyaa!!” kata Chang Yi sambil melayangkan tinju ke arahku. Kemudian, “Stop!! Jangan berkelahi! Aku tak tahu ada masalah apa di antara kalian. Tapi, aku rasa pasti ada cara untuk menyelesaikannya,” sela Ayumi tepat sebelum tinju Chang Yi menghantam wajahku. “Baiklah kalau begitu. Roy, ini belum berakhir!” ancam Chang Yi. “Roy, kau tak apa-apa?” tanya Ayumi. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah melerai kami berdua tadi. Baiklah. Ayo lanjutkan tur Sekolahnya!” ajakku. “Ya! Ayo!!”
“Maaf, Pak! Saya tidak punya bukunya karena saya murid baru,” kata Ayumi dengan gugup. Kurasa itu masuk akal. Wajah Pak guru Li yang muram sering kali membuat semua orang takut. “Roy, pinjamkan bukumu ke Ayumi. Lalu, pergilah ke ruang kepala sekolah. Ia menunggumu di sana,” kata Pak guru Li. “Baik, Pak! Ini, Ayumi! Pinjamlah bukuku!” “Ya, terima kasih.” Aku pun pergi ke ruang kepala sekolah.
Sesampainya di sana, aku masuk dan bertemu dengannya, Chang Yi. “Ah, ternyata kau sudah datang Roy. Silakan duduk,” sambut kepala sekolah. “I-iya pak,” jawabku gugup. Wajar saja, baru pertama kali aku dipanggil oleh kepala sekolah. “Roy, bapak ingin bertanya. Apakah kamu yang memukul Chang Yi?” tanya kepala sekolah. “I-iya pak. Tapi bukan saya yang memulai, Chang Yi yang duluan mengejek saya,” belaku. Chang Yi hanya terduduk diam sambil tersenyum melihatku ketakutan di depan kepala sekolah.
“Oh begitu. Tapi Chang Yi hanya mengejekmu saja kan. Dia tidak memukulmu. Lalu kau memukulnya dengan keras. Lihat ini, dagunya sampai lebam. Lebam yang besar. Jadi aku memutuskan, kau dihukum,” kata kepala sekolah. “Ta-tapi…” belum selesai aku bicara, kepala sekolah sudah menyuruhku diam. “Shusst! Tak perlu kau membela dirimu. Keputusan bapak sudah bulat. Kau di skors selama pekan ini.” “Apa??!! Di skors!! Yang benar saja!! Selama aku bersekolah, baru kali ini aku di skors!! Awas kau Chang Yi, lain kali aku akan membalasmu!!” batinku kesal. Tak lama kemudian, bel kembali berbunyi. Aku pun pulang dengan penuh kemarahan dan kekesalan. “Sampai jumpa lagi Peramal Gagal. Hahahahaha!” ejek Chang Yi.