
Matahari mulai menyingsing ke arah barat. Aku dan Kak Salsa sudah tiba di rumah. Kami pun membersihkan diri dan beristirahat sambil menunggu makan malam. “Roy, ayo latihan!” ajak Ayah. “Ahh, aku lelah. Bisa tidak besok saja?” jawabku sambil menonton TV di ruang keluarga. Ayah langsung menghampiriku lalu menarikku keluar, “Katanya mau latihan hari ini! Ayo cepat!” “Iya! Iya! Aku latihan!” jawabku sambil tergesa-gesa mengikuti langkah Ayah. Kemudian, aku melakukan pemanasan dan berlari mengelilingi halaman belakang. “Bagus. Setelah pemanasan dan berlari mengelilingi halaman, ayo mulai latihan fisik. Pertama push up 10 kali selama 5 set!” kata Ayah tegas. “Tunggu dulu, 1 set 10 kali. Berarti aku harus push up 50 kali?!! Yang benar saja!!” “Kau tahu kan kalau tak ada jalan pintas untuk jadi kuat,” jawab Ayah menanggapi keluhanku.
Kemudian, “TING TUNG!!” bel rumah berbunyi. Ibu pun keluar dan membuka pintu, “Maaf, Anda siapa?” “Permisi, kami tetangga baru. Perkenalkan aku Akira, ini istriku Akasuki. Dan ini anakku, Ayumi. Kami baru selesai menata barang-barang dan juga anakku baru pulang sekolah. Jadi kami memutuskan untuk berkenalan dengan tetangga yang lain,” jawabnya sopan. “Oh iya, silakan masuk,” jawab Ibu. Ayah dan aku yang penasaran kembali ke dalam. “Wah, sepertinya rumah ini sangat besar ya!” kata Akasuki, Ibu Ayumi. “Ah, tidak juga,” jawab Ibu. Aku dan Ayah pun tiba di ruang tamu disusul Kak Salsa yang dari tadi bermain HP.
“Oh iya, perkenalkan aku Ling Mizunashi dan ini suamiku, Fattah. Dan ini anak-anakku, yang laki-laki bernama Roy dan yang perempuan bernama Salsa. Roy, Salsa, perkenalkan ini tetangga baru kita,” kata Ibu dengan lembut. “Wah, Roy, jadi ini rumahmu ya? Aku tidak menyangka ternyata kita tetangga,” sahut Ayumi. “Jadi kalian saling kenal,” tanya seorang pria berperawakan kurus tinggi dan bermata sipit. Ia mengenakan kemeja bercorak kotak berwarna biru dan celana hitam panjang. “Iya, dia itu teman sekelasku, Ayah,” jawab Ayumi. “Hei, sepertinya kau punya teman yang cantik. Bagaimana kau bisa akrab dengannya?” goda Kak Salsa. “Diamlah!” jawabku. “Oh iya. Kenapa kalian repot-repot pindah dari Jepang ke Beijing?” tanya Ayah. “Kami pindah ke sini karena suamiku ingin melanjutkan S2 jurusan teknik. Ia disarankan agar pindah ke Beijing University,” jawab Ibu Ayumi.
Rambut hitam panjangnya nampak sangat mirip dengan milik Ayumi. Selain itu, sepertinya gaya mereka juga mirip. Ia mengenakan kaos hitam lengan panjang bergambar menara Tokyo serta celana hitam polos yang sangat serasi. Kurasa itu adalah hal yang cukup masuk akal. Seperti aku, ibuku, dan kakakku. Kami memiliki gaya berpakaian yang sangat mirip. Ciri gaya kami yaitu kaos putih, kemudian training hitam bergaris biru, serta jaket ataupun rompi biru yang serasi dengan lautan yang luas. Mungkin ada sebuah filosofi dari gaya berpakaian kami.
Sudah sekitar setengah jam kami saling mengobrol dan bercerita. Keluarga Ayumi pun pamit untuk kembali ke rumahnya. “Sampai jumpa lagi di sekolah, Roy!” kata Ayumi. “Kurasa tidak bisa. Aku sudah di skors selama seminggu ini,” jawabku dengan wajah murung. “Tunggu, apa??!!!” sentak semua orang kaget. “Bagaimana bisa kamu sampai di skors?” tanya Ayah. “Yah, itu karena aku meninju wajah Chang Yi sampai lebam. Habisnya, dia mengejekku duluan.” “Yang benar saja. Baiklah, kali ini Ibu memaafkanmu. Tapi, ingat. Jangan pernah terbawa emosi kalau diejek. Abaikan saja,” jelas Ibu panjang lebar. “Iya, maafkan aku,” jawabku dengan kepala tertunduk.
Tiba-tiba Ayumi memegang bahuku dan berkata, “Tenang saja, Roy. Setelah sekolah, aku akan mengajarimu materi pelajarannya.” “Ya, terima kasih, Ayumi!” jawabku dengan wajah sumringah. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya aku diperhatikan oleh temanku. Biasanya, teman-temanku hanya menertawaiku dan mengejekku. Ini adalah salah satu hari paling bahagia dalam hidupku. Ayumi dan keluarganya pun pulang. “Oh iya, Kak Salsa. Kenapa hariku tidak sesuai dengan ramalanmu?” tanyaku menyindir. “Ramalanku tadi pagi hanya berlaku untuk Jia Li, bukan untukmu,” jawabnya dingin sambil melanjutkan bermain HP.