
Sekolah telah usai, aku pun kembali ke rumah menggunakan tongkatku. “Hah, syukurlah para penjahat berbaju hitam itu sudah kukirim ke balik jeruji. Kalau tidak, masalahku akan bertambah banyak,” batinku. Tanpa kusadari, di sebuah gedung tampak seseorang sedang mengintaiku. “Sayonara, Roy!” serunya. Telingaku yang peka langsung menoleh ke arah orang itu. Tiba-tiba, sebuah peluru mengenai tongkat terbangku. Tongkatku pun jatuh ke tanah dan hancur lebur akibat benturan. Sementara itu, aku menggunakan kekuatan angin untuk terbang dan menuju orang yang menembakku tadi berada. Orang itu panik dan langsung kabur ke dalam gedung. “Heh, dasar pengecut!” gumamku.
Aku mendarat di gedung itu dan tiba-tiba sebuah ledakan muncul tepat di bawahku. “Aaah!!” teriakku kesakitan. “Bom! Jadi ini jebakan,” batinku sambil memulihkan kesadaranku. Nafasku sesak karena dadaku tertindih puing-puing atap yang meledak. Ditambah udara penuh debu yang beterbangan dapat membuat siapa pun tewas dalam sekejap. Kusingkirkan puing-puing menggunakan tangan yang diperkuat kekuatan angin. Kemudian, seseorang yang kukenal muncul dari bagian atap gedung yang tidak hancur akibat ledakan.
“Hahaha! Sudah lama tak bertemu, bocah nakal!” kata penjahat yang pernah menyerangku dulu. Ia berdiri di tepi lubang besar menganga akibat rencananya untuk merebut Batu Cakra dariku. “Astaga, yang benar saja! Baru juga tadi kupikirkan langsung datang,” batinku. Aku pun menggunakan kekuatan penyembuhan dan bangkit menghadapinya. “Yah, cukup lama kita tak bertemu, tuan yang tak kuketahui namanya. Bukankah kau beserta anak buahmu sudah kukirim ke balik jeruji?” tanyaku.
“Panggil aku, Darko. Yah, memang benar kalau kau sudah mengirim kami ke polisi. Namun, bos kami membebaskan kami semua. Sekarang, akan kutuntaskan misiku dengan merebut Batu Cakra darimu!” “Merebut?! Kalian kan sudah pernah kukalahkan! Memangnya bisa?” tanyaku. “Oh, tenang saja. Kali ini akan berbeda,” jawabnya sambil menjentikkan tangan. Tiba-tiba, sesosok monster keluar dari bagian paling bawah gedung.
“Monster apa itu?!” seruku terkejut saat melihat sesosok moster berkulit hijau. Tubuhnya besar, di belakangnya terdapat semacam sayap kelelawar, tangannya seperti cakar yang siap menusuk apa pun, kakinya berbentuk seperti selaput renang. Belum lagi ekor panjang di belakang tubuhnya, membuat semua orang merinding melihatnya. Namun, ada yang aneh menurutku, ia mengenakan celana pendek berwarna hitam dan juga topeng di wajahnya. Juga, sedikit rambut di atas kepalanya yang sangat mirip dengan rambut manusia. “Ini, adalah senjata rahasiaku! A-5-RUL!" “A-5-RUL? Nama yang aneh. Tak bisakah kau memberinya nama yang lebih keren seperti Kraken, Kaiju, atau apalah,” sahutku.
"Yah, aku juga berpikir begitu. Tapi, itu nama pemberian bosku. Jadi aku harus menghormati nama pilihannya. Sekarang, serang dia, senjataku!” seru Darko. “Gruoahhh!!” raung moster itu sambil melayangkan tinju ke arahku. Aku berhasil menghindar dari serangan itu. Namun, serangkaian serangan masih berlanjut. Aku pun berusaha menghindari dan menangkis semua serangan. Namun, sebuah tinju raksasa langsung menghantam perutku. “Gah!!” teriakku kesakitan. Aku berusaha bangkit, namun terlalu sakit. “Sepertinya bos benar. Perutnya adalah sebuah titik lemah. Kalau bisa menghancurkannya, kita akan mendapatkan batunya,” gumam Darko.
“Hei, apa kau akan terus berbaring saja?!” seru Phoenix. Aku kembali tenggelam dalam pikiranku sendiri. “Tentu saja tidak! Tapi aku tidak bisa bangkit, seluruh tubuhku sangat sakit,” jawabku. “Sshhs! Tentu saja, perut adalah titik lemah paling besar. Dari perut, energi dan kekuatan kami disalurkan lewat sana. Sshhs! Jika mengalami kerusakan yang parah, energi dan kekuatan kami akan terputus dan tidak bisa kembali,” jawab Kobra. “Kalau begitu, bagaimana cara mengalahkannya?” tanyaku. “Gunakan penggabungan kekuatan,” jawab Garuda. Aku pun kembali ke dunia nyata. “Gabungan kekuatan, ya! Baiklah! Akan kulakukan!” batinku. Aku pun berdiri dengan sempoyongan. “Aku, tak akan kalah di sini! Aku adalah badai yang mengamuk di atas dunia! Aku, Cakra Badai!” seruku sambil menggabungkan kekuatan angin dan petir secara bersamaan dan berubah menjadi Cakra Badai.
Lukaku pun mulai pulih perlahan seiring kembalinya energi yang mengalir dalam tubuhku. “Sekarang, rasakan ini! Cakaran badai!” seruku sambil melayangkan cakaran penuh dengan petir dan dorongan angin yang kencang ke dada monster itu. Monster itu pun langsung jatuh tersungkur dan mulai meruntuhkan seluruh gedung. “Ah, gedung ini akan roboh! Semuanya, lari!” teriak Darko. Ia dan anak buahnya segera melompat dari gedung 5 lantai itu. Tak lama kemudian, gedung itu pun runtuh dan hanya menyisakan puing-puing. Aku yang terbang dan menghindar sebelum gedung roboh, kembali ke apartemen untuk beristirahat dari peristiwa ini. “Wau, ini akan jadi viral!” seru seorang warga yang merekam aksiku dari gedung seberang sambil mengunggah video itu ke internet.
Tak lama kemudian, para polisi dan pemadam kebakaran tiba beserta wartawan yang meliput berita. Mereka pun mencari orang-orang yang tertimbun di dalamnya. Beberapa menit kemudian, aku tiba di apartemen. Kulihat para wartawan masih merubungi apartemen. Aku pun masuk ke apartemen lewat jendela di lorong. “Assalamu’alaikum! Aku pulang!” seruku sambil membuka pintu. “Wa’alaikumussalam! Akhirnya kau datang juga! Ibu pikir kau kenapa-kenapa,” kata Ibu dengan nada khawatir sambil memelukku. “Yang benar saja, Ibu kan seorang peramal. Kenapa Ibu tidak meramal nasibku saja?” jawabku.
“Walaupun sudah diramal ratusan kali pun, seorang Ibu pasti khawatir dengan keadaan anaknya,” jawabnya sambil menjewer telingaku. “Aduh! Sakit Ibu!” “Sudahlah! Cepat mandi! Sebentar lagi Maghrib!” perintah Ibu. Aku pun mandi dan mengganti bajuku. Setelah mandi dan berganti baju, aku sholat Ashar kemudian keluar kamar untuk menonton TV. “Pantas saja Ibu khawatir, ternyata diberitakan di TV,” batinku. Kemudian, teleponku berdering. “Oh, dari Ayumi,” batinku. Aku pun kembali ke kamar dan mengangkat teleponnya.
Sementara itu, di suatu gudang kosong, “Dasar payah! Bahkan dengan A-5-RUL pun kalian tak dapat mengalahkannya. Kurasa aku harus turun tangan sendiri. Cepat kembalikan A-5-RUL kembali ke ruang perawatan! Aku akan meningkatkannya,” kata Si Bos para penjahat. “Ba-baik, bos!” jawab Darko. Ia pun mengantarkan seorang anak yang seumuran denganku ke sebuah ruangan yang penuh dengan berbagai alat. “Awas, kau Roy! Aku akan menghancurkanmu sampai berkeping-keping!” seru anak itu. “Ha-hacih! Kenapa aku bersin? Apa ada yang ngomogin aku? Ah, sudahlah!” batinku. Aku pun kembali melanjutkan meditasiku.
***
Matahari kembali terbit dari ufuk timur, hari baru dimulai lagi. Karena tongkat terbangku hancur lebur, aku terpaksa kembali terbang menggunakan kekuatan angin. “Astaga, ini menyebalkan!” batinku. Kemudian, aku mendengar sebuah teriakan minta tolong. Aku pun bergegas menuju sumber suara itu. Sesampainya di sana, kulihat beberapa anak berseragam sekolah lari terbirit-birit dikejar seekor anjing. “Tolong!! Ada anjing galak!!” teriak mereka. “Yang benar saja, ini merepotkan,” gumamku. “Gunakan saja kekuatan angin dan lemparkan anjing itu ke tempat sampah,” kata Garuda. “Yah, kurasa itu memang cukup memudahkan. Walaupun membuangnya ke tempat sampah itu ide yang buruk,” jawabku.
Aku pun mengendalikan angin di sekitar anjing itu dan membuatnya terangkat. “Wau, ini berhasil!” gumamku. Aku pun menurunkan anjing itu ke tempat yang sedikit jauh dari anak-anak itu. Anjing yang kebingungan itu pun pergi entah ke mana. Aku pun melanjutkan perjalanan ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Layla menyapa sekaligus menyindirku seperti biasa, “Hai, Roy! Kenapa kau tidak menggunakan tongkat anehmu itu lagi?” “Tongkatku rusak karena ditembak. Setelah itu, tongkat itu pun jatuh dan hancur berkeping-keping. Ini semua salah Darko itu.” “Darko, siapa itu?” tanya Layla. “Penjahat yang menyerang kita dua kali. Dia sempat dibebaskan oleh bosnya. Ia pun kembali untuk merebut Batu Cakra dariku,” jawabku.
“Jadi, monster yang kemarin menyerang itu ulah Darko, penjahat yang kalah dua kali sebelumnya?” “Ya, monster itu benar-benar kuat.” Kami mengobrol sambil menuju ke kelas. “Seandainya ada cara untuk mengetahui siapa monster itu. Aku seperti pernah melihatnya sebelumnya. Selain itu, kenapa wajahnya harus ditutupi topeng? Benar-benar aneh,” batinku. “Sshhs! Kau ingin mengetahuinya, itu sangat mudah! Gunakan saja kekuatan daunku. Kau akan bisa melihat dan membedakan tubuh orang, walaupun mereka menyamar. Sshhs! Aku menyebutnya, Mata Biologi. Untuk menggunakannya, salurkan energi daunku ke matamu,” kata Kobra.Aku pun memfokuskan diri untuk mengalirkan kekuatan daun ke mataku. Kemudian, aku pun melihat selayaknya robot dan komputer. Aku bisa melihat dengan jelas setiap rincian dari tubuh seseorang. Mulai dari spesies, jenis kelamin, tinggi, berat, ukuran kaki, hingga menemukan luka di tubuhnya.
Kemudian, aku disapa oleh Azrul. “Assalamu’alaikum, Roy! Selamat pagi!” sapanya. Aku yang tak sempat menonaktifkan Mata Biologiku, menoleh dan membalas sapaannya. Saat aku menoleh, tampak di dada Azrul ada sebuah luka goresan yang sangat besar dan panjang. “Luka itu, mungkin sama dengan luka pada monster kemarin. Selain itu, nama kode monster itu, A-5-RUL. Jika dibaca, maka disebut ASRUL!” Aku pun terkesiap kaget dengan pemikiranku sendiri. “Apakah mungkin, Azrul adalah anggota kelompok itu?” batinku. Bel berdering keras. Aku pun segera menonaktifkan Mata Biologiku. Pelajaran pun dimulai seperti biasa.
***
Beberapa jam kemudian, bel istirahat pertama berbunyi. “Hei, Roy! Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Layla. “Ya. Aku hanya berpikir, apa mungkin Azrul adalah monster yang menyerangku semalam?” jawabku. “Oh, ayolah! Bagaimana mungkin Azrul bisa menjadi monster? Itu sangat aneh,” sahutnya. “Ya, itu juga yang kupikirkan. Namun, perhatikan!” aku pun mengambil sesobek kertas dan menulis sesuatu di atasnya. Aku pun menulis A-5-RUL, nama kode monster itu. “Ini adalah nama kode monster itu. Jika angka 5 dibaca S, maka nama ini akan dibaca?” “ASRUL. Itu sangat mirip dengan nama Azrul. Tapi, bukankah itu bisa saja kebetulan?” tanya Layla. “Yah, aku juga berpikir begitu,” jawabku. Kami pun memakan camilan kami dengan hati yang gelisah.