The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin

The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin
Epilog



Beberapa hari kemudian, aku mengunjungi Bento di penjara tempat ia ditahan. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bos penjahat itu keluar dari jerujinya. “Mau apa kau kesini, bocah?!” tanyanya kasar. Aku hampir tak mengenalinya kalau bukan dari suaranya. Setelah ditangkap, topeng Bento dan anak buahnya dilepas. Baju mereka juga diganti menjadi kaus oranye yang merupakan baju tahanan.


“Aku datang untuk mengunjungimu dengan baik-baik. Tapi kau malah menyambutku dengan kasar. Baiklah, langsung ke intinya saja. Kau menginginkan Batu Cakraku untuk menyembuhkan anakmu, kan?” ujarku. “Ya. Aku sudah menjelaskannya saat terakhir kita bertemu. Itu sebelum kau memasukkanku ke balik jeruji,” jawabnya. “Kalau begitu, beri tahu lokasi anakmu sekarang. Aku akan menyembuhkannya menggunakan Batu Cakra.”


“Kau pikir aku percaya padamu? Kau mungkin pahlawan. Tapi kau juga manusia. Setiap manusia memiliki kegelapan di hatinya, yang berisi kebencian dan dendam. Aku tidak bisa memberi tahumu karena kau mungkin akan menyerangnya. Walaupun aku penjahat, tak kubiarkan seorang pun menyentuh anakku. Termasuk kau!”


“Kau menginginkan sebuah sumpah agar aku tak menyerang anakmu, kan? Tenang saja, aku tak akan merusak nama baikku dan keluargaku dengan menyerang anakmu. Lagi pula, kau sudah membantuku untuk membuka potensi seluruh kekuatanku. Kau juga secara tak sengaja memberikan Batu Cakra padaku. Rasanya tak pantas jika aku memperlakukan anakmu dengan kasar. Jadi, biarkan aku membalas budi dan menyembuhkan anakmu,” ujarku.


“Baiklah. Aku akan memberi tahu lokasinya dengan satu syarat. Jangan biarkan siapa pun tahu lokasi anakku. Juga jangan sentuh keluargaku!” “Itu dua syarat, tahu!” batinku kesal. “Baiklah, akan kupenuhi,” jawabku mantap. Ia pun membisikkan sebuah lokasi di telingaku. Setelah mendengarkan, aku pun pamit dan menuju lokasi itu.


Setelah terbang sekitar setengah jam, aku akhirnya tiba di depan sebuah rumah dengan dinding, pintu, dan jendela yang usang. Tampak beberapa anak kecil sedang berlarian di sekitar halaman. Tampak juga  sebuah plank bertuliskan panti asuhan yang penuh debu dan kotoran. “Bento lumayan cerdas ternyata. Dia menitipkan anaknya di panti asuhan dibanding apartemen atau sejenisnya. Itu menyebabkan ia bisa bebas mencari Batu Cakra dan tidak bingung dengan nasib anaknya saat tertangkap,” batinku.


Tak lama, anak-anak yang berlarian berhenti bermain sembari melihatku dengan tatapan aneh. Mereka pun segera berkerumun di hadapanku. “Ibu bukan orang jahat! Jangan ditangkap!” seru seorang bocah lelaki berusia sekitar 6 tahun. “Iya! Kita akan jaga Ibu! Kakak ini tidak akan bisa masuk ke dalam!!” seru seorang anak perempuan yang sedikit lebih tua sambil memelototi diriku. Mereka terus berteriak sembari menghadangku.


“Eh, ada apa ini kok ramai?!” tanya seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun sembari membuka pintu kayu usang dari dalam. “Ibu, cepat lari! Kakak ini mau menangkap Ibu!!” teriak seorang anak perempuan berusia sekitar 4 tahun diikuti sorakan dari anak-anak yang lain. “Kurasa kalian salah paham. Aku Ling Royyan Fallahi, penguasa enam elemen!” ujarku menyela keramaian. “Kami tahu!” jawab mereka serempak. “Kalau begitu, kenapa kalian menghadangku?!” “Karena Kakak sudah menangkap ayah kami,” ujar mereka serempak.


“Kau benar. Bento alias Beni Hartanto adalah suamiku. Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, kami mendirikan panti asuhan ini. Kami berdua membangun panti asuhan ini agar kami bisa merasakan rasanya memiliki anak seperti orang-orang pada umumnya. Walau bukan berarti kami tidak menyayangi anak kami, Raisa. Mungkin seperti yang kau tahu, Raisa mengalami Progeria. Tak ada dokter ataupun obat untuk menyembuhkannya. Kami tidak menyerah untuk mengobatinya. Namun karena hampir tak ada harapan untuk sembuh, suamiku mulai memasuki dunia gelap. Ia mencari informasi di jaringan internet yang berbahaya, membayar beberapa anggota mafia agar bekerja untuknya, dan memulai perburuan batu Cakra.”


“Jadi, kau tahu semua itu?” selaku. “Ya, aku mengetahuinya. Aku juga sudah menegurnya, tetapi ia selalu mengatakan semua yang ia lakukan untuk kesembuhan Raisa. Sampai akhirnya, kaulah yang menghentikan perbuatannya. Aku berterima kasih padamu karena sudah mengalahkannya,” ujarnya.


“Terima kasih atas pujiannya. Tapi aku kemari bukan hanya untuk berkunjung. Aku ingin menyembuhkan anakmu. Apakah boleh?” tanyaku. “Tentu saja. Aku juga ingin ia sembuh dan dapat beraktivitas seperti anak-anak seusianya. Aku sedih saat melihatnya hanya bisa terbaring di kasur dengan lemah. Sesekali kuajarkan ia beberapa pelajaran dan kubacakan beberapa kisah,” ujarnya sambil menitikkan air mata. “Tenang saja. Percayalah, Allah akan menyembuhkan dirinya. Biarkan aku bertemu dengan anakmu,” ujarku dengan lembut.


“Baiklah, lewat sini!” ujarnya sambil berdiri dan mengusap air matanya. Ia pun membuka sebuah pintu kamar yang terletak paling depan. Saat masuk, kulihat seorang perempuan berumur sekitar 50 tahun terbaring di kasur. “Raisa, ada yang ingin bertemu denganmu!” ujar Istri Bento. “Siapa? Apakah Ayah?” tanya Raisa dengan lemah. Melihat kondisinya yang begitu sangat memprihatinkan. Aku rasa masuk akal jika Bento mengambil langkah berbahaya untuk putri semata wayangnya ini.


“Bukan. Aku Ling Royyan Fallahi, panggil saja Roy. Aku akan berusaha menyembuhkanmu,” jawabku. “Pergilah. Percuma saja kau mencoba. Aku tidak akan bisa sembuh,” ujarnya sembari berbalik dan menghadap ke tembok secara perlahan.


“Baiklah, aku akan mengobatimu. Baik kau setuju atau tidak. Aliran energi!” seruku sembari menyalurkan energi daun yang bersifat menyembuhkan ke dalam tubuhnya. Anak-anak yang tadi menghadangku, ikut menyaksikan dengan ibu mereka. Tak lama, tubuh Raisa sedikit demi sedikit kembali muda. Kulit-kulitnya kembali kencang. Rambutnya pun kembali hitam lebat. Akhirnya tampaklah wajah asli dari Raisa. Ternyata ia adalah gadis seumuranku dengan wajah yang manis. “A-apa yang terjadi? Tubuhku, normal?!” gumamnya kebingungan.


“Ra-Raisa!!!” teriak ibunya histeris sembari berlari memeluknya dengan erat. Diikuti dengan anak-anak kecil yang mengitari di belakangnya. “Baiklah, tugasku di sini sudah selesai. Selamat menempuh hidup yang baru, Raisa!!” ujarku sambil meninggalkan ruangan. “Tunggu dulu! Tadi siapa namamu?” tanyanya sambil sedikit berteriak. “Ling Royyan Fallahi, penguasa enam elemen.”