
Liburan semester 1 telah tiba. Kali ini setelah sarapan, aku dan Kak Salsa bersantai sambil menonton TV. Tiba-tiba, suara bel kami berbunyi, “TING TUNG!!” Aku pun langsung membuka pintu, “Siapa, ya?” Saat kubuka, tampak Ayumi dan keluarganya berdiri di depan pintu. “Hai, Roy! Lama tidak bertemu!” Aku yang masih melongo baru sadar beberapa detik kemudian, “Bagaimana kalian bisa ke sini?!” tanyaku dengan nada terkejut. “Kau lupa, kalau sekolah di Cina juga libur saat musim dingin,” jawab Ayumi. “Benar juga. Baiklah, silakan masuk!” kataku sambil mempersilakan mereka masuk. Mereka semua pun masuk dan duduk di ruang tamu.
Ibu yang tadi sedang mencuci piring sekarang ikut menyambut mereka di ruang tamu, “Ah, Akira, Akasuki, lama tidak bertemu,” katanya sambil menjabat tangan mereka. “Ngomong-ngomong kenapa kalian kemari?” tanya Ibu. “Ah, itu karena Ayumi sangat ingin bertemu Roy,” jawab Ayah Ayumi sambil mengelus kepalanya. “Tidak!! Aku kan juga ingin tahu bagaimana makanan Indonesia! Kata Roy makanan Indonesia sangat enak, jadi aku ingin ke sini!” bantah Ayumi dengan muka sebal. “Memangnya kau bawa uang Rupiah? Seingatku dulu, kau tidak membawa uang Yuan dan aku yang mentraktirmu,” sindirku. “Tentu saja bawa! Aku kan sudah merencanakan ini dengan matang!” timpalnya. Orang tua kami pun hanya tertawa melihat tingkah laku kami.
“Oh iya, Roy! Ini sudah jam 8. Katanya kau ada janji dengan Layla di rumahnya,” sahut Kak Salsa dari ruang keluarga yang berada di belakang ruang tamu. “Oh iya, benar juga! Aku kan harus membantunya menyempurnakan robot kami! Ah, maaf Ayumi! Aku harus pergi!” kataku sambil membawa berisi beberapa barang yang sudah kusiapkan dari tadi. “Kau kan bisa mengajak Ayumi juga. Pakai saja sepedaku,” sahut Kak Salsa. “Oh, benar juga. Apakah kau mau ikut Ayumi?” tanyaku. “Yah, kalau kau tidak keberatan,” jawabnya malu-malu. “Baiklah, ayo!” kataku sambil menariknya ke luar apartemen. “Ibu, aku berangkat! Assalamu’alaikum!!” “Wa’alaikumussalam. Hati-hati!” jawabnya.
Aku pun mengambil sepedaku di bagasi. Sementara itu, Ayumi masih berdiri tanpa melakukan apa-apa. “Ayo cepat!” kataku. “Emm, aku tidak bisa bersepeda,” jawabnya polos. “Baiklah kalau begitu, akan aku bonceng. Pegangan yang erat ya!” seruku. Ia pun naik ke boncengan sepeda di bagian belakang. Setelah Ayumi menaiki sepeda, aku langsung mengayuh sepedaku cepat-cepat agar tak terlambat.
***
Sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di rumah Layla. Layla yang menunggu di depan rumah pun menghampiri kami dan mengomel, “Lama sekali! Kau sudah terlambat satu menit tau!” “Yang benar saja, satu menit pun dihitung. Benar-benar mirip Pak guru Li,” gumamku dan Ayumi berbarengan. “Eh, tunggu dulu! Kau Ayumi, kan? Wah, senang bertemu denganmu secara langsung!” kata Layla. “Ah, iya. Senang bertemu denganmu juga,” katanya sambil menjabat tangan Layla. “Baiklah Ayumi, silakan masuk!” kata Layla. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah sementara aku memarkir sepeda.
Aku pun masuk ke rumah Layla dan membuka pintu rumahnya. Kulihat, Layla dan Ayumi sedang mengobrol di ruang tamu. “Baiklah, ayo kita sempurnakan Helmbot!” ajakku. “Apa itu Helmbot?” tanya Ayumi. “Helmbot adalah robot yang kami buat bersama. Hari ini kami ingin mengotak-atiknya sedikit,” jawab Layla. Namun tiba-tiba, lampu di rumah Layla padam. “Ada apa ini? Hari ini tidak hujan maupun perbaikan. Kenapa lampunya mati?” gumam Layla keheranan. “Roy, aku takut!” kata Ayumi sambil bersembunyi di belakangku. Kemudian, pintu di buka dengan kasar. “Hahaha! Lama tidak berjumpa anak-anak nakal!” kata seseorang berpakaian gelap. Tampak beberapa orang yang juga berpakaian gelap berada di belakangnya.
“Ternyata dia lagi!!” gumam Layla kesal. Sementara itu, Ayumi memegang tanganku dengan erat. “Sepertinya kalian punya teman baru, ya! Tapi itu takkan menghentikanku untuk mengambil Batu Cakra darimu, anak berambut biru!” serunya. “Jadi, nama batu-batu ini adalah Batu Cakra,” batinku. “Sekarang bagaimana, Roy?” tanya Layla. “Aku akan mengalahkan mereka satu per satu.” “Tunggu, kau akan melawan mereka sendirian?” tanya Ayumi dengan nada khawatir. “Tenang saja. Aku akan baik-baik saja,” jawabku sambil melepaskan tangan Ayumi dari tanganku.
Aku pun langsung menghindar menggunakan Lightning Rush. Setelah menghindar, aku langsung menyerang penjahat itu menggunakan tapak penghancur. Penjahat itu pun jatuh tak berdaya setelah menerima tinju dariku. “Awas, kau bocah nakal! Aku akan kembali!” kata si pemimpin para penjahat sambil melarikan diri. “Cepat! Gunakan kekuatanku! Sshhs!” seru Kobra. “Tidak secepat itu. Aku adalah penguasa hutan yang melindungi manusia baik, Kobra Daun!” seruku sambil berubah menjadi manusia setengah ular. Kulitku berubah menjadi sisik berwarna hijau dan rambutku berubah warna menjadi hijau.
“Eh, tunggu apa? Ah! Aku tidak bisa seimbang! Aduh!” aku pun jatuh tersungkur setelah kakiku berubah menjadi ekor ular. “Aduh, kenapa kakiku malah jadi ekor!” gumamku kesal. “Sshhs! namanya saja kekuatan ular. Tentu saja kakimu akan berubah menjadi ekor ular. Sudahlah, cepat jerat penjahat itu dengan jeratan dari sulur tumbuhan!” perintah Kobra dalam pikiranku.
“Baiklah, rasakan ini! Jeratan sulur!” seruku sambil mengeluarkan beberapa sulur dari tanah dan langsung menjerat penjahat itu. “Ah, apa ini!” kata Si Penjahat sambil mencoba melepaskan diri. Kami bertiga pun mengikat mereka dan menelepon polisi. “Roy, jadi kau punya kekuatan, ya?” tanya Ayumi malu-malu. “Iya, maaf aku tak cerita kepadamu,” jawabku dengan nada bersalah. “Tidak apa. Terima kasih sudah melindungiku, Roy!” sahutnya dengan senyuman. Senyuman yang jarang kulihat selama aku di Indonesia.
Tak lama kemudian, polisi datang dan membawa para penjahat itu. “Jadi, apakah kalian yang mengalahkan para penjahat ini?” tanya polisi. “I-iya. Kami menggunakan beberapa perangkap untuk menangkapnya,” jawabku. “Wah, hebat sekali! Baiklah, terima kasih anak-anak!” sahut polisi itu. Setelah mereka dibawa ke mobil polisi, kami mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Selain itu, kami juga memperbaiki kotak listrik yang sudah dirusak oleh para penjahat itu. Di dalam mobil polisi, “Bos, kau menyelamatkan kami!” kata pemimpin penjahat itu kegirangan. “Tentu saja. Tujuan kita masih belum tercapai, Darko!” jawab Si Polisi sambil membuka penyamarannya. Mereka pun pergi entah ke mana.
Setelah berhasil mengalahkan para penjahat, kami pun mengotak-atik Helmbot. Setelah 2 jam yang melelahkan, adzan Dhuhur pun berkumandang. Aku dan Layla pun langsung sholat Dhuhur berjama’ah. Setelah itu, aku dan Ayumi bersepeda kembali ke apartemen. Sesampainya di apartemen, kami pun pergi ke kamarku. “Assalamu’alaikum. Aku pulang!” seruku. “Wa’alaikumussalam. Nah, kau tepat waktu, Roy! Makan siang hampir siap!” kata Ibu dari dapur. Kami pun pergi ke ruang makan.
Nampak ayahku, ayah Ayumi dan Kak Salsa sedang duduk di meja makan. Sementara itu, ibuku dan ibu Ayumi sedang menyiapkan nasi pecel ke masing-masing piring. “Nah, silakan dimakan!” kata Ibu sambil menyodorkan piring ke meja masing-masing. Setelah semua orang mendapat jatah makan, ibuku dan ibu Ayumi turut makan bersama. “Selamat makan!” seru kami semua. “Bismillaahirrohmaanirrohiim!!” aku, ibuku, ayahku, dan Kak Salsa mengucapkan basmalah secara bersamaan. Kami pun makan bersama dengan hati yang gembira.