
Sebuah suara memanggilku, “Bangun!” Suara itu perlahan mulai meneriakiku, “Cepat bangun!” Tak lama kemudian, “Aahh!!” teriakku saat Sang Sumber suara mencubit pahaku. Aku pun terkejut dan bangkit dari tidurku. “Hah, apakah kau sudah bangun?” katanya dengan senyum mengejek. “Yang benar saja! Ini kan hari libur, kenapa harus bangun pagi sekali! Selain itu, apa tak ada cara lain untuk membangunkanku?” jawabku kesal. “Ya sudah kalau tidak mau bangun. Aku makan saja sarapanmu!” kata gadis berambut biru langit itu sambil keluar dari kamarku dengan dingin. Aku pun pergi ke kamar mandi dan segera mandi. Perkenalkan, aku Ling Royyan Fallahi. Dan gadis berambut biru yang tadi, itu adalah kakakku, Ling Salsabilla Fallahi. Aku lahir dan tinggal di Beijing, Cina.
Setelah selesai mandi, aku segera mengambil kaos putih bercorak garis hitam abstrak di bagian dada beserta training hitam bergaris biru dan rompi biru yang serasi dengan warna lautan yang luas. Kemudian, aku bergegas menuju ruang makan sebelum sarapanku diambil Kak Salsa. Sesampainya di ruang makan, aku disambut aroma nasi goreng buatan Ibu yang lezat. Dari mencium baunya saja, sudah bisa dibayangkan rasa nasinya yang pulen dan gurih. Aku pun bersiap memakan nasi gorengku, namun ada yang terasa janggal.
Kuperhatikan sekeliling. Kemudian, baru aku sadar. Ayah tidak terlihat di dapur. Aku pun bertanya pada Ibu, “Ibu, ayah di mana? Biasanya kan Ayah yang pertama sarapan?” Setelah mengambil nasi, Ibu duduk di kursi dan menjawab, “Ayah masih latihan silat. Mungkin sebentar lagi selesai.” “Ooo, kukira ke mana. Ternyata ayah masih latihan,” jawabku polos. Detik demi detik berlalu. Aku sudah selesai makan dan ayah belum kembali. Aku pun pergi ke halaman belakang.
“Hyaa!! Tapak Penghancur!!” Teriakan keras Ayah membuatku kaget. Aku pun menengok apa yang terjadi di sana. Namun, yang kulihat hanya tumpukan kayu patah yang berserakan setelah dihantam telapak tangan Ayah dengan keras. Seragam silat berwarna merah cerah dengan garis kuning di bagian leher, pergelangan tangan, pergelangan kaki, serta garis kuning panjang yang melintang dari dada hingga pinggang tampak basah oleh keringat Ayah. Sabuk kuning sebagai pelengkap juga tampak tak teratur karena Ayah tak sempat memperbaiki ikatannya. “Ayah, Ayah tidak sarapan?” tanyaku. “Ah, maaf Ayah lupa. Ayah terlalu serius berlatih tadi,” jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal. Ia pun pergi ke dapur dan mengambil makanan. Aku duduk di sebelahnya untuk menemaninya.
Selesai makan, aku bertanya pada Ayah, “Ayah, kenapa Ayah tadi teriak-teriak? Aku kan jadi kaget!” “Yah maaf, Roy! Ayah terbawa suasana. Hahaha!!” jawabnya dengan santai. “Tadi itu Ayah berlatih beberapa jurus. Saking semangatnya, Ayah sampai lupa sarapan. Hahaha!!” sambungnya. “Yang benar saja, bagaimana mungkin seseorang bisa lupa belum sarapan saat berlatih fisik. Bukannya mereka akan lemas jika belum sarapan. Hah, entahlah. Aku tak mengerti!” pikirku.
“Oh iya Ayah, apakah aku boleh ikut berlatih silat dengan Ayah?” tanyaku. “Boleh saja, malah bagus kalau kamu mau ikut. Seorang laki-laki itu harus kuat agar bisa melindungi dirinya dan juga melindungi wanita. Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah, hadits riwayat Muslim,” jawabnya panjang lebar. “Begitu, ya! Baiklah aku mau!!” seruku. “Baiklah, kalau begitu besok kita mulai latihan!” ajak Ayah. “Ya!!” tanggapku dengan semangat. “Hei Kak Salsa, kau yakin tidak ingin ikut?” tanyaku dengan senyum menggoda. “Hariku sudah cukup sibuk dengan sekolah dan latihan meramal. Kurasa tidak,” jawabnya dengan sinis sambil memandangi ponselnya.