
Sudah 2 tahun aku menjalani kehidupan normalku. Dimulai dengan bangun tidur, merapikan tempat tidur, lalu pergi mandi dan berganti pakaian. Kemudian aku sarapan bersama Ayah, Kak Salsa dan juga Ibu. Setelah itu, aku dan Kak Salsa berangkat ke sekolah. Beberapa meter di sebelah rumahku, Ayumi bergabung dalam perjalanan ke sekolah. Di tengah jalan, lagi-lagi Kak Jia Li kembali meminta diramal. Setelah diramal, kami berempat melanjutkan ke sekolah. Dan tentu saja, sesampainya di sana aku diejek oleh Chang Yi. Namun, aku melaksanakan titah ibuku. Kuabaikan setiap ejekan yang kudengar.
Setelah beberapa jam sekolah, kami pulang ke rumah masing-masing. Aku dan Kak Salsa pun langsung berlatih silat. Yah, dia hanya diperbolehkan main HP di hari libur agar matanya tidak rusak. Jadi, dia ikut berlatih denganku agar ia tak bosan. Biasanya kami berlatih dari jam 4 hingga jam 6 sore. Tapi untuk hari libur, jam 5-7 pagi kami berlatih ditambah sore seperti biasa. Setelah berlatih, kami sholat Maghrib dan makan malam. Untuk sholat Dhuhur, biasanya kami memanfaatkan jam makan siang untuk sholat Dhuhur di ruang guru yang jarang digunakan saat jam istirahat. Dan saat sholat Ashar, kami sudah tiba di rumah. Jadi, kami sholat Ashar di rumah.
“Berita bagus semuanya!! Ayah sudah lulus S2 jurusan teknik!!” katanya dengan penuh rasa senang. Yah, jurusan ayahku dengan Ayah Ayumi memang sama. Tapi, ayahku sudah terlebih dulu mengambil S2, jadi dia yang lulus duluan. Lagi pula, dia memang lebih tua beberapa tahun dari Ayah Ayumi. “Selamat Ayah!” jawab semua orang serentak. “Oh iya, karena Ayah sudah lulus, kita bisa pindah ke Indonesia!!” kata Ayah. “Tunggu, apa!!??” sahutku dan Kak Salsa berbarengan. “Kenapa? Kalian tidak suka?” tanya Ibu sambil melepaskan celemek masaknya. “Tidak, aku cuma kaget saja,” jawabku.
“Jadi, bagaimana. Apakah kalian mau pindah?” tanya Ayah. “Bagaimana, ya?” jawabku bingung. “Kalau kita pindah ke Indonesia, kita tidak susah mencari masjid untuk sholat. Selain itu, kita juga bisa makan pecel, soto, sate, dan lain-lain,” goda Ayah. “Baiklah!! Ayo kita pindah!!” jawabku dan Kak Salsa dengan semangat. “Baiklah, besok kita urus perpindahannya!” “Aku sebenarnya tidak masalah kalau pindah. Tapi memangnya Ayah punya uang untuk kebutuhan di sana?” tanya Ibu. “Tenang saja, Ayah sudah menabung. Insya Allah cukup,” jawab Ayah meyakinkan. “Baiklah, terserah Ayah saja,” jawab Ibu. “Yee!! Kita pindah ke Indonesia!” seruku dan Kak Salsa serentak.
Beberapa hari kemudian, kami pamit kepada para tetangga dan teman-teman. “Salsa, kalau kau pindah siapa yang akan meramalku?” rengek Kak Jia Li. “Tenang saja, kalau kau butuh ramalanku, kau bisa meneleponku. Tapi jangan lupa, transfer uangnya juga ya,” jawab Kak Salsa dengan seringai seram. Sementara itu, Ayumi hanya tersenyum dan berkata, “Yah, semoga kalian betah tinggal di sana. Jangan lupakan aku. Oke!” “Tenang saja, aku yakin kita akan bertemu lagi,” jawabku. “Lagipula, mana mungkin aku lupa. Ingatanku kan jauh lebih baik, hahaha!” “Hei, aku sedang serius, tapi kau malah bercanda. Baiklah, aku pergi!” Ayumi pun kembali masuk ke dalam rumahnya dengan kesal. Kami pun mengendarai mobil dan menuju ke bandara.
“Penerbangan menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta bersiap untuk lepas landas. Bagi para penumpang, harap segera naik ke pesawat,” kata pramugari melalui pengeras suara. Kami pun membawa barang bawaan kami dan naik ke pesawat. “Pesawat akan lepas landas. Para penumpang, tolong matikan HP dan memakai sabuk keselamatan” Tak lama kemudian, pesawat lepas landas dan kami terbang mengarungi samudra biru. Menuju ke negeri asal tempat ayahku dilahirkan dan dibesarkan, Indonesia. Apakah kehidupanku di Indonesia bisa lebih baik? Yah, aku tak tahu. Tapi mungkin Ibu dan Kak Salsa akan mengetahuinya. Karena mereka adalah peramal yang handal.