The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin

The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin
Bab 10: Kekuatan Atau Kutukan



“Bu Ayu! Awas! Di belakang!” seruku memperingatkan. Beberapa ekor ular kobra muncul di belakang Bu Ayu. Ia pun segera berlari menjauh dari kerumunan ular kobra itu. Kami semua ketakutan dan gemetaran di hadapan sekelompok ular kobra yang terkenal mematikan. Ular-ular itu kemudian mengangkat tubuhnya dan merundukkan kepalanya seakan memberi hormat kepada kami. Setelah itu, mereka pun pergi menjauh. “Hei, apa yang kau tunggu! Cepat ikuti ular-ular itu, bodoh!” sebuah suara muncul di kepalaku. Aku pun tenggelam dalam pikiranku sendiri. “Di mana aku?”


“Kau itu memang bodoh, ya! Ini adalah bagian dalam pikiranmu!” kata suara itu lagi. Aku pun melihat seekor ular kobra raksasa berwarna hijau. “Ka-kau bukannya batu hijau bercorak kobra!” seruku. “Sshhs! Ya, benar. Aku adalah ular yang menguasai hutan. Aku adalah Kobra Daun!” katanya memperkenalkan diri. “Sombong sajalah kau penguasa hutan. Aku adalah api abadi yang tak pernah padam. Aku, Phoenix Api!” kata seekor burung berwarna merah menyala seperti api. “Hhh, sombong sekali, kau Phoenix! Api abadi yang tak pernah padam. Bah, aku akan memadamkan apimu dengan air dan es paling dingin di seluruh dunia! Aku, Naga Biru, penguasa air dan es!” kata seekor naga yang berwarna biru. “Tunggu dulu, berapa banyak monster yang ada di sini?” tanyaku.


“Yah, kenapa tidak kau hitung sendiri. Aku adalah angin yang berderu kencang di tengah badai, Garuda!” jawab seekor burung yang mirip elang. “Hei, badai itu adalah wilayahku! Aku adalah petir yang menyambar di dalam badai yang bergemuruh. Aku, Macan Petir!” “Kalian masih saja bertengkar? Astaga, kalian benar-benar harus mengubah sikap kalian di hadapan tuan baru kita. Aku adalah penguasa tanah dan pasir, Scorpion!” kata seekor kalajengking raksasa. “Tunggu dulu, apa maksudmu dengan memanggilku tuan?” tanyaku. “Sshhs! Itu karena Anda sudah membebaskan kami dari kutukan, dengan memberikan darah kepada kami,” jawab si Kobra sambil menundukkan kepalanya.


“Kutukan? Apa maksudmu batu warna-warni yang kutemukan semalam?” “Benar. Dahulu kala, kami adalah penguasa dunia. Masing-masing dari kami memiliki wilayah yang berbeda. Namun, sejak kedatangan manusia yang tamak, kami pun tergusur dan terpaksa hidup di wilayah yang sempit. Semakin hari, kompetisi di antara kami semakin memuncak. Kami pun memutuskan untuk bertarung agar pemenang bisa menguasai satu wilayah secara utuh,” cerita Garuda. “Yang benar saja, bertarung karena perebutan wilayah? Itu benar-benar konyol,” selaku. “Diam! Jangan memotong!” bentaknya. “Iya-iya,” jawabku.


“Masing-masing dari kami mengeluarkan jurus terhebat kami. Kemudian, para manusia yang tamak memanfaatkan itu untuk mengutuk kami dengan mengirim kami ke Portal Dunia Pembawa Bencana. Kami yang dikirim ke sana pun hanya bisa bertahan dari penyedotan energi yang sangat kuat dari portal itu. Untuk menghindari kehabisan energi, kami pun mengubah seluruh energi yang kami punya untuk menjaganya tetap aman. Kami pun berubah menjadi batu-batu yang kau temui tadi malam, tuan!”


“Jadi, kalian menjadi batu karena hampir kehabisan energi. Kemudian darahku menjadi penyelamat kalian. Begitu?” “Ya, tuan. Saat kami sudah menjadi batu, kami tidak bisa kembali seperti semula. Kami terjebak berabad-abad di dalamnya, hingga darah tuan menetes diatasi kami. Setelah darah tuan menetes, batu kami retak dan akhirnya pecah. Sebagai balas budi, kami akan mendampingi tuan hingga akhir hayat,” jawab Garuda.


Aku pun kembali ke dunia nyata. “Huh, untunglah ular kobra itu sudah pergi,” kata Bu Ayu. “Bukannya aku berada di pikiranku cukup lama tadi?” batinku. “Kau tahu, saat kau berada di pikiran, dunia serasa berhenti,” kata Phoenix. “Tunggu apa lagi, kau mau keluar tidak? Sshhs!” tanya Kobra. Aku pun langsung berlari mengikuti ular-ular itu. “Hei, Roy! Kau mau ke mana?” tanya Layla. “Aku ingin keluar dari hutan ini! Kalau kalian tidak mau, biar aku saja yang pergi,” jawabku. Mereka pun pergi mengikutiku. Tak lama kemudian, kami mendapati jalan setapak yang menuju ke luar hutan.


Para ular yang mengantar kami kembali memberi hormat dan pergi ke dalam hutan. Kami pun menyusuri jalan setapak itu dan akhirnya keluar dari hutan itu. “Alhamdulillah, kita berhasil keluar!” teriak Layla histeris. Kami semua pun kembali ke perkemahan. Namun sebelum itu, aku menghadap ke hutan dan mengucapkan terima kasih kepada para ular, “Terima kasih, para ular.” “Apa yang kau lakukan?” tanya Layla. “Ah, bukan apa-apa. Aku hanya senang kita bisa keluar dari hutan itu,” jawabku. “Baiklah. Kalau begitu, ayo kembali ke perkemahan! Aku merasa lapar.” “Yang benar saja. Kalau kau makan terus, tubuhmu akan dimakan harimau duluan, loh!” sahutku. “Kau bilang apa??!!” bentaknya. “Ah, bukan apa-apa!” “Aahh!!” Sebuah cubitan menimpa lenganku. “Itu balasan karena sudah mengejekku,” ujar Layla senang.


Kami semua sudah sampai ke perkemahan. Bekas cubitan Layla menghilang tanpa kusadari. “Hei, bagaimana lukamu bisa sembuh secepat itu?” tanya Layla. “Mana kutahu, aku saja tidak sadar kalau itu sudah sembuh.” Kami pun melanjutkan kegiatan dengan sholat Dhuhur berjama’ah dan makan siang. “Hei, Roy! Ide bagus mengikuti ular-ular itu!” puji Azrul. “Ah, tidak juga. Aku hanya menjalankan sesuai insting. Hahaha!!” jawabku. “Yah, itu sebenarnya karena aku diajari oleh 6 monster berkekuatan hebat yang ada di tubuhku,” batinku. “Baiklah, anak-anak! Setelah makan silakan istirahat! Kalian boleh melakukan apa pun yang kalian mau hari ini,” kata Bu Ayu. “Baik!!” jawab kami serempak. Aku pun kembali ke sungai untuk menyelidiki siapa yang membawa batu-batu ini. “Mungkin ada sebuah petunjuk di sungai,” gumamku.


Tak lama kemudian, aku menemukan sebuah jejak kaki yang lebih besar dari punyaku. “Hei, Layla! Lihatlah ini!” panggilku. “Hmm, itu hanya jejak kaki. Apa istimewanya?” “Tentu saja istimewa. Lihatlah, jejak kaki ini lebih besar dari ukuran kakiku. Selain itu sebelum tidur, perkemahan sempat mengalami hujan yang cukup deras. Jika ada orang yang berjalan pada malam hari, maka tanah masih becek dan jejaknya akan lebih dalam dibanding milik kalian,” kataku sambil menunjuk jejak kaki guru dan teman-teman yang datang setelah matahari terbit.


“Maksudmu, ceritamu tadi pagi itu nyata. Bukan khayalan ataupun mimpi?!” tanya Layla. “Ya, itu benar.” “Lalu apa yang terjadi? Bagaimana koper itu bisa menghilang?” tanyanya. “Aku tidak tahu, seingatku aku pingsan dan saat aku bangun, lukaku sudah pulih,” “Roy, jangan-jangan kau mendapat kekuatan dari batu-batu yang kau temukan tadi malam?” “Tentu saja! Menurutmu bagaimana caraku memulihkan luka cubitanmu? Selain itu, mengapa para ular tak menyerang kita, tapi malah membawa kita ke jalan keluar?” jawabku.



“Wah, itu hebat! Jadi kau punya kekuatan ular?” “Kurasa tidak hanya ular. Naga, phoenix, garuda, macan, dan kalajengking mungkin juga memiliki kekuatan lain,” jawabku. “Kalau begitu, tunjukkan!” katanya dengan antusias yang tinggi. Kemudian, seseorang muncul tanpa diundang, “Wah, wah ,wah. Seharusnya batu itu dapat memberiku uang yang banyak. Tapi malah hilang terserap oleh anak ingusan seperti ini,”


Kemudian kulihat seseorang berbaju gelap memakai topeng menghampiri kami. “Si-siapa dia, Roy!” tanya Layla sambil bersembunyi di balikku. “Oh, jadi kau yang membawa batu-batu aneh itu ke dalam koper. Bisakah kau jelaskan, kenapa batu-batu itu sangat berharga?” “Hhh! Aku tak perlu menjelaskan kepada anak yang belum tentu dapat hidup setelah ini,” jawabnya sambil mengeluarkan pisau. “Hyaa!!” dia mengayunkan pisaunya kepada kami. “Layla, menyingkir!” seruku sambil mendorong Layla menjauh. “Aahh!!” teriakku saat bahuku tergores ujung pisau yang tajam. “Cepat, lari!!” seruku ke Layla. Ia pun mengangguk dan langsung berlari menjauh. “Hei, kau mau ke mana?” kata orang itu sambil mengangkat Layla.


“Ah! Lepaskan aku!” teriak Layla meronta. “Lepaskan Layla!” aku pun bangkit dan memukul orang itu. “Rasakan ini, tapak penghancur!! Hyaa!!” “Ahh!!” orang itu pun terpental sangat jauh dan menjatuhkan Layla ke tanah. “Layla, kau tidak apa-apa?” tanyaku. “Aku baik-baik saja. Bagaimana lukamu?” “Tenang saja, lukaku sudah sembuh,” kataku sambil menunjukkan bahu yang sudah kembali seperti semula. Sosok itu berdiri sambil berpegangan pada pohon di dekatnya. “Ahh!! Awas, kau! Lain kali, tidak akan seperti ini!!” serunya sambil melarikan diri.


“Hei, Roy! Matamu berubah menjadi putih keabu-abuan. Apa kau baik-baik saja?” tanya Layla. Aku pun langsung memeriksa mataku di bayangan yang berasal dari aliran sungai. “Mataku, berubah warna?” batinku. Tak lama kemudian, warna mataku kembali seperti semula, biru tua. “Apa yang terjadi?” aku pun kembali tenggelam dalam pikiranku. “Sepertinya kau sudah berhasil menggunakan beberapa kekuatan dari kami,” kata Garuda. “Kekuatan?”


“Ya! Saat kau menggunakan sebagian kekuatan kami, warna matamu akan berubah sesuai dengan kekuatan yang kau gunakan. Seperti tadi, saat kau meninju penjahat itu menggunakan tapak penghancur, tanpa kau sadari kau menggunakan kekuatan angin,” Aku pun keluar dari pikiran dan kembali ke dunia nyata. “Aku, memiliki kekuatan super!! Layla, saat aku menggunakan kekuatanku, warna mataku akan berubah!” seruku. “Wah, itu adalah hal yang bagus!” timpalnya.