The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin

The Legend Of Ling: An Amazing Journey Will Begin
Bab 14: Jalan-jalan



Hari Mingu, hari libur yang ditunggu semua orang akhirnya tiba. Ayah mengajak kami liburan ke Ancol DUFAN. “Kukira Ayah tidak punya uang?” tanyaku. “Yah, setelah Ayah bekerja, tentu saja Ayah punya uang. Kalau beberapa bulan yang lalu, Ayah kan belum bekerja. Jadi, Ayah takut untuk menghabiskan tabungan di bank,” jawabnya. Kami pun berangkat ke Ancol dengan hati yang senang. “Sebaiknya kita waspada. Insting Ibu tidak enak,” kata Ibu saat turun dari mobil. Kami pun membeli tiket dan memasuki Ancol DUFAN. Kami pun melihat berbagai wahana yang menarik perhatian kami. Kami pun mencoba satu per satu wahana itu. Mulai dari bianglala, kora-kora, hingga halilintar yang sangat menyenangkan.


Setelah selesai mencoba semua wahana, kami pun pergi ke musholla untuk sholat Dhuhur karena adzan Dhuhur sudah berkumandang. Setelah itu, kami pun pergi ke area food court untuk makan. Saat makan siang, kami bertemu dengan keluarga Ayumi dan keluarga Layla. Kami semua pun makan bersama. Selesai makan, kami pun menuju wahana air, Ice Age: Sid's Arctic Tours. Namun, belum sempat kami berangkat. Seorang laki-laki mencopet dompet Ibu Ayumi. “Ah! Dompetku!” teriaknya. Si Pencopet tak menghiraukannya dan kabur dengan dompet Ibu Ayumi. Aku pun mengejarnya dengan Lightning Rush. “Berhenti!!” teriakku. Pencopet itu berusaha berlari lebih cepat. Namun, aku sudah menghadangnya di depan.


Aku pun memukulnya dan pencopet itu jatuh tergeletak di tanah. Aku pun kembali berlari untuk mengembalikannya ke Ibu Ayumi. “Terima kasih, Roy! Ternyata kau memang memiliki kekuatan super, seperti yang dikatakan Ayumi,” kata Ibu Ayumi. “Tunggu dulu, kalian semua sudah tahu aku punya kekuatan super?” tanyaku dengan penuh keheranan. “Tentu saja, kami kan menceritakannya,” jawab Ayumi dan Layla serempak. Kami pun melanjutkan liburan kami. “Wau, ini akan menjadi video yang bagus!” gumam seorang turis yang merekam aksiku tanpa kusadari sembari mengunggahnya ke internet.


Setelah ke wahana Ice Age: Sid's Arctic Tours, kami pun kembali ke rumah masing-masing. Sesampainya di apartemen, kami mendapati para wartawan memenuhi ruang lobby. “Kenapa sangat ramai?” gumam Ayah. “Emm, Ayah. Sepertinya aku tahu kenapa apartemen sangat ramai,” kata Kak Salsa sambil memperlihatkan sebuah video di HP-nya. “Viral, seorang anak berlari secepat kilat untuk mengambil dompet seorang wanita yang dicopet. Setelah dikonfirmasi, anak itu bernama Ling Royyan Fallahi atau biasa dipanggil, Roy,” perkataan reporter di video itu mengejutkan kami. “Hei, bukankah itu orang tuanya Roy?” tanya seorang tetangga kami yang terjebak di depan lobby. “Iya, itu orang tuanya Roy!” jawab Bu Ayu yang juga berada dalam kerumunan warga dan wartawan itu.


Sontak, mereka pun langsung berlari menuju mobil kami. Ayah yang terkejut langsung menancap gas dan pergi dari sana. “Aduh, sekarang bagaimana? Kita dikejar sekumpulan wartawan yang haus informasi!” kata Ayah dengan panik. “Yang benar saja, Ibu kan sudah bilang untuk waspada. Kalian malah keasyikan,” gerutu Ibu. “Kalau sudah begini, bukannya lebih baik dihadapi saja. Lagi pula, jadi pahlawan super yang terkenal di seluruh dunia tidak terlalu buruk menurutku,” jawabku dengan santai. “Menghadapinya memang mudah, tapi bukankah menjelaskannya pada mereka lebih sulit?” sahut Kak Salsa. “Lalu, apakah ada yang punya ide lebih baik di sini?” tanyaku. “Tidak!” jawab Ayah, Ibu, dan Kak Salsa serentak.


“Baiklah kalau begitu. Ayah, cepat kembali ke apartemen! Aku punya rencana yang cukup bagus,” kataku dengan yakin. “Baiklah! Semoga rencanamu berhasil!” Ayah pun segera membelokkan setir mobil dan melaju menuju apartemen. Kami pun parkir dan turun dari mobil. Para wartawan segera menghampiri kami layaknya semut mengerumuni makanan. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan secara bersamaan hingga membuat kami bingung. “Maaf, tidak ada komentar!” jawabku. Kami pun masuk kembali ke dalam apartemen nyaman kami. “Yang benar saja! Itu terlalu mudah! Kupikir kau akan melawan mereka atau semacamnya!” seru Kak Salsa. “Hei! Kalau aku melakukan itu, aku akan ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Lagi pula, rencanaku berhasil, kan?”


“Ya, dengan wartawan berisik yang masih ada di luar apartemen,” sahut Ibu. “Yah, Ayah rasa kita tidak akan melihat mereka setelah seminggu berada di rumah terus,” timpal Ayah. “Yah, kurasa itu tak ada bedanya dengan libur sekolah tanpa jalan-jalan,” sahut Kak Salsa. Kami pun harus membiasakan diri kami dengan keadaan ini. Kami pun mandi dan istirahat di kamar masing-masing. Adzan Ashar berkumandang. Dengan adanya para wartawan yang ada di luar, aku dan Ayah memutuskan untuk sholat berjama’ah di rumah. Setelah sholat Ashar, kami pun kembali bersantai di kamar kami masing-masing. Rutinitas ini pun berulang hingga sekitar seminggu berlalu.


***


Aku pun langsung bangkit dari posisi tidurku dan bergegas pergi ke rumahnya. “Ibu, aku akan ke rumah Layla. Assalamu’alaikum!” seruku sambil memakai sepatu biruku. “Tunggu, aku juga ikut!” seru Kak Salsa. Aku pun mengetuk pintu kamar hotel Ayumi yang berada beberapa lantai di bawahku. “Ayumi! Kau mau ikut ke rumah Layla! Aku ingin melihat Helmbot!” seruku. “Memang sepedanya cukup?” tanya Kak Salsa. “Tenang saja, Ayumi akan kubonceng. Lagi pula, dia tidak bisa bersepeda,” jawabku. Tak lama kemudian, Ayumi pun keluar dari kamarnya, “Baik!! Ayo berangkat!!” Kami bertiga pun pergi ke rumah Layla dengan bersepeda. “Wah, lihat! Itu Roy! Si Anak Super!” seru warga saat melihatku keluar apartemen. Mereka pun langsung mengerumuni dan meminta tanda tanganku. “Baiklah. Satu tanda tangan lima ribu,” kataku. Para warga pun pergi dengan kecewa. “Oh, sepertinya bukan hanya aku yang mata duitan,” sindir Kak Salsa. “Hhh, aku kan terpaksa. Sudahlah! Ayo cepat berangkat!” seruku.


Setengah jam kemudian, kami bertiga tiba di rumah Layla. Dengan tergesa-gesa, kami memarkir sepeda di halaman rumah kemudian mengetuk pintunya. “Assalamu’alaikum! Layla!” seruku sambil mengetuk pintu. “Wa’alaikumussalam! Nah, ayo masuk!” jawab Layla sambil membuka pintu. “Jadi, di mana Helmbot?” tanyaku penasaran. Kemudian, sebuah robot merah melayang di belakang Layla. “Hai, aku Helmbot. Senang bertemu kalian semua!” “Wah, dia sudah diwarna merah. Apa lagi yang kau ubah?” tanyaku kegirangan.


“Kami sudah memasang mesin jet kecil yang dapat membuatnya terbang lebih efisien. Kemudian, kami juga mengganti tangannya menggunakan bahan karet yang lentur dan mudah dipakai. Selain itu, sekarang layarnya dapat menampilkan berbagai ekspresi dan juga dapat menampilkan gambar, video, maupun dokumen. Kami juga menambahkan fitur agar ia bisa mengakses informasi ke seluruh dunia! Ia bahkan bisa mengakses data komputer lain yang terhubung internet,” jelas Ayah Layla panjang lebar. “Wah, dia seperti komputer yang berjalan!” seru kami serempak.


“Oh iya, apakah kau tidak kesusahan menjadi terkenal? Minggu depan sekolah dimulai, lho!” tanya Layla dengan maksud menyindir. “Tenang saja! Aku kan Roy! Aku selalu memiliki rencana,” jawabku yakin. “Yah, terserah kau saja! Tapi hati-hati! Semakin kau terkenal, semakin banyak orang yang memusuhimu.” “Iya-iya, aku tahu. Oh iya, Helmbot bisa mencari informasi apa pun, kan?" tanyaku. “Tentu saja. Memang apa yang mau kau cari?” tanya Layla balik


"Helmbot, carikan informasi tentang Batu Cakra!” seruku. “Baiklah, akan kucari dalam lautan internet terdalam sekalipun! Mencari!” jawab Helmbot. “Kalau kau bisa mencarinya di internet, kenapa kau tidak menggunakan HP-mu saja?” tanya Ayumi. “Aku sudah mencarinya, tapi tidak ketemu.” “Pencarian berhasil!” seru Helmbot. Kami pun mendekat untuk mendengarkan informasi yang didapat oleh Helmbot.


“Batu Cakra, batu legendaris yang memiliki energi yang sangat besar. Menurut legenda, batu-batu ini jatuh dari langit melalui sebuah portal misterius. Batu-batu itu ditemukan oleh warga di sebuah desa dan digunakan untuk kepentingan mereka. Karena keegoisan dan perpecahan warga, desa itu pun hancur tak bersisa. Sampai saat ini, masih belum ditemukan bukti yang akurat tentang legenda ini. Sumber, berasal dari data UNESCO yang sudah diterjemahkan.” “Jadi begitu. Batu Cakra adalah sebuah legenda kuno yang nyata. Lalu, bagaimana bisa para penjahat itu mengetahui akan hal ini?” batinku dalam hati.