
Hari Senin tiba, sekolah pun dimulai kembali. Hari ini seperti hari lainnya. Aku segera bangun agar tak dicubit kakakku lagi. Kurapikan tempat tidur yang semerawut setelah kutiduri semalam penuh. Setelah itu, aku pergi mandi dan berganti baju. Seperti biasa, kuambil sebuah kemeja putih polos berlengan panjang dibalut dengan rompi abu-abu dilengkapi dengan celana panjang berwarna hitam. Kemudian, kurapikan rambut biru langitku yang acak-acakan dan pergi sarapan.
“Ibu, hari ini sarapan apa?” tanyaku penasaran. “Hari ini kita sarapan soto ayam,” jawab Ibu. “Hah, soto ayam? Apa itu?” tanyaku dan Kak Salsa kompak. Ayah yang baru selesai mandi langsung menjawab, “Soto ayam adalah salah satu makanan khas Indonesia. Soto ayam itu seperti sup yang berisi berbagai rempah dan kaldu ayam. Kemudian, ditambah ayam suwir sebagai lauk serta bubuk poya yang sangat lezat. Lalu disantap dengan nasi putih yang hangat membuat lidah tak sanggup menahan rasa enaknya.”
“Aku tidak paham, memangnya seenak itu?” kata Kak Salsa. “Ya, aku juga tidak yakin dengan perkataan Ayah,” sahutku. “Ya, kalau kalian ingin tahu kelezatannya, coba cicipi,” kata Ibu sambil mengambil sesendok kuah soto ayam itu. “Buka mulutmu,” pinta Ibu. Aku pun membuka mulut dan meminumnya. “Ini adalah salah satu makanan paling enak yang pernah kumakan!” seruku kegirangan. “Benarkah, aku tak percaya,” Kak Salsa mengambil sesendok kuah soto dan meminumnya. “Ini benar-benar makanan berkuah terenak sepanjang masa!” teriaknya kegirangan.
“Ya, kalau tidak mau ya sudah. Sampai jumpa di sekolah,” jawab Kak Salsa sambil melangkah pergi. “Baiklah-baiklah, aku akan membayar 5 Yuan, tolong ramal aku!” pinta Kak Jia Li sambil memegangi kaki Kak Salsa. “Baiklah, aku akan meramalmu,” jawab Kak Salsa. Ia pun mengeluarkan beberapa kartu tarot dari dalam sakunya. Ia membariskan kartu itu secara horizontal di tanah. Kemudian, Kak Salsa mengambil satu kartu dan membaca isinya diselingi sedikit syair, “Matahari bersinar, angin bertiup pelan. Hari ini adalah hari adalah hari keberuntungan."
“Wah, terima kasih Salsa. Berarti hari ini aku akan tidak akan dihukum karena tidak mengerjakan PR. Yee..!!!” teriaknya kegirangan. “Memang isi kartunya sesuai dengan ucapanmu?” tanyaku penasaran. “Ramalanku tidak pernah salah,” jawabnya singkat sambil membereskan kartunya. Kami pun melanjutkan perjalanan ke sekolah. Sesampainya di sekolah, “Hei Peramal Gagal, kenapa kau lama sekali? Apakah kau mendapat permintaan untuk meramal? Hahaha…” ejek teman sekelasku, Chang Yi. Aku sudah sangat malas berurusan dengannya. Bayangkan saja, selama 2 tahun di SD, aku selalu diganggu dan diremehkan anak itu. Hah, rasanya ingin sekali kulempar ke langit. Yah, tapi dia ada benarnya. Aku adalah Peramal Gagal.