
“Oh iya, data ini diteliti UNESCO saat mempelajari legenda tentang penyihir yang bernama Rey Fujirou dan hubungannya dengan keluarga Ling. Mereka menemukan sebuah sobekan buku yang tertimbun di dalam pegunungan Himalaya. Lembaran itu menjelaskan tentang legenda Batu Cakra. Setelah diteliti, mereka sangat yakin jika ada lembaran-lembaran lain, atau bahkan satu buku utuh di situs itu. Namun, pencarian mereka nihil dan tak membuahkan hasil,” sambung Helmbot. “Tunggu dulu, bukankah keluarga Ling itu keluargamu?” tanya Layla. “Ya, kami juga memiliki legenda tentang penyihir, Rey Fujirou. Ia adalah keturunan terakhir dari keluarga Fujirou, saudara jauh keluarga Ling milik kami. Tapi, bukankah aneh? Kalau ingin tahu hubungan keluarga Ling dan Fujirou, kenapa tidak menanyai kami saja?” tanyaku.
“Yah, mungkin mereka menganggap cerita keluarga kalian sepeti dongeng yang tidak nyata. Jadi, mereka memutuskan untuk meneliti kebenarannya dengan mencari bukti-bukti yang mengarah pada kebenaran,” jawab Layla dengan sedikit sindiran. “Yah, kalau begitu, apa hubungan Rey Fujirou dengan Batu Cakra? Kenapa ia sampai menulis itu ke dalam bukunya?” timpal Kak Salsa. “Rey Fujirou itu menjelajah dunia seperti leluhurnya, kan? Mungkin, ia pernah menemukan legenda Batu Cakra di suatu tempat yang didatanginya. Lagi pula, ia sudah hidup ribuan tahun yang lalu. Kita tak tahu persis apa yang terjadi atau legenda apa saja yang ada pada saat itu,” sahut Ayumi.
“Yah, kurasa itu benar,” batinku dalam hati. Aku pun tenggelam dalam pikiranku lagi. “Hei, apa kalian disebut Batu Cakra saat dulu masih menjadi batu?” tanyaku. “Yah, kurasa itu salah satu nama kami. Kadang kami juga disebut sebagai Batu Elemen karena kami dapat mengeluarkan kekuatan elemen,” jawab Garuda. “Jadi, kalian pernah berhubungan dengan manusia setelah menjadi batu?” tanyaku.
“Ya. Saat kami keluar dari Portal Dunia Pembawa Bencana, kami jatuh di sebuah desa. Warga yang terheran-heran, menyentuh kami dan langsung merasakan energi kuat mengalir dalam dirinya. Mereka pun berebutan untuk memiliki kami. Akhirnya, desa itu hancur karena peperangan dan perselisihan para warga yang egois. Namun, perang itu masih belum selesai. Keenam warga yang memiliki masing-masing satu dari kami masih berebut untuk memiliki kami berenam sekaligus. Hingga akhirnya, mereka semua mati karena sama-sama terluka parah. Namun sebelum mati, mereka sempat meninggalkan pesan, ‘Tolong hancurkan Batu-batu Elemen terkutuk ini! Bagi siapa pun yang memiliki batu ini, mereka akan memiliki keserakahan tak terbendung dan akan mati mengenaskan seperti kami,’. Berabad-abad kemudian, seorang penyihir yang tak kami ketahui namanya sedang mengembara dan menemukan kami berenam dalam puing-puing desa yang hancur. Penyihir itu pun memutuskan untuk menyembunyikan kami di enam tempat yang berbeda di dunia ini,” jawab Naga Biru panjang lebar.
“Jadi begitu, kurasa penyihir yang kalian maksud mungkin Rey Fujirou,” kataku. “Yah, kami tidak tahu nama aslinya. Tapi kami mendengar beberapa muridnya memanggilnya dengan sebutan Master Rey,” jawab Phoenix. “Memangnya kalian masih bisa mendengar apa yang terjadi di dunia luar?” tanyaku. “Bukan hanya mendengar, kami juga menyaksikan apa yang terjadi di dunia luar. Peperangan, bencana alam, hingga kematian sudah terpahat di ingatan kami,” jawab Garuda.
***
Beberapa hari pun berlalu dengan cepat. Beberapa hari lagi, sekolah akan dimulai. Ayumi dan keluarganya pamit untuk kembali ke Cina. “Yah, kurasa aku harus kembali. Liburan sekolah akan segera selesai,” kata Ayumi. “Tenang saja, kita kan masih bisa mengobrol lewat telepon. Lagi pula, kita akan menjadi sahabat selamanya, kan?” tanyaku. “Ya, sahabat selamanya!” jawab Ayumi. Ayumi dan keluarganya pun pergi menuju bandara. “Aku takkan melupakanmu, Roy! Sampai jumpa lagi!” kata Ayumi sebelum pergi ke bandara. “Jadi, bagaimana hubungan kalian berdua?” tanya Kak Salsa.
“Yah, itu memang hal yang bagus. Aku juga bisa membuktikan diriku bukanlah aib bagi keluargaku dengan melakukannya. Tapi, saat itu kulakukan karena aku mengetahuinya. Sementara itu, menjadi pahlawan super sungguhan, kau harus mencari orang yang butuh diselamatkan. Dan itu mustahil dilakukan tanpa insting super, atau telinga super, atau komputer canggih seperti yang ada di film-film,” jawabku. “Oh, begitu. Kalau pendengaran super saja sih gampang,” sahut Garuda. “Memangnya kau bisa?” tanyaku. “Tentu saja. Aku punya sebuah teknik untuk melakukan itu,” jawabnya.
***
Di tengah malam yang sepi, aku pun bangun dan mencoba teknik yang diajarkan Garuda. Aku bermeditasi dengan ketenangan dan kefokusan yang sangat tinggi. Tak lama kemudian, aku mendengar sebuah suara, “Oeek!! Oeek!!” suara bayi yang menangis. Aku yakin itu tak ada di dekatku, namun suaranya sangat keras seperti sangat dekat. “Benar kan, kataku. Teknik ini sangat efektif untuk mendengarkan suara yang jaraknya jauh. Barusan suara bayi yang kau dengar berada 2-3 blok dari sini,” kata Garuda dalam pikiranku. “Jadi, kalau aku berlatih teknik ini terus menerus, aku akan semakin ahli?” “Tentu saja. Sebuah teknik ataupun jurus akan semakin kuat ketika sering dilatih.” Aku pun terus berlatih hingga tertidur dengan sendirinya.
***
Pagi pun tiba. Dengan wartawan yang tak mengepung apartemen, kami pun memulai rutinitas pagi, yaitu berlatih di taman. “Kali ini adalah latihan untukmu, Roy! Hari ini, lewati rintangan yang ada menggunakan mode manusia ular!” kata Ayah. “Baiklah! Aku adalah penguasa hutan yang melindungi manusia baik. Aku, Kobra Daun!” seruku sambil berubah. Aku pun meliuk-liuk bagaikan ular dan melewati semua rintangan yang ada dengan lancar.