
"Nona kita sudah sampai" kata pria yang mengendarai kuda itu "semuanya ayo turun" kata Nal pelan, Nal langsung berubah menjadi kalung dan Tana dan Melia langsung berubah menjadi pedang. semua orangpun terun dari kereta terlihat Amel sudah memakai cadarnya kembali "ah sudah sampai?berapa biayanya? "tanya Lana sembari mendekati pria itu.
┻━┻┻━┻┻━┻┻━┻┻━┻┻━
"iya nona, em sekitar 10 koin perak nona " kata pria itu "hm ini" kata Lana sambil mengambil 10 koin berwarna emas dan meletakannya di tangan pria itu "in.....ini telalu banyak nona"seru pria itu dengan tangan yang bergetar hebat dan wajah yang kaget, pria itu terlalu kaget karena tak pernah mempunyai uang sebesar itu akhirnya si pria itu tak meyadari Amel, Lana dan Raihan sudah pergi menuju gerbang kota.
Dalam dunia ini uang dibagi menjadi 3 bangian dalam bentuk koin perungu, perak, emas. 200 koin perungu sama dengan 1 koin perak dan 200 koin perak sama seperti 1 koin emas.1 Koin emas bisa menghidupi keluarga sederhana yang terdiri empat keluarga selama 1 tahun.
Tapi lain bagi pendekar, bagi para pendekar semua itu tidaklah berharga karena kebutuhan pendekar seperti pil, pendang, pusaka, dan lain lainnya lah yang sangat berguna bagi mereka. sementara itu ada yang lebih tinggi dari nilai koin mas yaitu permata sama halnya uang permata juga di bagi menjadi 3 bagian abu, putih, dan hitam.
Para orang terkuat di dunia pendekarpun setuju untuk menggunakan permata itu sebagai mata uang dunia pendekar. sembilan ratus juta permata abu sama dengan 1 permata putih, dan sembilan ratus juta permata putih sama dengan 1 permata hitam.
Permata juga tidak hanya untuk membeli kebutuhan pendekar, pendekar biasanya mereka menggunakan permata itu untuk perlatihan penaikan tingkat caranya dengan memecahkan permata tersebut sampai berkeping keping secara otomatis Qi yang berada di permata itu masuk kedalam tubuh.
Saat mereka mau masuk gerbang kota 2 pengawal penjaga kota itu mengentikan mereka "tunjukkan indetitas kalian" seru salah satu pengawal. Lanapun mengeluarkan indetitas mereka dan menyerahkan kepada para pengawal.
Setelah melihat indetitas mereka para pengawal langsung bertekuk lutut "hormat kepada tetua maaf kami sempat tak mengenali anda! " seru 2 pengawal tersebut "tak apa apa, berdirilah" Kata Amel dengan suara pelan dan dingin "baiklah" jawab 2 pengawal itu sembari berdiri.
"Wahhh mereka sangat menghormati mu!" seru Raihan dari belakang. 'untuk apa dewi es sampai ke sini. Jangan jangan untuk mencari murid! semoga saja anakku yang terpilih' batin 2 pengawal itu.
"apakah perlu saya panggilkan wali kota untuk menyambut anda? "tanya salah satu pengawal dengan senyum yang sangat lebar.
"tak perlu itu merepotkan" kata Amel dingin. Bagi Amel memanggil wali kota itu merepotkan karena waktunya pasti akan tertunda karena wali kota pasti akan menjamu mereka dan ITU SANGAT MEMBUANG WAKTU! Amel hanya ingin berlatih!.
Merekapun memasuki kota, saat berada di dalam kota mereka melihat banyak yang berjualan seperti pil, pedang, dan lain lain. Terlihat ada sebuah bangunan besar yang bertulis "angin malam" Amel dan yang lain berfikir itu penginapan dan merekapun masuk kesana.