The legend of a goddess

The legend of a goddess
Ch. 07 kesal



Seketika itu juga urat urat Tana mulai muncul yang menandakan dia marah. Perjalanan yang awalnya tenang kini menjadi berisik karena ocehan Tana dari waktu ke waktu sementara itu Lana hanya diam mendegarkan ocehan Tana Nal justru. malah membaca buku karena malas mendegarkan ocehan Tana. Melia mencoba menenangkan Tana Amel hanya diam seolah tak peduli.


  ━┻┻━┻┻━┻┻━┻┻━┻┻━


Ketika Tana sibuk mengoceh Amel tiba tiba berkata "ada seseorang di depan kita umurnya sekitar 30 tahun pendekar tingkat prajurit tingkat 4". "depan? depan mana maksudmu?" tanya Tana bingung. Seketika itu juga kereta berhenti bergerak.


Karena kesal keretanya berhenti Lana melihat keluar jendela Lana melihat 3 orang menghalangi jalan mereka "Ketua ada orang yang menghalangi jalan kita! perlukah aku mengatasinya? " seru Lana


"tak perlu aku saja Melia ikut aku" seru Amel dingin Meliapun berubah menjadi pedang dan dibawa Amel.


sebenarnya Amel bisa saja memakai ranting kayu untuk di jadikan pedang tapi karena berusaha menutupi kekuatanya Amel lebih memilih mambawa Melia. Amel keluar dari kereta dan berjalan menuju ke tempat 3 orang itu berada.


" Hm? siapa anak kecil yang sedang berjalan ke arah kita itu? " tanya salah satu dari mereka.


"Hm entahlah anak kecil itu sangat cantik dan imut"kata salah satu mereka. walaupun tertutup cadar mereka tahu bahwa Amel cantik karena kulitnya yang seputih salju.


"eh coba lihat pakaiannya terlihat mahal apakah dia bangsawan? " Kata salah satu mereka "mungkin mereka takut kepada kita jadi menyerahkan gadis kecil itu pada kita? agar kita mengampuni nyawa mereka "kata salah satu dari mereka sambil tertawa lantang.


"angin membelah salju" seru Amel kencang sembari mengayunkan pedangnya ke arah lawannya tapi yang anehnya dia tak menyerang ke 3 orang itu tapi malah ke ruang kosong yang ada di depanya.


Raihan yang menonton dari bekakang ikut heran 'kenapa Amel menyerang pada ruang kosong' tanyanya dalam hati.


"Heh lihat apa yang sedang dilakukan oleh anak ini? " seketika itu ada angin kencang dari pedang yang di anyunkan Amel "apa it-"belum sempat mereka mengucapkan kata kepala mereka sudah tak ada di tempatnya lagi darah mengucur deras dari leher ketiganya karena tak ada kepalanya.


dalam lubuk hati mereka mereka masih tak percaya di kalahkan oleh seorang anak kecil yang cantik dan imut dari segi penampilannya yang polos itu siapa sangkah bahwa dia adalah anak yang kejam dan berdarah dingin.


Setelah itu Amel kembali menyarungkan pedang malam bersalju Amel tak perlu repot repot membersihkan pakaian dan pedangnya karena pedang dan pakaiannya tak terkena darah setetespun! 'sial aku harus menyembuyikan kekuatanku! untung Lana tak menyadarinya!' seru Amel dalam hati


semua yang menyaksikan itu terkejut seketika itu Lana berlari ke arah Amel "Tetua anda tak apa apa?!" seru Lana khawatir "ya" jawab Amel dingin "syukurlah" kata Lana pelan. Pandagan Lana kini teralihkan kepada mayat ke tiga orang tersebut"ah itu tetua bagaimana kita mengurus mayat ini? " tanya Lana bingung.


"Hm kenapa tak kita tinggalkan saja di sini? "tanya Amel dingin "engak jangan kita kubur mereka! tetua anda tak usah ikut mengubur tetua nanti baju anda kotor saya dan Raihan saja yang melakukan itu!"kata Lana kencang. Sebenarnya Amel ingin menentang hal tersebut tapi karena Lana bersikeras akhirnya Amel menganguk. Raihan yang mendegarkan dari ke jauhan langsung perotes.


update : besok