The Demon Twins The Queen Of Death

The Demon Twins The Queen Of Death
kesedihan yang menyakitkan



Villa lima bulan lalu


"hallo samuanya, gua comeback mana sambutannya?!!" teriak Yan dengan keras saat didepan gerbang Villa itu


"heh bocah akhirnya mau pulang juga lu!!"


"gua udah besar woi!" ucap Yan dengan keras


"terserah cepetan masuk!"


"oke"


Skip Di Dalam Nya ( Ruang Tamu )


"hai, udah lama ya nungguin?" tanya Yan duduk disofa dengan muka polos


"engga kok"


"oke"


"jelasin limabulan yang lalu itu kenapa woi!"


"jadi gini-" (Gausah di ceritain kita singkat aja.... Yan mulai menceritakan pelatihan tertutupnya tapi ga menceritakan tentang dia membakar dirinya untuk menghilangkan racun tapi dengan pelatihan bela diri dan pelatihan menggunakan senjata)


"oh jadi git-"


"MOMMY!!!"


BRUK


"eh kenapa Vier?"


"hiks mommy latihan nya lama, Vier kangen"


"maaf ya sayang" ucap Yan mengelus rambut Vier dengan lembut


"tapi dengan satu syarat"


"oh? apa itu?"


"Vier mau diajarin beladiri sama mommy, SEKARANG!!" ucap Xavier menekan kata 'SEKARANG'


"fine, ayo keluar" ucap Yan menggandeng tangan Vier dan pergi keluar


"sabar gaboleh emosi" ucap Olivia Sain


"boleh b*n*h ga?"


"boleh aja tapi bukan lu yang b*n*h dia malah lu yang m4t1" ucap sheya Ang


"bener juga" ucap Ye Xue Yu


Masih Di Dalem Hutan Tapi Dekat Danau


"mulailah"


"tapi bukan kah terlalu sulit dengan memakai baju itu untuk latihan?" tanya Vier saat mau menyerang tapi saat melihat baju mommy nya (dia pakai hanfu ya) akan sulit untuk bergerak


"baiklah mom ganti dulu" ucap Yan dan wush dia mengganti pakaian nya dengan baju yang kelihatan perut nya dan celana pendek juga rambut yang diikat satu "bagaimana? sudah pas kan?" tanya Yan


"sudah kok, Vier mulai ya!!" ucap Xavier langsung menyerang sedangkan Yan hanya menangkis


lima menit kemudian


( setelah sekian lama nya tidak ada yang mau mengalah baik itu Xavier atau pun Yan mereka terus saja latihan hingga......... )


BUK


"kau kalah Vier"


"Ya!!! mommy!!!" teriak Xavier yang kesakitan karna dipukul dibagian perut


"eh maaf ya terlalu kuat kah?" tanya Yan dengan khawatir


"aku tidak selemah itu mom!!"


"baiklah baiklah kau tidak selemah yang mom pikirkan" ucap Yan membantu Vier berdiri


"oh ya mom, kata mom Vier masih punya bibi tapi mana?"


"em......minggu depan mom bawa bibi mengunjungimu ya" ucap Yan


"oke!"


"Vier sekarang umur berapa?"


"em......tujuh tahun, kenapa mom?"


"Vier didalam keluarga kita semua anak generasi sekarang harus mempelajari bisnis dan beladiri dan lain-lain selama sepuluh tahun mereka akan diurus oleh pengurus utama juga kediaman utama akan dijadikan akademi sementara, Vier mau? kalo Vier gamau juga gapapa" ucap Yan dengan panjang lebar


"yes sayang, kalo Vier gamau gapapa kok"


"Vier mau, Vier mau ngelindungi mommy"


"tapi sayang sepuluh tahun itu lama,Vier beneran mau?"


"yes mom"


"huffh baiklah, kembalilah ke Villa sendiri mom masih ada urusan, Vier bisa sendiri?"


"yes, bye mom!"


"bye Vier"


wush


"kau benar benar akan mengirimnya ke kediaman utama untuk pelatihan pewaris generasi?" tanya Aura keluar dari tubuh Yan. ( seseorang yang hampir dilupakan pembaca :) )


"mau ini dimana tetap saja dunia yang kejam jika di dunia kita yang dulu siapapun yang berkuasa bisa menginjak yang tidak berkuasa, sedangkan di dunia ini yang kuat yang bertahan sedangkan yang lemah hanya akan tunduk pada yang kuat. tidak ada yang bisa mengubah itu sekalipun dirimu kuat"


"tapi setidaknya jangan kau izinkan dia untuk pergi ke pelatihan pewaris"


"walau bukan anak kandung tapi pewaris keluarga tetap harus berlanjut jika tidak aku akan mengecewakan para leluhur juga kakek nenek ku"


"kuharap kau ingat ini, tidak peduli siapapun yang akan mewarisi harta keluarga yang terpenting dia adalah orang baik bukan seorang bajingan"


"hm kembalilah"


"oke"


"kakek bagaimana keadaan mu? apakau baik-baik saja? dimana kau? aku sudah mencarimu kemana-mana kau dan nenek sebenarnya ada dimana? aku tidak bisa mendapatkan petunjuk apapun tentang dirimu" ucap Yan hampir menangis


"hei putri hapuslah air matamu, air matamu sangatlah berharga jangan sampai itu menetes membasahi pipimu itu" ucap seseorang di belakang Yan


"kak oliv hiks" ucap Yan yang akhirnya menangis dan memeluk Olivia dengan erat dan Olivia hanya diam memeluk membiarkan adiknya menangis sepuasnya


"jangan menyalahkan dirimu sendiri Vincent, kami semua juga gagal menemukan kakek dan nenek, tolong jangan menangis lagi aku benar benar sakit jika melihat mu menangis" ucap seseorang yang lebih tepatnya sheya yang mengikuti Olivia


"jika waktu bisa berputar aku ingin menjaga keluarga ku terutama adik kembarku bahkan jika mereka bukan adik kandungku mereka sudah ku anggap adik kandungku sendiri, jika bukan karna aku yang terlalu lemah mungkin aku bisa membantunya, maaf Vincent aku sebagai kakak malah gagal menjaga adikku tetap tersenyum, maaf Vincent huffh" ucap seseorang setelah sheya yaitu Ye Xue Yu juga mengikuti Olivia ( oh ya itu berjarak ya antara Sheya dan Xue cuma selang tiga pohon )


'aku sebagai kakak tertua perempuan diantara keempat adikku yang seharusnya membuat mereka tersenyum malah membuat mereka sedih hingga menangis, maaf Ayah,Bunda,Kakak dan semuanya aku gagal menjadi kakak bagi keempat adikku' batin Olivia merasa sakit juga gagal melihat salah satu adiknya menangis dipelukan nya


"kak Oliv aku ingin istirahat" ucap Yan melepaskan pelukan Olivia.


"y-ya i-istirahatlah" ucap Olivia sedikit gagap


"ya, terimakasih sudah menenangkanku"


"jika ada sesuatu yang membuat semua adikku merasa bahagia juga tersenyum cerah aku bisa memberikan semua itu mau itu harta, kekuasaan, bahkan juga nyawa akan kuberikan asalkan semua adikku bahagia" ucap Olivia menatap langit


"jika kau memberikan nyawa mu untuk kebahagiaan kami itu tidak akan berhasil kami hanya ingin kasih sayang keluarga juga kasih sayang kakak perempuan kami" ucap Sheya keluar dari persembunyiannya


"Sheya?"


"perkataan mu itu sangat menyentuh tapi memberikan nyawa mu sebagai kebahagiaan kami itu malah akan menjadi boomerang bagi mu kami akan membencimu jika kau melakukan sesuatu yang berbahaya bahkan sampai merenggut nyawamu" ucap Xue Yu juga keluar dari persembunyiannya


"Xue Yu? kalian berdua kapan berada disini?"


"kami sudah berada disini saat kau memeluk Vincent, kau sebagai yang tertua diantara kami berempat sudah berkorban banyak janganlah melakukan sesuatu yang berbahaya"


"hiks baiklah, ingin pelukan adikku?"


"hiks tentu saja kakak!"


ya begitulah mereka saat salah satu dari mereka menangis yang lain nya pun ikut merasakan nya itu lah yang disebut ikatan batin yang kuat, juga Olivia yang sebagai yang tertua diantara keempat adiknya selalu berusaha tegar didepan adiknya tapi di baliknya dia lah yang paling sedih


"ada apa ini? kenapa aku tiba-tiba ingin menangis? apakah salah satu dari kami ada yanog menangis? tapi siapa? dan kenapa menangis?" tanya Yin yang sedang termenung didalam kamar nya dan merasakan ada yang menetes di pipinya dan ternyata itu air matanya sendiri


"oke stop, kita harus bahagia jangan bersedih terus atau mata kita akan merah" ucap Olivia melepaskan pelukan dan menghapus air matanya juga tersenyum


"ya!! kita harus tetap bahagia karna kita bersama" ucap Xue Yu juga melakukan hal yang sama seperti Olivia


"karna kita merasa bahagia, ayo memasak makanan yang enak, siapapun yang makanannya paling enak dia adalah pemenangnya, setuju?" ucap Sheya memberi usulan


"heh kalian ingin berlomba dengan ku? kalau begitu ayo!!" ucap Olivia berlari sambil menggandeng tangan Sheya Dan Xue Yu


...stop dulu guys!!!!!!...


Don't Forget To


LIKE


KOMEN


END FOLLOW BYEEE