Shalsabila Is My Wife

Shalsabila Is My Wife
Malam Pengantin#7



Shalsa begitu terkejut dengan ucapan Tuan Anhar, Ia kesal dan bingung berpadu menjadi satu. Antara kesal dengan ucapan tuan muda aku menggodanya dan pakaian yang ada dilemari tersebut. Rasanya pikiran begitu buntu saat itu. Shalsa menjadi canggung dengan keadaan seperti ini.


"Tuan!!! " kesal Shalsa


" Sekarang ganti pakaianmu, jika tidak jangan salahkan saya kamu akan menjadi santapan makananku malam ini" ucap Anhar dengan tersenyum devil.


"Tuan bukan Vampir kan?? yang suka menghisap darah dan memakan daging manusia? " ucap Shalsa dengan ketakutan


"Gadis ini begitu polos sekali, dia pikir aku akan memakan tubuhnya? dan apalagi dia mengatakan diriku vampir? Memang aku vampir yang tampan" batin Tuan Anhar.


" Kamu ini bodoh atau berpura pura tidak tahu? " ucap Anhar dingin


" Tolong siapkan saya Air hangat untuk mandi dan saya minta kamu ganti pakaianmu setelah saya keluar kamar mandi. " ucap Anhar tegas.


"Baiklah Tuan. " patuh Shalsa


Shalsa begitu bingung dan tidak ada pilihan lain ia harus mengunakan pakaian yang ada dilemari meskipun Transparan. Tuan tidak mungkin tertarik dengan tubuh saya, karena saya tidak begitu seksi


~ Anhar~


Aku memandangi tubuhnya begitu membuatku menggoda namun aku mencoba untuk menahannya karena aku tidak ingin memaksakan kehendaknya untuk melayaniku seperti hubungan suami istri. Aku langkahkan menuju kamar mandi dan aku menyalakan sower agar bisa menahan gejolak di dalam tubuh, waktu berputar begitu cepat sehingga ia sudah 1 jam lebih berada di dalam kamar mandi untuk melawan semua nafsu batinnya. Disisi lain ada seorang wanita yang begitu khawatir tuan muda belum keluar sudah hampir 1 jam lamanya


"Tuan, apakah tuan baik-baik saja" ucap Shalsa


"Iya" ucap Anhar menahan semuanya


Tuan Anhar keluar dari kamar mandi dengan wajah yang begitu pucat pasi dan tubuhnya mengigil dengan tangan yang terus ia gosokan saling beriringan dengan tangan yang satunya.


"Tuan apakah tuan baik baik saja? " Khawatir Shalsa


"Hmmm" ucap Anhar


"Apakah perlu saya panggilkan dokter Harun? " Cemas Shalsa


" tapi Tuan, Tuan harus istirahat dan lanjutkan kembali besok pekerjaannya.


"Jangan panggil saya tuan mulai saat ini dihadapan siapapun! " ucap Anhar dingin tanpa menatap matanya


"Tapi Tuan, saya tidak terbiasa memanggil anda dengan sebutan "Mas"." ucap Shalsa dengan pasrah


" Kamu biasakan berbicara seperti itu terhadapku, Jika 1 kesalahan maka kamu akan mendapatkan hukumannya. " ucap Anhar dengan sinis


"Baik Tu.. Mas" ucap Shalsa dengan gugup


"Kamu tidur di sofa ya? saya tidur di kasur kecuali kamu ingin tidur satu kasur denganku" ucap Anhar menggoda Shalsa.


"Terimakasih Mas saya bisa tidur di sofa" sanggah Shalsa dengan kesal.


"Baiklah, disana cuaca begitu mendung. Hujan akan turun, Apakah kamu tidak takut tidur disana?" tanya Anhar.


"Saya lebih takut tidur berdua denganmu"ucapnya Shalsa.


Awan diluar begitu mendung sepertinya akan turun hujan. dan dalam waktu 10 menit kemudian tetes demi tetes hujan turun dan disertai dengan suara petir yang begitu tinggi


"Kalau kamu takut naiklah dan tidur disampingku" ucap Anwar menawarkan tempat tidurnya.


Shalsa hanya terdiam dan tidak mengubris ucapan tuannya dan masih dihantui rasa takut akan suara petir, suara tersebut yang kedua kali begitu besar. Shalsa melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kasur dan tepat disamping Anhar sambil memeluk dan bersembunyi di dalam dada bidang Tuan Anhar.


"Tenang ada saya disini"


Pagi begitu cerah, waktu sudah menunjukan pukul 07.00 pagi. dan ketika aku terbangun dan kaget akan sosok dihadapkan wajahnya.


"Kamu!! ngapain kamu disini?? "Tanya Shalsa heran belum menyadari kamar bukan miliknya.