
Tidak ada cara apapun yang bisa mengembalikan kembali kondisi keluargaku. Mungkin pernikahan ini yang bisa menyelamatkan kami, dan tidak salahnya sebagai baktiku kepada kedua orang tuaku, kenyataan yang pahit harus berkorban melepas masa depan yang cerah dengan perjodohan terpaksa. Aku di paksa ibuku untuk mengatakannya kepada ayahku dengan balasan budi terhadap ibu yang sudah melahirkan dan membesarkanku, dan hanya tuan muda yang berjanji membantu kedua orangtuaku
" Saya akan menyerahkan putri saya padamu sebagai imbalan karena tuan telah bersedia membantu saya" ucap bunda Nita.
" hmmm, cukup menarik tawarannya. Baiklah".ucap tuan Anhar dengan santai.
"Besok bawa putrimu ke kantor saya pukul 08.00 pagi, saya tidak suka orang terlambat karena waktu saya berharga. " sambung tuan Anhar
Perasaanku saat ini begitu hancur ingin rasanya aku marah namun ia tidak bisa meluapkannya, hanya menangis dalam diam dengan tubuh meringkuk lutut kakinya.
"ibu engkau bilang semua ini sebagai baktiku kepadamu karena kau telah merawatku, namun bukankah semua memang sudah kewajibanmu menyanyangi dan mendidikku.dan bukankah aku anakmu? mengapa kau begitu kejam terhadapku" batin Shalsa
Pagi yang begitu cerah banyak aktivitas orang orang berlalu lalang dijalan, hari ini ia harus bertemu dengan pria yang sudah melenyapkan semua impianku untuk menikah dengan orang yang saling mencintai namun takdir tidak memihak padaku.
~Kantor~
Suara langkah kaki beriringan yang mengantarkanku menuju ruangan presider perusahaan ternama, dengan rasa gugup dan malu, aku menundukan kepalaku dengan mengikuti langkah seketaris Ceo tersebut.
" Sihlakan masuk, saya pamit undur diri" ucap seketaris kim langsung melangkah ke luar ruangan
Ruangan ini begitu bagus dengan desainnya, sekarang hanya kita berdua yang berada diruangan tersebut. Aku hanya menunduk dan tidak berani menatap wajahnya.
" Bacalah itu adalah perjanjian pra nikah kita, dan satu lagi kamu harus mengahafal hal yang aku sukai dan tidak kusukai" ucapnya dengan tatapan sinis
" Baik tuan saya akan mematuhi semua aturan ini, dan saya mohon setelah menikah tetap izinkan saya berkerja dan tuan tidak berhak mencampuri urusan saya dekat dengan siapapun" ucapnya dengan muka lemas.
" Tidak ada yang bisa memerintahkanku nona, apakah kamu tidak takut apabila keluargamu harus menjadi gelandangan? cukup patuhi aturanku dan tidak banyak bertanya. " ucap tuan Anhar dengan dingin.
" Baik Tuan".ucap Shalsa dengan menunduk.
"inikah yang akan menjadi suamiku, pria yang begitu angkuh dan sombong serta begitu dingin sikapnya terhadapku, apakah aku sanggup menerima semua takdirku"
Aku melangkah pamit dari ruangan presider, banyak orang menatapku ketika hingga aku keluar dari pintu perusahaan Brawijaya. Aku hanya menunduk dan tidak menghiraukan semua pembicaraan orang terhadapku. Aku memesan taksi untuk pergi ke kantor tempat aku berkerja karena aku hanya izin sebentar kepada pemimpin perusahaan, dan aku bersyukur pimpinanku tidak seperti pria yang begitu angkuh dan sombong seperti calon suamiku.
Hari ini dikantor banyak berkas yang salah, aku habis habisan dinarahin oleh celotehan bu yuni karena perkerjaanku, rasanya aku begitu kesal hari ini banyak yang menimpa terhadapku. Tadi pagi aku harus menemui tuan muda, sekarang sampai di kantor dimarahin bu yuni hanya kurang sedikit dan harus banyak yang di ukang. rasanya kepalaku ingin meledak.
" Dia pikir mengerjakan semua ini tidak butuh waktu lama, dan aku harus mengerjakannya dengan cepat karena akan dijadikan bahan rapat esok hari. "
Shalsa dengan wajah begitu kesal dan amarah ia hanya bisa menurut dan mengerjakan semua laporannya kembali dengan lebih teliti lagi hingga larut malam ia habiskan waktu di kantor. Aku melirik jam tanganku sudah menunjukan pukul 21.00 malam, Aku bereskan semua berkas dan menyusunnya dengan rapi meja kantorku lalu aku beranjak pergi untuk pulang