
Shalsa menangis di pojok Taman dengan topi dan termenung ke depan.
"Jika aku disakiti oleh orang lain karna prilaku yang menghinaku aku terima tapi melihat dia beberapa kali berciuman dengan wanita lain aku benar benar kecewa" sambil menarik rambutnya dengan frustasi.
Tiba-Tiba badan shalsa lemas dan terasa sangat sakit perutnya kepala terasa berat.
"Kenapa ini? mungkin aku belum sarapan baiklah aku akan membeli makanan" sambil berusaha berjalan dengan memengang kepalanya yang lama lama keseimbangannya tak terjaga.
Tiba tiba shalsa merasa ada tubuh yang menahannya namun pandangannya langsung buyar dan gelap.
"Shal bangun" sambil menepuk pipinya namun nihilnya iapun tak sadarkan diri.
Angga langsung menggas mobilnya dan membawanya ke rumah sakit dengan mebopongnya sambil raut wajah yang cemas.
"Dok lakukan yang terbaik untuknya saya mohon" dengan wajah frustasi dan emosi
"Awas kalau terjadi apa apa dengan orang yang aku cintai aku tak akan segan segan memisahkan kalian"tatapan yang tajam.
Dokter keluar telah memeriksa kondisi Shalsa
"Apakah ada keluarganya? "Dokter
"Saya dok, bagaimaja keadaannya? apakah ia menderita penyakit parah? apa kritis? " terus bertanya tanpa memberi jeda dokter menjelaskan.
"Astaga tuan anda tidak perlu khawatir dan selamat ya anda akan menjadi seorang ayah" dengan wajah tersenyum dokter memyampaikan.
"Hamil? ini tidak mungkin" wajah berubah sendu.
Angga langsung memasuki Ruangan dan melihat yang ia cintai menangis dengan kabar baik ini.
"Aku mohon rahasiakan ini dari suamiku" sambil menangis dan mengengam tangannya.
"Kenapa kamu menangis? apakah kamu tidak bahagia dengannya? Ikutlah bersamaku dan tinggalkan dia aku tak sanggup melihat butir air matamu karna itu sanggat berharga" Angga ikut menangis.
"Aku tak akan bisa lepas darinya kapanpun Angga, Makasih kamu selalu melindungiku selama ini dan sampai detik ini" mencoba tersenyum.
"Aku akan menjaga semuanya dengan aman"
"Sekarang mau pulang ke mana? " Angga.
"Aku mau pulang ke rumahku saja"Shalsa mencoba tegar karna masalah tidak akan selesai jika ia lari.
shalsa pulang mengenakan motornya dan sudah sampai tujuan di rumah utama
Shalsa masuk rumah dengan santai dan mencoba menutup telinganya.
Prok.. prok.. prok..
"Pintar sekali ya anda sampai bagaikan berlian yang harus anak saya jaga dan dicari kemana mana sampai frustasi" Ayah Anhar
"Kata aku aja apa paman dia pasti kembali mana mungkin akan bisa lepas dari kehidupan yang mewah ini"meremehkan Shalsa Angel.
"Maaf saya harus pergi " Shalsa melangkahkan kakinya ke kamar karna kepala sangat pusing.
Setelah shalsa memasuki kamar terjadi percakapan panas di dalam keluarga.
"Paman akan usahakan agar anak paman menikah dengan gadis sepertimu"Papah
"Papah tidak boleh egois kita harus mengerti kebahagiaan anak kita" Mama
"Kakak apakah tidak malu memiliki menantu yang hanya akan menguasai harta anakmu? " Paman mencuci otak papah anhar.
"Angel apakah kamu menyukai anak saya? " papah.
"Saya sadar om dan tante bahwa kak Anhar sudah mempunyai pasangan dan saya tidak ingin melukai perasaannya walaupun saya ingin juga menjadi pasangan hidupnya tapi saya harus ikhlas menerima pernyataan"Angel.
"Keren kamu memang calon menantu yang terbaik"Papah Anhar.
Ayah anhar merencanakan sesuatu yang membuat anaknya tidak bisa mengelak dengan keadaan.