
Hari ini Shalsa sudah menyandang status sebagai seorang istri, dan ia harus berkhidmat terhadap suaminya. Shalsa mencoba berkompromi dengan keadaan ini. Semua pelayan sibuk dengan tugasnya masing-masing, ada yang memasak,membersihkan kolam, membersihkan kamar mandi, menyuci baju, mensuplay bahan makanan dan lain-lain.
"Selamat pagi Nyonya muda, sedang apa nyonya disini? " tanyanya heran
" Pagi Bu Devi, Apakah ada perkerjaan yang bisa saya bantu"
Bu Devi memandang nyonya muda dengan terkejut, pertanyaan yang diucapkannya seakan itu mustahil bagi seorang istri presider. Ia menawarkan dirinya sedangkan disekelilingnya sudah banyak pelayan dan ia juga seorang wanita karir.
"Memang tugasmu di dapur, karena kamu bukanlah orang yang dicintai kakakku. dan memangnya Kamu pandai masak? sepertinya tidak . Jika kamu memasak menurutku satu dapur berantakan karenamu"
Adik Anhar sudah ada dibelakang Shalsa di dalam dapur.
"Pagi adek ipar, maaf kakak memang sedang ingin membantu menyiapkan semua keperluan kakakmu" ucap Shalsa tersenyum dan melupakan ucapan Dini.
"Hahaha, bilang saja mau cari muka di depan kakakku agar bisa buat kakak aku jatuh hati?tapi semua itu sia-sia"
"Kakak hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, bagaimanapun balasan dari kakakmu kakak tidak perduli" ucap Shalsa
"Sudahlah, Aku malas berdebat dengamu hanya membuang waktuku" ucap Dini sambil meninggalkan Shalsa di dapur.
..............................
Semua Anggota keluarga sudah berkumpul dengan pakaian elegan dan seperti ingin pergi ke undangan pernikahan dengan dress dan Jassnya.
"Selamat menikmati semuanya. "ucap Shalsa mencoba tegar
"Masakanmu ternyata nikmat juga ya sayang, menantu idaman bunda" pujian bunda Anhar.
"Jangan puji dia bun, anak bunda kan aku bukan dia " sambil membuang muka dan melipat kedua tangannya agar terlihat keren.
"Yasudah, kalian berdua adalah anak bunda" ucap bunda sambil mengelus rambutnya.
"Dini! Jaga ucapanmu. Apakah kakak pernah mengajarkanmu berkata kasar? " kesal Anhar
"Sejak kapan kakak berani membentakku? semua ini karenamu! Aku benci padamu! " sambil menunjuk ke arah Shalsa dan berlalu pergi menuju kamarnya.
"Jangan terlalu dimanja bun, nanti malah ngelawan sama kita. Harus dilatih dari sekarang" menatap bundanya yang sedang khawatir memikirkan anak bungsunya
"Bun, Aku pamit bersama Shalsa mau berangkat ke kantor" sambil bersalaman dengan mencium punggung tangan sang bunda.
"Kalian berangkat bersama? " tanya bunda heran
"Kantor kami memang berdekatan bun, sekalian saja mengantarkannya agar tidak merepotkan yang lain" ucap Anhar dengan santai menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.
"Sihlahkan masuk nyonya dan Tuan" seketaris Kim mempersembahkan mereka berdua.
Shalsa pun akhirnya masuk duduk berdampingan dengan Kim.
"Kamu pikir suamimu itu aku atau supir disampingmu"
"Saya hanya tidak ingin menggangumu Mas, jadi saya berinisiatif duduk di depan"
"Sekarang kamu pindah kebelakang, tidak ada bantahan! "
Shalsa hanya menatap pasrah dirinya dan mengikuti perkataannya untuk duduk disampingnya.
"*Sejak kapan tuan marah besar wanita yang duduk di sampingku, Apakah Tuan sudah mulai menerima kehadirannya dihatimu, dan cemburu melihat kami berdua. Nyonya kamu membawa banyak perubahan baik atas sikap tuan muda" Seketaris Kim
"Mengapa aku begitu cemburu melihat dia bersama orang lain, Apakah aku mulai menyukainya. Namun, aku baru mengenalnya bagaimana bisa menarik perhatianku" ucap Tuan Anhar*