
Aku membuka mataku. Semuanya tampak kabur. Kepalaku terasa berat. Sial. Minuman yang aku minum pasti telah dicampur dengan racun sehingga kesadaranku menghilang. Entah racun apa yang Roland campurkan ke dalam minuman tadi. Aku berusaha bangkit namun kaki dan tanganku terikat degan erat pada pinggiran ranjang tempat aku berbaring. Tanganku diikat ke bagian ujung ranjang di atas kepalaku dan kakiku diikat erat ke bagian ujung bawah ranjang. Tempat tidur ini bukanlah kasur empuk tempat aku berbaring dua malam yang lalu. Aku menoleh ke samping. Di sana Erick terbaring dengan posisi yang sama denganku dan lengan dan kakinya juga terikat sama persis seperti diriku. Dia masih belum sadar.
"Erick!" Aku memanggilnya dengan suara yang begitu mendesak.
Tampaknya ini ruangan yang sengaja disiapkan Roland untuk kami berdua. Di ruangan ini hanya terdapat dua buah ranjang tempat kami ditawan dan sebuah kursi yang berada di pojok ruangan. Ini bukan kamar tempatku memulihkan diri waktu itu. Erick masih tidak merespon panggilanku. Aku benar-benar mengkhawatirkan kondisinya. Bagaimana jika Erick ... Ah, tidak mungkin. Aku membuang pikiran bodohku. Erick tidak mungkin mati di tempat ini.
"ERICK!!!" panggilku lagi dengan suara lebih lantang.
Dua detik berlalu dalam keheningan, lalu aku melihat dia membuka matanya. Syukurlah. Aku lega dia sudah sadar. Aku melihat dia mengernyitkan dahinya. Pasti kepalanya begitu pening seperti yang aku rasakan tadi ketika aku baru tersadar dari pingsan. Entah berapa lama kami tidak sadarkan diri dan terkurung dalam ruangan ini. Ingatanku melayang pada Leda. Dia pasti mengkhawatirkan ku. Hatiku terasa perih mengingat wanita itu pastilah menungguku di rumah dengan perasaan khawatir yang tiada habisnya. Baru kemarin malam aku membuatnya khawatir setengah mati dan malam ini aku kembali membuatnya khawatir. Mungkin benar apa yang sering dia katakan tentang diriku. Aku terlalu ceroboh.
"Apa yang terjadi?" Erick bertanya sambil menatapku.
Aku melihat dia berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu tangan dan kakinya. Sial. Ikatan yang membelenggu kaki dan tangan kami terbuat dari rantai berbahan perak. Apakah Roland memang benar-benar sengaja ingin menyiksaku? Ah, padahal aku tidak ingin menjadikannya musuh. Tapi kali ini aku harus memakai akal sehatku demi keselamatanku dan Erick.
"Pria itu mencampurkan obat bius ke dalam minuman kita," ujarku.
Aku berusaha untuk melepas ikatan itu. Aku berusaha untuk menghancurkan rantai yang mengikat tanganku namun sia-sia.
"Scarlett, pria itu berbahaya." Erick memperingatkan aku tentang hal yang memang sudah aku ketahui.
Aku kembali memutar-mutar pergelangan tanganku berharap rantai itu lepas namun justru kulitku yang tergores akibat usahaku untuk melepas belitan rantainya. Perak selalu menjadi halangan bagi kaum seperti kami.
"Kenapa dia bisa mengetahui kelemahan kita?" Erick bertanya dengan nada penasaran.
"Entahlah, bajingan itu akan membayar akibatnya!" desisku.
"Semua ini terjadi karena kau terperangkap oleh pesonanya," dengus Erick.
"Berhentilah mengoceh, Nak!" Perintahku. "Kerahkan tenagamu untuk melepas ikatan itu dan ayo kita cepat pergi dari tempat terkutuk ini!" Aku kembali menggoyang-goyangkan pergelangan tanganku.
"Perak ini menyakiti pergelangan tanganku!" Erick menggertakkan rahang dengan kesal.
"Berhentilah bertengkar seperti anak-anak!" Kami terdiam dan menoleh ke arah pintu ketika Roland memasuki ruangan itu sambil tertawa.
"KAU !!!" Aku berteriak ke arahnya dengan kemarahan yang seolah akan meledakkan gunung berapi.
"Kalian tampak seperti pasangan remaja yang sedang bertengkar." Dia tertawa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Kau akan segera menyesali perbuatanmu ini!" Aku melotot ke arahnya.
"Kau akan melawanku dengan tangan terikat seperti itu?" ejeknya.
"Dasar Bajingan!" Erick berteriak sambil berusaha melepaskan ikatannya namun dia tidak berhasil. Aku melihatnya mengernyitkan dahi ketika rantai perak itu semakin melukai pergelangan tangannya.
"Perak akan menguras kekuatan makhluk terkutuk seperti kalian," ujar Roland sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Berhentilah berbicara seolah kau tahu semua tentang kami!" Aku berbicara dengan nada mengancam padanya.
"Kalian telah kalah," ujar Roland dengan nada bangga, "Berhentilah memangsa manusia atau aku akan membuat kalian terbakar hidup-hidup di bawah sinar matahari!" ancamnya.
Aku memutar bola mataku dan tertawa terbahak-bahak. Roland terkejut melihat reaksiku. Mungkin dia berharap aku akan mati ketakutan karena ancamannya.
"Kau terlalu banyak menonton film, Nak!" ujarku masih sambil tertawa. "Siapa bilang aku bisa terbakar akibat sengatan matahari? Aku bahkan bisa berjalan bebas sambil menari di bawah sinar matahari." Aku mengucapkannya sambil tertawa.
"Berhentilah tertawa makhluk pengisap darah!" Roland membentak ku.
Kali ini tawaku lenyap dan berganti emosi yang memuncak. Aku merasakan darahku mendidih. Aku menatap tajam ke arahnya. Tidak ada seorang pun yang boleh menghinaku. Aku adalah Dewi Keabadian. Aku tidak berubah menjadi vampir karena gigitan dan pertukaran darah dengan vampir lain, melainkan aku diciptakan untuk menjadi Sang Dewi Keabadian. Aku tidak akan membiarkan ada yang menghinaku.
Aku merasakan energi mengalir ke dalam setiap inci tubuhku. Bahkan rantai perak yang membelenggu tangan dan kaki ku tidak bisa menghalangiku. Aku merasakan api keluar dari tubuhku dan membakar rantai yang membelit pergelangan tangan dan kakiku. Rantai perak itu meleleh dan terlepas dari tangan dan kakiku. Aku bangkit berdiri dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Roland menatap kejadian di depannya dengan mulut setengah menganga dan mata melotot tak percaya. Aku kini berdiri tepat di hadapannya dengan mata yang membara. Dia terlihat shock.
"Kau salah jika mengganggap diriku lemah hanya karena sebuah rantai mainan yang kau ikatkan di tanganku." Aku mendesis padanya. "Seharusnya kau lari ketika kau mengetahui siapa aku!" Aku mengucapkan kalimat itu dengan nada mengancam.
"Aku tidak takut dengan makhluk sepertimu." balasnya dengan mata tajamnya yang membalas tatapanku.
"Pergilah sebelum aku melukaimu." Aku memperingatkannya dengan nada datar.
Aku melihatnya meraih pistol di bagian kanan pinggangnya namun aku bergerak begitu cepat dan aku berpindah ke belakangnya. Aku memutar lengannya dan mengunci tangannya di punggungnya. Pistol itu jatuh ke lantai. Aku tetap berdiri di belakangnya sambil berbisik di telinganya, "kau seharusnya takut padaku."
"Aku tidak takut pada apapun!" Ia mengatakannya dengan penuh keberanian. Dan ya, aku mempercayai ucapannya.
Aku masih tetap menekan tangannya ke punggungnya. Aku bisa merasakan gerakan bahunya yang naik turun karena bernafas, bahkan aku bisa mendengar detak jantungnya yang kini berdebar semakin kencang.
"Katakan, kenapa kau masih bisa mengingatku padahal aku sudah menyuruh alam bawah sadar mu untuk melupakan bahwa kau pernah bertemu denganku." Aku bertanya padanya tentang hal yang membuatku penasaran.
"Aku tidak selemah manusia lainnya," jawabnya.
Kami masih tetap di posisi yang sama seperti barusan. Begitu dekat. Aku bisa mencium aromanya. Dia beraroma musk yang begitu memikat.
"Kau salah paham padaku." Aku berusaha menjelaskan, "Kau mengira aku lah yang mengisap darah orang-orang di kota. Padahal aku tidak pernah melakukannya."
"Omong kosong!" Dia menggertakkan giginya.
"Aku tidak meminum darah secara langsung dari manusia, bodoh!" Bentakku. "Bagiku nyawa kalian begitu berharga. Aku tidak mungkin merenggut nyawa kalian. Hidup kalian terlalu singkat untuk ku renggut!" Kali ini aku berbicara dengan nada frustasi. Kenapa dia tidak percaya padaku?
"Aku tidak percaya pada ucapan mahluk sepertimu!" ujarnya.
"Terserahlah!" Aku menjawab dengan nada lelah. Percuma meyakinkan pria keras kepala ini.
Aku terkejut ketika ponselnya bergetar di saku celananya. Dia hendak meraih ponselnya namun terhalang oleh tanganku yang masih menahan tangannya di punggungnya. Aku tidak akan melepaskannya. Jadi aku memutuskan aku lah yang akan mengambil ponselnya di saku celananya dengan tanganku yang bebas. Aku meraih ke dalam saku celananya, dan aku bersumpah bahwa aku mendengar jantungnya semakin berdebar kencang ketika tanganku masuk ke dalam sakunya. Aku menelan ludah dan mengambil ponselnya. Aku menekan tombol terima panggilan dan menyuruh dia menjawab telepon.
"Halo. Roland! Cepatlah kemari, ada dua mayat lagi yang ditemukan di pusat kota dengan kondisi sama seperti yang sebelumnya. Namun kali ini tubuh mayat itu masih hangat, sepertinya pembunuhnya baru melarikan diri," ujar suara di telepon.
"Baiklah, aku akan segera ke sana," jawabnya. Aku mematikan telepon untuknya.
"Ada vampir lain yang sengaja menyerang manusia di kota ini." Aku berkata pada Roland dan Erick.
Aku melepaskan tangan Roland dan membiarkannya bebas. Kali ini Roland berbalik dan menghadap ku. Aku membiarkannya mencerna informasi yang baru ia dapatkan dari temannya. Mungkin dengan begitu ia percaya bahwa yang menyerang manusia di kota bukan aku dan Erick. Aku menatapnya. Dia membalas tatapanku.
"Aku akan membantumu untuk mencari dalang di balik pembunuhan ini." Aku berkata padanya dengan nada yang meyakinkan.
Ia mengangguk tanpa protes. Aku melangkah ke tempat Erick dan melepaskan ikatan yang membelenggu tangan dan kakinya. Erick melompat berdiri sambil meregangkan tubuhnya.
"Akhirnya aku bebas dari rantai sialan itu!" Dia berkata sambil mendesah lega.
Kali ini Roland telah berada di pihak yang sama denganku.