SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 26



Aku menggelengkan kepalaku frustasi. Bagaimana caranya aku melawan Victor ketika ia kembali mencari ku lagi. Bahkan sampai detik ini aku belum bisa mengimbangi kekuatannya.


"Coba lah lagi," ujar Roland pelan.


Aku kembali berkonsentrasi dan memusatkan pikiran. Aku menatap borgol di tangan Roland. Beberapa detik berlalu. Kemudian puff...


Logam itu meleleh. Roland mengibaskan tangannya dan meniup pergelangan tangannya di tempat borgol tadi membelenggunya. KIni tangannya terbebas. Borgol itu terjatuh ke tanah dan terlihat kisut karena meleleh.


"Aku berhasil." Aku berteriak kegirangan.


Roland dan Damon tertawa melhat tingkahku. Damon menepuk punggungku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ku lakukan.


Kali ini aku menatap telapak tanganku. Aku kembali mencoba memfokuskan pikiranku. Puff... Tiba-tiba ada api yang menyala kecil di atas telapak tanganku.


Aku melihat pemandangan itu dengan begitu takjub. Roland dan Damon menatap dengan mata membelalak. Aku mengibaskan tanganku dan api itu padam.


Aku melihat berkeliling. Aku mencoba mengambil sebuah ranting patah yang ada di tanah. Aku kembali berkonsentrasi dan memusatkan pikiranku padar ranting itu. Ranting itu terbakar dan menjadi arang.


"Sebaiknya kali ini aku harus menjaga jarak dari mu agar aku tidak dibakar hidup-hidup." Damon mengucapkannya sambil tertawa.


Kami bertiga kembali tertawa bersama. Aku berhenti tertawa dan menatap Roland.Ia merasakan tatapan ku yang tertuju padanya. Ia membalas tatapanku.


Damon meninggalkan kami berdua. Ia berjalan masuk ke dalam rumah untuk memberikan kami privasi.


Setelah aku tinggal berdua dengan Roland, aku malah menjadi kikuk. Ah, penyakit gugup kambuh lagi ketika berurusan dengan cinta.


"Aku pikir kau akan pergi meninggalkan ku." ujar Roland.


"Mana mungkin aku bisa tahan berjauhan darimu." Aku mengabaikan rasa malu dan aku langsung memeluknya.


Ia tertawa dan membalas pelukanku. Kami berciuman. Tak perlu banyak kata yang terucap di antara kami berdua. Cukup hati kami yang terikat dan membungkam semua kata yang ada.


"Bagaimana dengan anggota pemburu lainnya?" Aku bertanya dengan nada khawatir.


"Yang lain biarlah kita pikirkan nanti saja. Saat ini hanya ada kau dan aku." Dia mengatakan itu sambil kembali mencium ku.


Ya, saat itu hanya ada aku dan Roland.


......................


Aku memutuskan untuk kembali ke rumahku. Aku menyuruh Roland untuk tinggal bersamaku di rumahku. Akan lebih baik bagi kami tinggal dalam satu rumah agar kami bisa saling menjaga satu sama lain.


Aku dan Roland meninggalkan rumah Damon.


"Selamat bersenang-senang." Damon mengucapkan itu sambil melambaikan tangannya ke arahku.


Aku membalas lambaiannya sambil tersenyum.


Aku dan Roland berkendara menuju ke rumahku.


Sesampainya di sana aku dan Roland segera menuju ke kamarku. Kami berdua ingin segera meluapkan kerinduan yang ada.


Sesampainya di kamar, aku dan Roland segera melebur menjadi satu. Kami berdua meluapkan segala hasrat yang selama ini terpendam.


"Aku mencintaimu," aku membisikkan kalimat itu di telinganya.


Roland menatap mataku. Kenapa dia tidak mengatakan hal yang sama. Aku menelan ludah.


Roland kembali membuatku mabuk dengan sentuhan-sentuhan. Ia menyentuhku dengan bibir dan tangannya. Aku merasa begitu melayang. Aku mencintaimu, jeritku dalam hati.


"Aku mencintaimu, Scarlett." Dia membisikkan itu di telingaku ketika ia mencapai puncak kenikmatannya.


Dia jatuh terkulai di atas tubuhku. Aku mendekapnya dan merasakan detak jantungnya yang perlahan melambat seiring dengan nafasnya yeng menjadi tenang.


Mata Roland tampak sayu. Ia tampak lemas. Ia tertidur di atasku. Aku membiarkannya tertidur. Aku menikmati momen itu. Aku merasa itu adalah saat terindah selama keberadaan ku di muka bumi ini.


Entah sudah berapa lama Roland tertidur. Aku mendengarkan nafasnya yang teratur. Aku membelai punggungnya dengan jemariku. Aku merasakan Roland bergerak. Ia mengangkat kepalanya menatapku.


"Apakah aku membangunkan mu?" Aku bertanya sambil tersenyum.


"Tidak," ujarnya sambil tersenyum. Ia mengecup lembut bibirku.


"Roland, ada banyak hal yang harus kau tahu tentangku," ujarku lembut.


"Ada banyak waktu untuk itu," ia kembali menghujaniku dengan ciuman-ciuman nya.


Kami kembali merasakan api yang membakar gairah kami berdua. Seolah ini adalah pertama kalinya aku merasakan gairah seperti ini. Roland benar-benar membuatku melayang.


Kali ini aku yang memegang kendali. Aku bergerak bersamanya dengan irama yang cepat. Kami kembali menikmati puncak itu.


Kali ini nafasku juga memburu. Aku terkulai di samping tubuh Roland. Roland memelukku dan aku menyandarkan kepalaku di dadanya.


......................


Aku bangkit dari tempat tidur ketika Roland hendak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Aku merasa haus. Mungkin karena aku menghabiskan banyak energi bersama Roland. Aku tersenyum mengingat apa yang baru saja terjadi pada ku dan Roland. Apa yang kami berdua lakukan telah mengikat kami.


Aku berjalan meninggalkan kamar dan menuju ke dapur. Aku membuka kulkas dan mengambil sekantong darah. Aku segera menyeruput dan menghabiskan darah itu. Aku melemparkan kantong itu ke atas meja dapur. Nanti biar Leda yang membuang kantong itu.


Aku belum melihat Leda sejak aku dan Roland kemabli ke rumah ini. Aku berjalan menuju ke ruang tamu. Ruangan itu tampak kosong. Dimana Leda, tanyaku dalam hati.


Aku memanggil namanya, namun tak ada jawaban. Aku memeriksa kamarnya. Namun kamar itu kosong.


Aku kembali ke kamarku dan melihat Roland telah membersihkan diri. Ia tersenyum melihatku.


"Hai, apakah aku tampak kusut?" Ia bertanya sambil tersenyum.


"Kau tidak pernah kelihatan kusut," ujarku sambil mencium lembut pipinya.


Aku mendengar suara perut Roland. Aku menatapnya dengan khawatir.


"Eh, mungkin kau harus makan." Aku mengucapkannya sambil tertawa.


"Ya, aku sedikit lapar." Jawabnya.


"Biasanya Leda akan menyiapkan makanan di sini. Tapi aku tidak melihatnya sama sekali." Aku mengucapkan itu dengan nada khawatir.


"Apakah dia tidak di rumah?" Roland bertanya penasaran.


"Entahlah, aku mencarinya di semua ruangan tapi tidak menemukannya." Kali ini aku benar-benar merasa khawatir.


Roland merasakan kekhawatiranku.


"Kau tidak meneleponnya?" Tanyanya.


Ah ya, bagaimana mungkin aku lupa untuk meneleponnya. Aku mengambil ponselku yang ku letakkan di atas meja di samping ranjangku. Aku menelepon Leda. Ponselnya tidak bisa dihubungi.


Aku merasakan firasat buruk. Aku menatap Roland dengan tatapan khawatir. Aku meminta Roland untuk mencari Leda.


Kami berdua mencari Leda ke semua ruangan yang ada di rumah ini namun tidak menemukannya. Aku mengarah ke halaman dan memanggilnya sambil berjalan mengelilingi halaman, namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


Roland berjalan menuju taman di belakang rumahku. Sementara aku masih memeriksa di bagian samping rumah. Mungkin Leda membersihkan taman di sekeliling rumah, pikirku dalam hati untuk menenangkan diriku.


Roland memanggilku dari arah belakang rumah. Aku segera berlari ke arahnya. Di sana, aku melihat tubuh Leda tergeletak di tanah.


Aku menjerit begitu kencang.