
Victor menyeringai lebar dan menampakkan taringnya pada kami. Aku dan Roland berdiri menegang di tempat kami. Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke rumahku? Ah ya, dia pasti berubah menjadi asap dan masuk melewati celah yang ada di pintu. Brengsek. Aku mengumpat dalam hati.
"Untuk apa kau datang kemari?" Aku bertanya dengan nada dingin.
"Tentu saja untuk menjumpai keponakanku tersayang," ujarnya dengan seringainya yang memuakkan.
"Aku tidak sudi menjadi keponakanmu!" Aku mengucapkannya dengan jijik.
Aku merasakan Roland berdiri semakin dekat denganku seolah dia ingin melindungi ku.
"Sepertinya kau jatuh cinta pada manusia." Ejek Victor sambil mendengus.
"Itu bukan urusanmu!" Aku membalas dengan nada kejam.
"Orang tuamu pastilah kecewa melihat bahwa kau kini menjadi makhluk lemah seperti itu." Dia mengatakannya sambil melangkah mendekat ke arahku.
"Berhentilah berbicara tentang mereka!" ujarku dengan nada berapi-api.
Aku merasakan emosiku semakin memuncak.
"Kau tahu? Kau tidak pernah pantas menjadi tuan putri!" Victor kembali mengejekku.
Aku mengepalkan kedua tanganku di samping tubuhku. Aku benar-benar membencinya dengan segenap jiwaku. Aku ingin membalaskan dendam orang tuaku padanya. Pikiranku dipenuhi bayangan tentang ayahku dan ibuku.
Victor melangkah semakin maju dan mendekat ke arahku. Aku tidak merasakan takut sama sekali terhadapnya. Sebaliknya, emosiku justru semakin meningkat.
"Untuk apa kau datang kemari?" Aku kembali mengulangi pertanyaanku.
Ia mengangkat sebelah alisnya ke arahku dan seolah berpikir. Jubah hitamnya sedikit berkibar ditiup angin.
"Kau tahu? Dahulu aku hampir saja memimpin kerajaan itu, namun kau menghalanginya. Seharusnya aku membunuhmu malam itu!" Victor mengucapkannya dengan nada penuh kebencian.
"Aku tidak pernah menghalangi mu!" Aku nyaris menjerit.
Victor mendesah dan terdiam di tempatnya. Tatapannya termenung mengingat kejadian beberapa ribu tahun yang lalu.
"Aku sudah menguasai kerajaan, namun semua orang menentang ku! Mereka lebih memilih mati bersama ayahmu dan mereka memandangku dengan penuh kebencian seolah aku adalah monster!" ujarnya dengan suara bergetar.
"Kau memang monster!" Kali ini aku menjerit ke arahnya.
"Jangan lupa bahwa kau adalah makhluk yang sama persisi seperti ku!" Dia mengucapkannya dengan senyum miring di wajahnya.
"Aku tidak sepertimu!" Aku melotot ke arahnya dengan penuh kebencian.
Aku tidak sudi menjadi seperti dirinya!
Victor tertawa mendengar ucapanku.
"Jangan lupa, kita dibentuk oleh penyihir yang sama," ujarnya.
"Aku tidak sepertimu," ujarku seraya menunjuk tepat ke arah wajahnya.
"Seharusnya dulu aku tidak pernah membiarkan dirimu lari!" Kali ini dia mengucapkannya sambil menerjang ke arahku.
Aku menghindari serangannya. Aku melompat ke samping dan menarik lengannya seraya melayangkan tendangan ku ke arah perutnya. Victor sedikit meringis mendapat serangan dariku.
Kali ini menatap tajam ke arahku dan kembali menyerbuku, namun Roland melayangkan tembakan ke arahnya dan mengenai sisi kiri perutnya. Victor melotot ke arahnya.
"Kau bukan tandinganku, Nak!" ujarnya seraya menghambur ke arah Roland dengan terjangan yang begitu cepat.
Aku kembali berlari ke arah Victor dan menerjangnya. Kali ini ia terhuyung ke belakang akibat terjangan ku. Ia menatap ke arahku dengan pandangan murka.
Ia bergerak ke arahku dengan serangan secepat kilat. Aku berusaha menghindari serangannya namun ia meraih leherku dan mencekik ku. Dia mengangkat ku sampai kakiku tidak menyentuh lantai.
Aku berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangannya di leherku namun dia terlalu kuat. Aku merasakan kehabisan nafas.
Aku mendengar suara tembakan ketika Roland menembaknya tepat ke arah punggung Victor, namun sepertinya tembakan itu tidak begitu berarti pada Victor, ia masih mengeratkan cengkeraman tangannya di leherku.
Aku hampir kehabisan nafas. Victor melotot ke arahku dengan penuh kebencian.
"Kau akan mati hari ini di tanganku. Namun sebelum itu, kau akan melihat pacar manusiamu mati terbakar hidup-hidup di hadapanmu!" ujarnya dengan penuh kebencian.
Mendengar ucapan Victor, jantungku seolah nyaris melompat ke luar.
Aku melihat Victor mengarahkan tangan yang bebas ke arah Roland dan terdengar suara ''puff".
Seketika pakaian Roland mengeluarkan asap dan Roland panik seraya mengibaskan tangannya untuk menghilangkan asap dari pakaiannya.
Melihat hal itu, emosiku seperti memuncak. Aku mengepalkan tanganku dengan gemetar akibat emosi yang seolah membakar jiwaku. Aku memusatkan pikiranku untuk menciptakan api. Kakiku masih melayang di atas lantai. Namun kali ini aku tidak lagi merasakan sakit akibat cengkeraman tangan Victor di leherku.
Aku menatap Victor dengan penuh kebencian. Kali ini bayangan ayah dan ibuku berkelebat di pikiranku seolah hal itu membuat kekuatanku bertambah.
Tiba-tiba aku merasakan seolah ada aliran api yang menjalar di lenganku menuju ke tanganku. Aku mengangkat tanganku dan melihat kobaran api yang muncul di telapak tanganku. Namun anehnya aku tidak merasakan panas di tanganku.
Aku meletakkan tanganku di tangan victor yang mencengkram leherku. Aku membakar tangan Victor dengan api yang berasal dari tanganku. Victor membelalak menatap tangannya yang terbakar. Seketika ia melepaskan cengkeramannya di leherku dan ia melupakan Roland.
Victor mengibaskan tangannya yang terbakar apiku. Ia menatap tak percaya ke arahku sambil memegang pergelangan tangannya yang terluka. Aku berdiri tegak dengan pandangan tegas dan berani ke arahnya.
"Aku adalah Sang Dewi," ujarku dingin ke arahnya.
Ia masih tak percaya menatap bergantian ke arahku lalu ke tangannya yang terluka.
"Bagaimana mungkin kau bisa menciptakan api?" ujarnya tak percaya.
"Kau dan aku diciptakan oleh orang sama, ingat?" Aku tersenyum sinis ke arahnya.
Victor mendesis dan menerjang ku dengan kecepatan tinggi. Kami berdua terguling ke lantai dan saling menyerang. Aku berhasil meninjunya namun dia langsung membalas serangan ku dan tinjunya mengenai wajahku.
Kami terus berguling sambil saring menyerang. Roland menarik bahu Victor dan meninjunya. Hal itu sepertinya membuat Victor semakin murka hingga ia melepaskan aku.
Victor mengarah ke Roland dan menghajarnya hingga Roland terpelanting menabrak dinding dengan suara hantaman keras. Aku melompat ke arah Victor untuk membalasnya.
Aku menangkap Victor dan kali ini aku yang mencekiknya. Aku mendorongnya hingga ia menabrak dinding sambil terus mencekik lehernya.
"Jangan bermain-main denganku." Aku mengancamnya dengan mendesis.
"Kau bukan apa-apa!" Victor membalas ucapan ku dengan nada jijik.
"Aku lah Sang Dewi Kegelapan!" Aku melotot dan masih tetap mencekiknya hingga ia seperti kehabisan nafas.
"Kau tidak akan bisa mengalahkan ku!" Victor mengucapkannya sambil berusaha tersenyum mengejek.
"Aku akan membalaskan dendam orang tuaku!" Aku meraih kepalanya dan hendak mematahkan lehernya ketika tiba-tiba pintu kamarku seolah meledak ke dalam dan dari sana muncullah sekelompok vampir buas yang menghambur ke dalam kamar untuk menyerang ku dan Roland.
Aku membelalak tak percaya dengan apa yang aku lihat.