
Aku dan Roland mandi dan merapikan diri. Setelahnya kami memutuskan untuk kembali ke rumahku.
Sesampainya di rumah, aku disambut oleh Leda. Ia menyampaikan bahwa tadi Damon datang dan mencariku.
"Ia meninggalkan surat untukmu," ujar Leda.
Aku menoleh ke atas meja di ruang tamu dan melihat secarik kertas di sana. Aku meraih kertas itu dan membukanya. Aku mengenal tulisan tangan Damon.
*Sayang, aku akan melanjutkan petualanganku melihat dunia. Maaf karena aku pergi begitu cepat. Aku harap kau selalu bahagia bersama manusia-mu. *
Salam sayang untukmu, Scarlett.
Aku melipat kertas itu. Damon sudah pergi. Apakah dia pergi dengan membawa luka hati yang aku sebabkan? Entahlah. Kuharap dimanapun dia berada, dia selalu bahagia. Aku menyayanginya seperti saudara.
Mungkin memang lebih baik seperi ini. Kami melanjutkan hidup kami masing-masing. Damon kembali berkelana ke penjuru dunia seperti yang selalu dilakukannya selama ini.
Aku kembali memikirkan Damon. Apakah kami akan bisa bertemu kembali, pertanyaan itu berputar di benakku. Aku kembali memikirkan keinginanku untuk menjadi manusia.
Damon belum sempat mengetahui tentang keinginan ku yang terdalam. Dia juga tidak tahu tentang Yang Terpilih. Mungkinkah dia setuju jika aku ingin kembali menjadi manusia? Aku menghilangkan pikiran itu.
Saat ini aku lega mengetahui bahwa Damon baik-baik saja. Aku berharap dia akan menemukan kebahagiaannya entah di suatu tempat di belahan dunia ini.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Leda.
"Ada apa?" tanyaku tegang.
Leda menarik tanganku dan mengajakku ke ruangan lain seolah ia tidak ingin Roland mendengar apa yang akan disampaikan olehnya.
Setelah kami berdua memastikan bahwa Roland tidak akan bisa mendengar percakapan kami, Leda mendekatkan dirinya ke arahku untuk berbisik.
"Aku dan Erick sebenarnya telah ... " dia tidak melanjutkan kalimatnya.
Aku melihat pipinya merona dan dia tersenyum malu ke arahku.
"Ah, Leda." Aku memeluknya dengan erat.
Aku bahagia untuk mereka berdua. Sejak awal aku selalu menginginkan Leda memiliki pasangan yang bisa membuatnya bahagia.
"Leda, kau tahu rasanya aku ingin menangis bahagia untuk kalian!" seruku.
Leda tertawa bahagia bersamaku.
"Scarlett, aku ingin kau bahagia bersama Roland," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Aku menepuk bahunya.
"Jangan semakin membuatku ingin menangis!" seruku.
Leda kembali memelukku.
"Dimana Erick?" tanyaku penasaran.
"Dia sedang keluar sebentar untuk mengecek rumahnya," ujarnya.
Aku mengangguk. Aku teringat bahwa aku belum menceritakan pada Leda tentang pertemuanku dengan Meredith.
"Ada yang ingin aku ceritakan," ujarku pelan.
Leda mengangkat kedua alisnya dengan raut wajah penasaran.
"Tadi aku bertemu Meredith," ujarku pelan.
"Meredith?" tanyanya.
"Dia adalah putri dari Si Bijak Yang Terlupakan," ujarku.
Leda mengangguk paham.
"Penyihir yang mengubahmu menjadi vampir," ujarnya pelan.
Aku mengangguk pelan.
"Leda, dia mengetahui yang sebenarnya tentang Roland," ujarku.
"Maksudmu, dia tahu bahwa Roland adalah Yang Terpilih?" tanyanya seraya mengerutkan dahi.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Leda, mungkin aku harus menguburkan keinginanku untuk kembali menjadi manusia," ujarku lirih.
Leda menatapku dengan penuh simpati.
"Aku tidak mungkin mengorbankan Roland," ujarku seraya menahan air mataku.
Leda menepuk pelan bahuku. Kami berdua terkejut mendengar suara Roland.
"Apa maksudmu?" Roland menanyakan hal itu padaku seraya berjalan mendekati kami berdua.
Aku menatapnya dengan perasaan cemas. Apakah dia tadi mendengar perkataanku, pikirku dalam hati.
"Sejak kapan kau di sini?" tanyaku.
"Jawab aku dulu! Apa maksudmu mengatakan bahwa kau tidak bisa mengorbankan aku?" tanyanya seraya mengernyitkan dahi.
Aku berdiri mematung di hadapannya. Aku tidak bisa menjelaskan tentang hal ini padanya.
Roland meraih bahuku dah menatap lekat mataku.
"Scarlett, jawab aku!" ujarnya.
Aku tidak mampu mengatakan pada Roland hal yang sebenarnya.
"Apakah ini ada hubungannya dengan apa yang diucapkan oleh Meredith di pantai?" tanyanya.
Aku menggeleng pelan.
"Scarlett, jawab!" ucapnya seraya mengguncangkan bahuku.
Aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh.
"Dia bisa menjelaskannya padamu," suara Erick mengagetkan kami.
Kami menoleh ke arah Erick yang saat itu sedang bersama Meredith.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?" tanyaku pada Erick.
"Aku tadi tidak sengaja berjumpa dengannya, ketika dia tahu bahwa aku temanmu, dia meminta untuk bertemu denganmu." Erick menjelaskan dengan singkat.
"Scarlett, aku membawa kabar baik untukmu," ujar Meredith tanpa basa-basi.
Meredith berjalan mendekatiku.
"Semalam aku membuka catatan kuno tentang cara menghapus kutukan." Ia memotong kalimatnya untuk menatap ke arahku dan Roland secara bergantian.
Aku melihat Roland menatapnya dengan raut wajah penasaran.
"Scarlett, yang kau butuhkan untuk menghapus kutukan mu bukanlah dengan mengorbankan nyawa dari Yang Terpilih, melainkan mengorbankan darah sebagai persembahan dalam ritual ini." Dia menjelaskan dengan wajah bahagia.
Aku merasakan harapan mulai tumbuh di dalam jiwaku. Apakah ini artinya aku bisa kembali menjadi manusia tanpa harus mengorbankan nyawa Roland?
"Apakah itu artinya aku bisa kembali menjadi manusia tanpa harus ... " ucapanku terpotong oleh anggukan Meredith.
Aku meneteskan air mata bahagia.
"Ya, yang diperlukan hanyalah sedikit darah dari Yang Terpilih dan aku akan menghapus kutukanmu," ujarnya seraya tersenyum ke arahku.
Aku meneteskan air mata bahagia. Aku menatap Roland dan aku mendapati dirinya juga sedang menatapku dengan raut kebahagiaan yang terpancar di matanya.
"Kapan ritualnya bisa dilakukan?" Roland bertanya dengan semangat.
"Saat ini," ujar Meredith.
Aku menatap semua yang ada di ruangan itu. Semua wajah di sana menatapku dengan tatapan bahagia untukku. Kali ini mimpiku akan terwujud. Aku bisa kembali menjadi manusia dan hidup normal bersama Roland.
......................
Meredith menyiapkan beberapa hal yang diperlukan untuk ritual ini. Ia menyiapkan dupa serta lilin dan juga bejana kecil untuk tempat darah Roland.
Setelah dia merasa siap, dia memulai ritual itu dan menyuruh Roland untuk melukai lengan nya dan memintanya untuk mengisi bejana kecil itu dengan darahnya. Roland mematuhi perintahnya.
Aroma dupa menguar degan begitu kuat di ruangan itu. Erick dan Leda menunggu di ruangan lain. Di sini hanya ada kami bertiga.
Setelah selesai membaca beberapa mantra, Meredith menyuruhku untuk meminum darah yang ada di bejana kecil tadi. Aku segera menenggak habis darah itu.
"Selesai," ujar Meredith.
Bersamaan dengan ucapannya, aku kehilangan kesadaran.
......................
Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Aku berusaha membuka mataku dan merasakan nyeri yang hebat di kepalaku.
Aku mengerjapkan mataku dan melihat wajah Roland berada di atasku. Dia tersenyum ke arahku.
Aku merasakan sensasi yang berbeda dari tubuhku.
"Aku begitu mengkhawatirkanmu," ujar Roland seraya mengecup keningku.
Aku berusaha bangkit dan hendak duduk. Roland membantuku untuk duduk.
Aku melihat bahwa saat ini aku sudah berada di kamarku. Roland duduk di sebelah kananku. Sementara Leda dan Erick duduk di sebelah kiriku di tepi tempat tidur.
Aku merasakan jantungku berdetak. Aku meletakkan satu tanganku ke dadaku dan menyadari bahwa saat ini jantungku benar-benar menjadi hidup.
Aku merasakan air mataku di pelupuk mata. Aku menatap ke arah Roland. Ia mengangguk ke arahku seraya tersenyum.
"Jantungku ... ," bisikku.
"Ya, jantungmu berdetak," ujar Roland seraya tersenyum penuh cinta.
Aku tak mampu lagi menahan air mataku. Aku membiarkannya jatuh membasahi pipiku. Kali ini aku menangis bahagia. Aku merasakan Roland memelukku.
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya dan merasakan degup jantungnya. Kali ini jantungku berdetak dengan irama yang sama seperti jantung Roland.
Aku melepaskan pelukan Roland dan menatap ke arah Leda dan Erick.
Mereka berdua tersenyum bahagia melihatku.
"Leda, aku bukan lagi ... ," suaraku tercekat.
Apakah Leda dan Erick akan tetap menerimaku seperti dulu, pikirku dalam hati.
"Kau tetaplah Scarlett kami," ujar Erick seraya memeluk bahu Leda.
Aku kembali meneteskan air mata bahagia. Ya, ternyata dunia tidaklah sekejam seperti yang pernah aku pikirkan dulu.