SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 40



Kami berdua mengendarai mobil menuju ke rumah Roland. Sudah beberapa hari ini Roland tidak mengecek kondisi rumahnya sama sekali. Jadi aku menyetujui untuk ikut bersamanya.


Di sepanjang jalan, kami berdua bercerita tentang hal-hal yang ringan. Di belokan terakhir yang menuju ke rumahnya aku melihat sepasang suami istri yang berjalan di trotoar sambil menggendong seorang anak kecil yang lucu. Anak perempuan itu digendong oleh ayahnya.


Aku melihat mereka bertiga. Tampak pasangan itu sedang bergurau dengan putrinya. Aku menatap mereka dengan kerinduan yang sama di hatiku.


Jauh di dalam lubuk hatiku, aku menginginkan kehidupan seperti bersama Roland. Aku ingin menjadi manusia dan menua bersama Roland sambil membesarkan anak kami.


Keinginan itu seolah menggerogoti jiwaku dari dalam. Aku kembali teringat bahwa hal itu mustahil untuk terjadi. Aku terpaksa harus mengubur keinginan itu. Namun jika aku memutuskan untuk tetap hidup sebagai makhluk terkutuk, maka suatu hari aku harus menerima kenyataan pahit bahwa Roland akan menua dan mati. Aku akan kembali berkelana sendirian di dunia ini.


Memikirkan hal itu seolah membuat jantungku hancur. Apalah artinya hidup jika tanpa ada Roland di dalamnya.


"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Roland memecahkan lamunanku.


"Tidak ada," ujarku berbohong.


"Aku bisa melihat bahwa kau sedang memikirkan sesuatu," ujarnya seraya menatap ke arahku sekilas sebelum ia kembali melihat ke depan.


"Sudahlah, ini hanyalah angan-angan yang tidak mungkin terjadi," ujarku seraya kembali menatap ke depan ke arah jalan yang menuju ke rumah Roland.


"Scarlett, sebaiknya jangan pernah ada rahasia di antara kita," ujarnya.


Ucapan Roland seolah menampar diriku. Apakah aku telah melakukan kesalahan karena aku menutupi kebenaran tentang dirinya? Entahlah, aku bingung. Apa yang akan Roland lakukan jika ia tahu bahwa jiwanya mampu melepaskan kutukan yang ada pada diriku?


Tidak, jangan sampai Roland mengetahui hal ini. Ia mengerti betapa inginnya aku untuk kembali menjadi manusia. Jika dia tahu bahwa dengan mengorbankan jiwanya mampu menghapus kutukanku, maka dia akan berkorban untukku.


Aku tidak mau hal itu terjadi. Biarlah Roland hidup dengan bahagia. Aku ingin dia terus hidup tanpa harus berkorban untukku.


Kami berdua sampai di rumah Roland. Aku berjalan di sampingnya menuju ke rumahnya. Ia membuka pintu depan rumahnya. Ruang tamunya mulai berdebu karena beberapa hari ini tidak pernah ada yang membersihkannya.


"Mau ku bantu untuk bersih-bersih?" tanyaku bersemangat.


Roland tertawa mendengar pertanyaanku.


"Kau seolah berperan sebagai ibu rumah tangga," ujarnya seraya tertawa dan mengecup lembut pipiku.


"Ya," ujarku seraya berjalan menuju ke ruangan lain di rumah itu untuk mencari perlengkapan bersih-bersih.


"Duduklah, biar aku saja yang membersihkan rumah," ujar Roland seraya menunjuk sofa menyuruhku duduk.


Aku menurutinya. Aku duduk di sofa dan menatap perapian yang dingin. Ingatanku kembali pada pasangan yang aku lihat tadi sedang berjalan di trotoar.


Bagaimana rasanya hidup bersama pasangan dan memiliki anak? Jiwaku begitu merindukan hal seperti itu. Sudahlah, aku harus mengubur keinginan itu.


"Kau terlihat murung," ujar Roland seraya berjalan mendekatiku.


Aku tersenyum ke arahnya.


"Beberapa hari ini terasa begitu melelahkan," ujarku.


"Kalau begitu istirahat saja," ujar Roland.


"Aku ingin ditemani olehmu," ujarku manja.


Roland mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mengecup lembut bibirku.


"Nanti akan ku temani," ujarnya seraya mengedipkan sebelah matanya kepadaku.


Aku tersenyum ke arahnya. Roland membersihkan rumahnya. Aku memperhatikan gerak geriknya. Ia terlihat cekatan mengerjakan semuanya sendiri. Mungkin selama ini ia selalu tinggal sendiri setelah ayahnya meninggal.


Hatiku terasa sakit mengingat cerita Roland bahwa ayahnya dihukum atas tuduhan penghianatan oleh klan pemburu.


Roland menyadari tatapanku yang selalu tertuju padanya. Ia menghentikan pekerjaannya dan tersenyum ke arahku. Ia melemparkan kain lap yang sedang dipegangnya ke lantai.


Ia berjalan menghampiriku dan menggendongku. Aku melingkarkan lenganku di lehernya.


"Persetan dengan bersih-bersih," ujarnya seraya mencium bibirku.


Tanpa banyak berkata-kata, ia langsung naik ke atasku dan kembali memelukku serta melayangkan ciumannya di leherku dan di bagian lain tubuhku.


"Scarlett, kau benar-benar memabukkan," bisiknya.


Aku memejamkan mataku menikmati setiap sentuhannya di setiap inci tubuhku. Bagaimana mungkin gairah kami berdua tidak pernah padam. Mungkin inilah yang disebut cinta.


Kami berdua saling menyatu. Tak ada hal lain di pikiranku selain Roland. Kami berdua bergerak seirama hingga mencapai pelepasan bersama.


Roland menatap mataku. Aku bisa melihat cinta yang begitu dalam di matanya.


"Aku mencintaimu," bisikku.


"Aku mencintaimu lebih dari hidupku," ujarnya.


Aku merasakan getaran di seluruh tubuhku mendengar ucapannya. Roland, apakah takdir bisa membiarkan kita hidup bersama? Pertanyaan itu melayang di benakku.


"Scarlett, hiduplah bersamaku," pintanya.


Bahkan tanpa diminta pun, aku rela menyerahkan hidupku untuknya.


"Ada yang ingin kutanyakan padamu," ujar Roland.


Aku menatapnya khawatir. Aku takut dia akan kembali menanyakan tentang ucapan Meredith tadi. Aku menunggunya bicara.


Namun pertanyaannya tidak jadi terucap karena kami berdua dikagetkan oleh suara pintu kamar Roland yang terbuka dengan suara hentakan keras.


Aku dan Roland segera waspada. Aku menyelimuti tubuhku dengan selimut Roland.


"Kalian berdua harus mati hari ini!" Teriak seorang pria dengan menodongkan pistol ke arah kami berdua.


Aku melihat beberapa pria lainnya menghambur ke dalam kamar dengan pistol mereka yang siaga di tangan.


Aku melihat logo klan pemburu vampir yang terdapat di jaket yang sedang dikenakan si pria pertama. Sial! Kenapa mereka datang di saat yang salah, pikirku.


"Dasar penghianat!" teriak si pria pertama ke arah Roland. "Kau akan bernasib sama seperti ayahmu!"


"Ayahku tidak melakukan kesalahan apapun!" Teriak Roland.


"Kau membela monster itu?" Balas si pria sambil menodongkan pistolnya ke arahku.


"Dia bukan monster! Kalian lah monster itu!" Teriak Roland.


Pria itu meludah ke samping. Aku melihat semua anggota klan pemburu itu sedang berdiri siaga. Kami dikepung.


"Pikiranmu telah diracuni oleh makhluk terkutuk itu!" ujar si pria itu pada Roland.


"Dengar, dia tidak pernah menyerang manusia !" ujar Roland berusaha menjelaskan tentang diriku pada anggota klan pemburu.


"Pikiranmu telah dikacaukan olehnya," ujarnya seraya melotot ke arah Roland.


Pria itu menembakkan pelurunya ke arahku. Namun aku bergerak cepat untuk menghindar. Untunglah selimut yang menutupi tubuhku masih aku pegang erat.


"Pergilah! Sebelum aku membakar kalian semua," ujarku dengan suara santai.


Si pria pertama tertawa ke arahku.


"Kau pikir kau siapa heh?" ejeknya ke arahku. "Aku bahkan bisa membunuhmu hanya dalam satu kali tembakan saja."


Aku merasakan amarahku berkobar mendengar ucapannya. Dia belum mengetahui siapa diriku sebenarnya. Mungkin baginya aku hanyalah seorang vampir ingusan yang sedang dimabuk asmara.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku menyalakan api di tanganku dan mengarahkan api itu ke arah si pria pertama.


Pria itu menjerit histeris ketika api berkobar di tubuhnya. Sementara anggota klan yang lain lari ketakutan melihat apa yang mereka saksikan.