
Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Sehari? Dua hari? Atau seminggu? Aku merasakan waktu berjalan begitu lambat. Aku merasa tubuhku begitu lemah. Kapan terakhir kali aku minum darah? Ah ya, saat Damon membawakan kantong darah di kamarku. Sampai saat ini aku belum minum darah lagi. Pantas saja aku merasa tubuhku benar-benar lemah.
Aku merasakan sakit di bahuku bekas tusukan yang Victor lakukan padaku telah berkurang. Aku mencoba membuka mataku. Aku bisa menggerakkan tanganku meskipun harus mengerahkan tenaga yang begitu besar hanya untuk mengangkat tanganku ke atas wajahku. Aku meraba luka di bahuku. Pendarahannya sudah berhenti. Aku melihat ke sekeliling. Ruangan itu kosong. Kemana perginya Victor? Aku mencoba bangkit. Aku mengernyit ketika luka di bahuku kembali terasa menusuk. Aku menggigit bibirku dan berusaha untuk duduk.
Ruangan itu berdinding abu-abu. Aku seperti sedang berada di dalam sebuah penjara. Aku berusaha untuk duduk. Bagaimana caraku keluar dari ruangan ini? Tidak ada jendela satupun di sini, yang ada hanyalah sebuah pintu yang pasti dikunci dari luar oleh Victor. Aku mencoba berdiri dan berjalan terhuyung-huyung menuju ke arah pintu. Aku mencoba mendorongnya. Nihil. Aku tak mampu keluar dari sini. Aku duduk bersandar pada dinding yang terasa dingin di punggungku.
Bagaimana seandainya aku tidak bisa keluar dari tempat ini? Akankah ada yang akan menyelamatkan diriku? Apakah Roland akan datang untuk menyelamatkan aku? Aku duduk termenung. Aku harus berpikir! Aku memaksa otakku untuk mencari jalan keluar dari situasi ini. Pasti ada cara! Aku harus bisa!
Aku berdiri dan berjalan mengitari ruangan itu. Aku menyentuh dinding di sana dengan jariku. Aku melihat setiap inchi dinding yang aku sentuh. Aku mencoba mendengar suara-suara dari luar. Hening. Sebenarnya aku ada dimana? Apakah ini tempat tinggal Victor atau hanya tempat untuk mengurungku saja? Aku kembali fokus pada dinding. Aku tertarik untuk memeriksa dinding retak bekas benturan ku saat Victor melempar ku ke arah dinding itu.
Aku meraba dinding yang retak itu sambil memeriksa dengan teliti. Retakannya lumayan parah. Pastilah aku membentur dinding dengan kekuatan yang luar biasa. Aku mengintip ke dalam celah retakan. Aku bisa melihat samar-samar ke luar. Saat itu sepertinya masih dini hari. Artinya aku pingsan tidak begitu lama. Baguslah.
Aku kembali meneliti celah retakan itu. Aku bisa saja meninju retakan itu hingga dindingnya hancur. Namun hal itu akan membawa Victor kemari. Aku memutuskan untuk berubah wujud menjadi asap dan melewati celah retakan itu. Ya, aku akan menjadi asap. Aku segera berkonsentrasi dan memfokuskan pikiranku. Sial. Tubuhku terlalu lemah untuk berubah wujud. Aku mendengar suara decitan pintu dibuka. Victor sudah kembali.
"Ah, kau sudah bangun rupanya," ujarnya sambil tertawa mengejek.
Aku ingin sekali meninju wajahnya yang mengerikan seperti Voldemort dalam Film Harry Potter. Tapi untuk saat ini aku harus menghemat energiku untuk bisa kabur dari tempat ini. Aku tidak boleh bertindak ceroboh. Aku harus bertindak dengan hati-hati. Ia adalah orang yang paling licik di alam semesta ini. Aku mengurungkan niatku untuk meninjunya.
"Sepertinya kau sedang tidak dalam kondisi terbaik." Dia kembali mengejekku.
"Jangan meremehkan aku!" Aku mengucapkannya sambil tersenyum sinis.
"Apakah kau benar-benar putri kakakku?" Ejeknya. "Kau begitu lemah untuk menjadi seorang putri!" Kali ini tawanya kembali. Dia tertawa terbahak-bahak sampai bahunya berguncang.
Darahku mendidih mendengar tawanya yang merendahkan aku.
Aku mengepalkan tanganku. Instingku mengambil alih otakku. Aku menghambur ke arahnya dan meninjunya hingga ia terpental ke dinding di belakangnya dengan suara yang nyaring dan membuat dinding itu retak lebih parah hingga nyaris hancur.
"Aku adalah Sang Dewi. Aku Putri dari penguasa kerajaan Babilonia. Aku akan membalaskan dendam orang tuaku padamu!" Aku mengucapkannya dengan nada penuh ancaman sambil melangkah menuju ke arahnya.
Emosiku seolah memberi ku kekuatan yang begitu besar. Aku merasakan tubuhku menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Aku melangkah ke arahnya sambil menatap tajam seolah tatapan ku dapat membunuhnya. Victor melihatku dengan mulut menganga. Ia berusaha bangkit dan hendak menyerangku namun aku bergerak jauh lebih cepat darinya. Aku mencekik lehernya dengan kekuatan penuh.
"Aku akan mematahkan lehermu hingga kepalamu terpisah dari tubuh mu," desis ku. "Kemudian aku akan membakar mu hingga menjadi abu."
Victor membelalak dan bola matanya nyaris keluar dari rongga matanya. Kali ini aku benar-benar akan membalas dendam! Aku semakin mencekik lehernya. Aku memegang kepalanya dengan tanganku yang satunya dan hendak mematahkan lehernya ketika aku merasakan tubuhku panas seolah terbakar. Aku menjerit kesakitan dan melepaskan tanganku dari leher Victor. Aku terhuyung mundur dan memeriksa tubuhku. Bajuku mengeluarkan asap dan bau terbakar. Aku mendengar Victor tertawa.
"Aku yang akan membakar mu terlebih dahulu." Ia mengucapkannya sambil tertawa.
Bagaimana bisa? Bagaimana dia menggunakan kekuatan seperti itu? Aku berdiri kaku. Pakaianku kini berwarna hitam karena gosong. Dia semakin tertawa terbahak-bahak melihat penampilanku yang seperti tikus got.
"Lihatlah dirimu! Kau terlihat begitu menggelikan." Ia tertawa terpingkal-pingkal hingga badannya membungkuk dan tangannya memegangi perutnya.
Jika aku kembali melawannya, dia akan kembali membakar ku dengan kekuatan apinya. Aku harus berpikir. Ayo berpikirlah! Aku memerintah otakku. Satu-satunya cara untuk selamat saat ini adalah dengan cara kabur darinya. Tidak mungkin aku bisa melawannya dengan kondisiku yang lemah seperti sekarang. Aku memutuskan untuk menerjang ke arah dinding yang retak dan menghancurkan dinding itu. Suara dinding itu bergemuruh saat aku menerjangnya dengan kekuatan besar. Dinding itu hancur dan membentuk sebuah lubang yang memungkinkan diriku untuk kabur. Aku segera terbang ke arah lubang itu dengan cepat. Aku akan terbebas dari Victor.
Kebebasanku rupanya hanya angan-angan karena Victor menarik tubuhku ke belakang dan menghalangiku untuk kabur. Sial. Dia bergerak lebih cepat dariku. Dia kembali membanting ku ke lantai. Aku mendarat dengan suara gedebuk keras. Aku kembali bangkir meskipun dengan tubuh terhuyung. Aku tidak mau menyerah! Aku adalah Dewi! Tidak akan ada kata menyerah dalam hidupku! Aku bersiap menerjang ke arahnya namun aku kaget ketika mata Victor membelalak dan tubuhnya tiba-tiba kaku. Aku melihat sebuah belati tertancap di dadanya. Victor jatuh dengan wajah membentur lantai.
Di sana, berdiri Roland yang sedang menatapku. Dia yang melemparkan belati mengenai dada Victor. Aku segera berlari dan menghambur ke dalam pelukannya. Roland memelukku dengan erat. Dia datang untukku.