
Aku berdiri dengan tubuh kaku di ruang tamu. Kenapa situasinya menjadi semakin rumit seperti ini, tanyaku dalam hati. Bagaimana dengan Leda? Apakah ia baik-baik saja? Aku gemetar membayangkan kondisi Leda beberapa hari yang lalu ketika aku menemukannya terkapar di halaman belakang rumahku.
Kali ini Leda kembali berada dalam bahaya karena aku. Sang Dewa Kegelapan pasti sengaja membawanya untuk menjadikannya sandera agar aku menuruti kemauannya. Bagaimana mungkin aku selalu menjadi malapetaka bagi orang-orang yang aku sayangi? Seolah dunia ini tidak pernah mengizinkan aku untuk hidup bahagia bersama orang-orang yang aku sayangi.
Apakah aku begitu tidak berguna seperti yang diucapkan Victor padaku? Apakah aku begitu tidak berdaya hingga aku tidak pantas untuk berada di dunia ini?
Dulu aku tidak mampu menyelamatkan nyawa orang tuaku. Aku tidak mampu menyelamatkan kerajaanku. Aku juga beberapa kali membuat nyawa Roland terancam karena diriku. Leda juga mengalami hal yang membahayakan untuk nyawanya karena aku. Aku benar-benar makhluk yang tidak berguna.
Aku terduduk di sofa dengan bahu terkulai lemas. Aku membiarkan air mataku membanjiri pipiku. Aku menangis sampai bahuku berguncang.
Dadaku terasa sesak. Kali ini lawanku adalah Sang Dewa Kegelapan itu sendiri. Bagaimana aku mampu melawannya? Aku semakin tersedu memikirkan hal itu.
Aku merasakan sentuhan lembut di bahuku. Aku menengadah. Aku melihat Roland sedang memandangku dengan tatapan khawatir.
"Apa yang terjadi?" tanyanya khawatir.
Aku bangkit dari dudukku dan mengambil kertas yang tadi aku lempar ke lantai. Aku menyerahkan kertas itu kepada Roland.
Roland meraih kertas itu dan membaca pesan yang tertera di sana. Aku melihat ekspresi kemarahan di wajahnya. Roland menggertakkan rahang setelah membaca pesan yang tertulis di sana.
"Sang Dewa Kegelapan membawa Leda dan Erick," ujarku lirih.
Aku menengadah menatap ke arah Roland. Tatapannya menerawang seolah memikirkan hal itu. Mungkin dia sedang berpikir.
"Dia sengaja melakukannya agar aku datang ke sana." Aku mengucapkannya dengan penuh emosi.
"Dia juga membawa Erick?" Roland bertanya penasaran.
Aku mengangguk.
"Terakhir kali aku melihat Leda bersama Erick." Aku menjawabnya dengan suara pelan.
Aku benar-benar merasa bersalah pada Leda dan Erick. Mereka sedang berada dalam bahaya karena aku.
"Aku ... ," suaraku tercekat.
Roland memandangku dan melangkah mendekatiku. Ia duduk di sampingku dan menarik kepalaku untuk bersandar di dadanya. Ia mengusap lembut kepalaku.
Aku memejamkan mataku sambil bersandar di dadanya. Entah kenapa akau merasa jauh lebih tenang ketika Roland berada di sisiku. Aku mendengarkan irama jantungnya dan menghirup aroma nafasnya.
"Aku selalu membahayakan orang-orang yang aku sayangi," ujarku sambil meneteskan air mata.
Aku merasakan Roland menggeleng pelan. Tangannya mengusap pundakku seolah untuk memberikan ketenangan padaku.
"Itu bukan salahmu," ujarnya dengan nada lembut.
"Tidak, ini semua terjadi gara-gara aku." Kali ini aku melepaskan pelukannya di bahuku.
Aku duduk dan menghadap ke arahnya dengan mata penuh air mata.
"Aku tidak bisa menyelamatkan orang tuaku, kau juga beberapa kali nyaris mati karena aku, Leda dan Erick selalu berada dalam bahaya juga karena aku." Kali ini ucapanku bercampur isak tangis.
Roland kembali menarik ku ke dalam pelukannya. Ia menggosok punggungku.
"Kau tahu, terkadang kita perlu membiarkan sesuatu terjadi di luar kendali kita." Ia mengucapkannya seraya memelukku lebih erat untuk memberikan kekuatan.
Aku menengadah untuk menatap matanya. Ia menghapus air mataku dengan tangannya.
"Ini bukan salahmu," ulangnya padaku sambil tersenyum menenangkan.
Aku kembali menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Leda dan Erick?" Aku sedikit gemetar ketika mengucapkan hal itu.
"Kita akan menyelamatkan mereka." Roland mengucapkannya dengan nada penuh keyakinan.
Aku memeluk Roland. Seolah dengan begitu aku merasakan kedamaian dan kekuatan mengalir ke dalam jiwaku.
Kami berdua kaget dengan suara langkah kaki yang memasuki ruang tamuku. Aku menoleh ke arah suara tersebut. Damon melangkah dengan wajah muram dan duduk di seberangku.
"Apa aku ketinggalan peristiwa yang seru?" Tanyanya dengan wajah muram.
Aku menjelaskan padanya tentang kedatangan Victor kemari dan serbuan para vampir liar. Aku juga menceritakan padanya bahwa Sang Dewa Kegelapan membawa Leda dan Erick sebagai tawanan.
Damon mengernyitkan dahi mendengar ceritaku. Wajahnya semakin berubah gelap.
"Ternyata bedebah itu membawa mereka," ujarnya dengan nada dingin.
"Kau dari mana saja?" Aku bertanya padanya.
"Aku hampir saja dibawa pergi oleh si bedebah yang tergila-gila padamu!" Jelasnya dengan nada jengkel. "Untunglah aku berhasil kabur." Tambanya.
Aku mencerna informasi yang diucapkan Damon.
"Tadi Sang Dewa Kegelapan menemui mu?" Tanyaku sambil mengerutkan kedua alisku.
"Ya, tapi aku kabur darinya. Seandainya dia berhasil menangkap ku, mungkin saat ini aku sudah hampir gila dibuatnya." Ia mengatakannya dengan wajah jengkel.
Pantas saja sejak tadi Damon tidak datang ke sini. Artinya, ketika aku dan Roland sedang melawan Victor dan para vampir liar, damon sedang melawan Sang Dewa Kegelapan. Apakah Sang Dewa Kegelapan sengaja memanfaatkan momen itu?
"Damon, kita harus menyelamatkan Leda dan Erick." Aku mengucapkannya sambil menatap ke arahnya.
Damon mendengus mendengar ucapanku.
"Kenapa aku harus menyelamatkan mereka?" Dua mengucapkannya sambil menoleh menatapku.
Aku mengerutkan kening membalas tatapannya.
"Mereka tidak ada hubungannya denganku!" ujar Damon acuh tak acuh.
"Damon, ... " Aku memanggilnya agar ia menoleh ke arahku.
Ia menatap ke arahku. Aku merasakan pelukan Roland semakin kuat di pundakku.
"Ku mohon, demi diriku," ujarku lirih.
Ekspresi wajah Damon terlihat semakin melunak. Aku melihatnya menghembuskan nafas berat. Ia menatap lekat ke arahku. Aku membalas tatapannya dengan mata memohon.
"Baiklah," ujarnya.
Aku menghembuskan nafas lega mendengarnya
"Terimakasih," bisikku.
"Aku melakukannya demi dirimu!" Damon mengucapkannya seraya menatap lekat ke arahku.
Aku mengangguk.
Tatapan Damon beralih ke arah tangan Roland yang masih memeluk bahuku dengan erat. Ekspresi Damon tampak terluka. Hatiku terasa sakit ketika melihat penderitaan di matanya. Kenapa semua orang terluka ketika berada di dekatku? Aku menepis pikiran yang seolah menggerogoti jiwaku.
Kami bertiga menegang ketika mendengar suara lolongan serigala yang berasal dari halaman depan rumahku. Aku duduk tegak.
Aku menoleh ke arah Roland dan Damon bergantian. Wajah mereka berdua menegang.
Aku bangkit dari sofa. Roland dan Damon berdiri di samping kanan kiriku sebagai perisaiku.
Kami mendengar lolongan itu mirip suara kesedihan. Kali ini pasti kawanan werewolf merasakan bahwa Alpha mereka sedang berada dalam bahaya.