SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 39



Aku menegang mendengar ucapannya. Aku merasakan Roland merangkul bahuku dengan kencang. Aku juga merasakan ketegangan dalam diri Roland.


"Siapa kau?" tanyaku.


Ia menatap lekat ke arahku tanpa menjawab pertanyaanku. Aku merasakan Roland semakin mengeratkan tangannya di bahuku seolah untuk melindungi ku. Siapa sebenarnya wanita ini, tanyaku dalam hati.


Kali ini tatapan wanita itu beralih ke arah Roland. Aku merasakan tubuhku menegang.


"Bagaimana kalian berdua bisa bersama?" tanyanya dengan sorot mata penasaran.


Roland menoleh ke arahku dengan tatapan bertanya. Aku membalas tatapannya dengan sorot mata kebingungan.


"Kau ... " Perempuan itu kembali menatap ku seraya mengarahkan telunjuknya ke arahku.


Aku menelan ludah dengan susah payah.


"Kau adalah putri Gilgamesh!" serunya.


Bagaimana dia bisa mengetahui tentangku? Aku merasakan sensasi dingin yang menjalari punggungku.


"Bagaimana kau tahu?" tanyaku dengan suara pelan yang nyaris berbisik padanya.


"Aku adalah putri dari Si Bijak Yang Terlupakan," ujarnya.


Ah kini aku mengerti. Si Bijak Yang Terlupakan adalah penyihir yang mengubahku dulu. Dia adalah nephilim, manusia setengah dewa yang menjadi penyihir di kerajaan. Dia juga immortal. Perempuan ini adalah putrinya. Itu artinya perempuan yang ada di hadapanku juga immortal.


"Di mana dia sekarang?" Aku menanyakan keberadaan Si Bijak Yang Terlupakan.


Tatapannya berubah menjadi kesedihan ketika mendengar pertanyaanku.


"Dia dibunuh oleh Victor," ujarnya dengan suara serak.


Tatapannya menerawang seolah ia kembali mengingat kejadian itu. Aku merasakan amarahku kembali muncul setelah mendengar nama Victor.


"Aku turut berduka," ujarku.


Dia mengabaikan perkataanku.


"Beberapa hari setelah mengubahmu menjadi immortal, Victor datang ke rumah kami dan memaksa ayahku untuk mengubahnya menjadi makhluk immortal. Namun ayahku menolaknya. Victor marah besar atas penolakan ayahku. Dia mengancam akan membunuhku jika ayahku tidak menuruti perintahnya." Ia menghentikan ucapannya sejenak.


Aku dan Roland tidak menyela ceritanya.


"Akhirnya ayahku menyetujui permintaannya. Setelah ritual itu selesai dan Victor telah berubah menjadi vampir seutuhnya, dia justru membunuh ayahku." Suaranya menghilang di akhir kalimat dan dia menghapus air mata di sudut matanya.


Aku prihatin atas apa yang telah menimpa mereka.


"Aku turut prihatin," ujarku pelan.


Dia kembali menatapku.


"Hari itu aku berlari sejauh mungkin dari tempat itu untuk menyelamatkan diri. Aku berharap aku bisa menemukanmu dan memintamu untuk kembali memperbaiki keadaan di istana." Ia mengucapkannya dengan suara bergetar.


Aku menggigit bibirku membayangkan dia harus berlari menyelamatkan diri dari ancaman Victor. Sama seperti yang aku lakukan dulu.


"Aku tidak mampu menyelamatkan kerajaan," ujarku lirih.


Kali ini aku melihat tatapan matanya mulai melunak.


"Terkadang kita perlu mengubur masa lalu dan membiarkan masa depan menyambut," ujarnya seraya tersenyum ke arahku.


Aku mengangguk ke arahnya.


"Aku Meredith," ujarnya seraya mengulurkan tangan ke arahku.


Aku menyambut uluran tangannya.


"Masuklah!" ujarnya seraya berbalik dan berjalan ke dalam rumah.


Aku menoleh ke arah Roland yang sedang menatapku. Dia mengangguk. Kami berdua berjalan mengikuti Meredith ke dalam.


Sesampainya di dalam rumah, Meredith menyuruh kami duduk di sofa. Rumah itu mungil. Mungkin Meredith tinggal seorang diri.


"Kau mau ku buatkan minuman?" tanyanya ke arah Roland.


"Tidak perlu," ujar Roland.


Meredith duduk di sofa yang terletak di seberang kami.


"Bagaimana kalian bisa bersama?" tanyanya seraya melihat ke arah tangan Roland yang masih tetap memeluk bahuku.


Aku dan Roland saling berpandangan.


"Dia menyelamatkan diriku beberapa waktu yang lalu ketika aku mendapat serangan dari seorang pemburu vampir," jelasku.


"Bukankah kau juga seorang pemburu vampir?" tanyanya pada Roland.


"Dia ... " kalimatku terpotong ketika Roland menyela.


"Aku bukan lagi anggota pemburu vampir," jelas Roland.


"Kalian berdua harus selalu berhati-hati," ujar Meredith pada kami.


"Apa maksudmu tadi mengatakan bahwa aku adalah Yang Terpilih?" tanya Roland pada Meredith.


Aku menegang mendengar pertanyaan Roland. Meredith melihat ke arahku. Aku menggeleng pelan ke arahnya.


"Lupakan saja!" ujar Meredith seraya mengibaskan tangan.


Aku menoleh ke arah Roland dan melihat sorot kecewa di matanya. Mungkin dia benar-benar ingin tahu apa yang dimaksud oleh Meredith di teras.


"Victor sudah tiada," aku mengalihkan topik pembicaraan.


"Benarkah?" tanya Meredith dengan mata membelalak tak percaya.


"Ya, dia sudah mati dan menjadi debu," ujarku meyakinkannya.


"Bagaimana bisa?" Meredith bertanya dengan mata membelalak.


"Beberapa waktu lalu dia menyebabkan kekacauan di kota, dia sengaja datang untuk mencariku," ujarku.


Tatapan Meredith berubah ngeri ketiak dia mendengar ucapanku.


"Bagaimana kau bisa lolos darinya?" tanyanya penasaran.


"Aku berhasil membunuhnya," jawabku singkat.


Meredith mengangguk dan menatapku dengan rasa bangga yang terpancar jelas di matanya.


"Kau berhasil membalaskan dendam orang tuamu," ujarnya padaku.


Aku mengangguk dan menoleh ke arah jendela.


"Sepertinya hujannya sudah reda," ujarku.


Roland menoleh ke arah jendela. Di luar tampaknya hujan sudah reda.


"Kami pamit pulang," ujar Roland seraya menarik bahuku untuk berdiri.


Kami berpamitan pada Meredith. Aku dan Roland melangkah meninggalkan Meredith yang berdiri di ruang tamu. Sesampainya di pintu aku mendengar Meredith memanggil namaku.


Kami menghentikan langkah dan aku menoleh ke arahnya. Dia memberi isyarat padaku agar aku mendekat padanya. Aku menyuruh Roland untuk menungguku di teras dan dia menyetujuinya.


Aku berjalan menghampiri Meredith dan berdiri tepat di hadapannya.


"Scarlett, apakah kekasihmu tidak tahu bahwa dia adalah kunci untuk melepaskan kutukan mu?" tanyanya dengan nada pelan agar Roland tidak bisa mendengarnya.


Aku menggeleng padanya.


"Bukankah kau ingin kembali menjadi manusia?" tanyanya.


"Bagaimana kau tahu?" tanyaku penasaran.


"Dahulu ayahku mengatakan padaku bahwa kau tidak ingin hidup menjadi vampir," jawabnya.


"Aku ingin kembali menjadi manusia, tapi tidak dengan cara mengorbankan Roland," bisikku dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak ada cara lain untuk mengembalikan mu menjadi manusia selain dengan cara mengorbankan jiwa dari Yang Terpilih," bisiknya.


"Tidak, aku tidak akan pernah mengorbankan dirinya!" ujarku seraya menggelengkan kepalaku dan menggigit bibirku untuk menyembunyikan kepedihan dalam hatiku.


"Scarlett, aku melihat kepedihan dalam jiwamu," ujarnya dengan wajah prihatin.


"Tidak apa-apa," balasku seraya mengedipkan mataku agar air mataku tidak tumpah.


"Bagaimana mungkin kehidupan ini memberimu begitu banyak kepedihan?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa, aku bisa menanggungnya," ujarku seraya tersenyum lemah ke arahnya.


"Scarlett, kau tahu bahwa aku selalu berada di pihakmu." Dia mengucapkannya dengan tulus.


Hatiku bergetar mendengar perkataannya.


Aku mengangguk ke arahnya.


"Aku harus pergi, Roland sedang menungguku," ujarku.


Dia mengangguk dan tersenyum ke arahku.


"Datanglah kemari kapanpun kau mau," ujarnya.


"Terimakasih," ujarku dan berbalik meninggalkannya.


Aku melihat Roland tersenyum ke arahku ketika aku berjalan mendekatinya. Dia menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju mobil.


Aku merasakan genggaman tangan Roland yang begitu mantap di tanganku. Sejenak aku bisa melupakan keinginanku untuk kembali menjadi manusia. Saat ini hal terpenting adalah aku memiliki Roland dalam hidupku.