
Gerombolan vampir muda itu menghambur masuk ke dalam kamarku dan menyerang ke arahku dan Roland. Aku membalas serangan mereka dengan gerakan gesit. Dari sudut mataku aku melihat Roland menembakkan beberapa peluru perak ke arah para vampir buas itu.
Peluru Roland mengenai beberapa vampir ganas itu. Ada setidaknya empat vampir yang tumbang ke lantai. Sisanya masih menyerbu ke arahku dan Roland.
Aku menghajar satu vampir yang mencoba menerjang ku amun aku menangkapnya dan memiting lengannya hingga menyebabkan bunyi retakan tulang yang membuatku sedikit merinding. Aku mematahkan leher vampir muda itu.
"Tembak tepat ke arah jantungnya!" Aku berteriak ke arah Roland.
Victor seolah menikmati pemandangan yang terjadi di depan matanya. Ia seolah sedang menonton sebuah pertandingan gulat yang mungkin menurutnya itu seru.
Roland terlihat kembali menembakkan beberapa peluru namun semuanya meleset dari sasaran. Ia berusaha untuk menembak tepat ke arah jantung para vampir buas itu namun gerakan pasa vampir itu seolah bukan tandingan Roland. Mereka bergerak begitu gesit dan buas.
Aku berlari ke arah Roland, dan membantunya untuk melawan serangan. Aku berdiri membelakanginya dengan posisi punggung kami saling bersentuhan. Para vampir itu menyerang dari segala arah.
"Sial!" Roland mengumpat ketika ia menyadari bahwa pistolnya telah kehabisan peluru perak.
Aku menerjang salah satu vampir yang maju ke hadapanku.
"Tembak lagi!" Seruku pada Roland.
"Aku kehabisan peluru!" Teriak Roland sambil menerjang ke arah vampir yang hendak menggigit lehernya.
Aku berlari dan menarik vampir yang hendak menggigit Roland.
"Jangan menyentuhnya!" Teriakku seraya melotot pada vampir wanita yang hendak menyerang Roland.
Vampir itu tertawa menampakkan taringnya yang meneteskan air liur.
Aku menyerangnya dan membantingnya ke lantai.
Sudah ada banyak vampir yang berjatuhan di kamarku, kali ini hanya tertinggal dua vampir lagi yang masih bertahan.
Aku menerjang ke arah mereka berdua namun mereka menghalangiku. Mereka berdua lumayan kuat untuk ukuran vampir muda seusianya. Keduanya adalah pria bertubuh besar dan gempal.
Aku meninju salah satu vampir bertubuh besar itu namun ia menangkap lenganku dan menendang ku hingga aku jatuh terpelanting ke lantai.
Roland berlari dan menerjang ke arahnya. Namun vampir itu begitu buas dan ia menangkis pukulan Roland. Ia menangkap Roland dan melemparnya hingga menabrak dinding.
Melihat Roland mengerang kesakitan, emosiku seolah membara. Aku memusatkan kekuatanku pada api di dalam tubuhku. Aku merasakan api itu mengalir di sepanjang lenganku dan mengarah ke tanganku. Aku berdiri dan mengarahkan tanganku menghadap dua vampir yang berjalan ke arah Roland.
Puff... Api menyala dan membakar kedua vampir itu. Mereka menjerit dan berusaha mematikan api yang melahap tubuh mereka. Namun api itu semakin membesar. Kedua vampir itu melompat dari balkon kamarku dan berguling di rerumputan di bawah untuk mematikan api yang membakar tubuhnya.
Aku melihat kedua pakaian vampir itu berubah menjadi gosong. Aku semakin memusatkan kekuatanku dan membuat api itu semakin membesar. Beberapa detik kemudian kedua vampir itu hancur menjadi debu yang beterbangan ditiup angin.
Aku menoleh ke arah Roland yang mengerang kesakitan. Aku berlari ke arahnya namun Victor menghalangiku. Kali ini ia mengeluarkan api dari tangannya dan mengarahkannya ke tubuhku. Seketika bajuku mengeluarkan asap. Aku melakukan hal yang sama terhadapnya.
Kami berdua bertarung dengan kekuatan api masing-masing. Aku memfokuskan pikiranku untuk memperbesar nyala api pada tubuh Victor agar ia terbakar namun rupanya kekuatan Victor juga sangatlah besar. Aku merasakan kobaran api di tubuhku semakin membakar kulitku. Wajahku mengernyit menahan panas yang membakar tubuhku. Aku melihat wajah Victor juga mengernyit kesakitan akibat api yang aku tujukan padanya.
Aku merasa badanku semakin lemah dan bajuku sudah mulai hangus. Aku sepertinya kehabisan tenaga. Aku ambruk di lantai dan Victor tertawa merayakan kemenangannya.
Pandangan mataku mulai terasa kabur. Kesadaranku seolah semakin menipis.
"Scarlett!" Aku mendengar suara Roland memanggilku.
Samar-samar aku melihat Victor berjalan ke arah Roland dan menariknya hingga berdiri. Victor mencekik Roland.
"Kau akan melihat kekasihmu mati di tanganku!" Victor mengucapkannya sambil tertawa ke arahku.
Aku menggeleng mendengar perkataannya.
"Kau tidak pernah bisa menyelamatkan siapa pun dalam hidupmu. Dulu kau tidak bisa menyelamatkan orang tuamu, kini kau tidak bisa menyelamatkan kekasihmu. Kau memang mahkluk tidak berguna!" Victor tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.
Aku melihat Roland nyaris kehabisan nafas. Aku melihat wajahnya mengernyit kesakitan. Dia melirik ke arahku dan matanya masih memancarkan cinta. Roland ...
Hatiku seolah hancur melihatnya kesakitan. Tidak. Aku bukanlah makhluk tidak berguna seperti yang dikatakan Victor padaku. Tidak ada yang boleh mengatakan hal itu padaku! Aku bukan makhluk tidak berguna! Aku menjerit dalam hati. Kali ini aku tidak akan membiarkan Victor merenggut orang ku cintai!
Aku merasakan aliran kemarahan menguasai ku. Aku digerakkan oleh kobaran api amarah. Aku terbang ke arah Victor dengan kecepatan tinggi menariknya ke arahku. Serangan ku membuatnya kaget hingga ia melepaskan tangannya dari leher Roland. Roland jatuh terkulai ke lantai.
Kali ini aku menangkap tubuh Victor dengan satu tanganku sementara tanganku yang lain mencengkram kepalanya dan aku menahannya.
"Roland! Belatinya!" Aku berteriak ke arah Roland dan berharap ia mampu melempar belatinya ke arah Victor.
Roland meraih belati yang ada di pinggangnya dan melemparkannya tepat ke jantung Victor. Aku mendengar Victor mendesis ketika belati itu menusuk jantungnya. Aku segara mematahkan lehernya.
Tubuh Victor jatuh dengan suara gedebuk ke lantai. Tubuhnya berubah menjadi debu dan terbang seolah tersapu angin. Mungkin Victor segera menuju ke neraka dan bertemu Dewa Kegelapan.
Kali ini Sang Dewa kegelapan pasti telah mengetahui bahwa Victor sudah mati. Aku menepati janjiku. Itu artinya aku tidak perlu menjadi pasangan Sang Dewa Kegelapan.
Aku bernafas lega. Aku menoleh ke arah Roland yang sedang duduk bersandar di dinding dengan raut wajah kesakitan. Aku melihat ke sekeliling kamar, kali ini kamarku kembali sepi. Para vampir buas yang tadi menyerbu kamar telah tewas dan berubah menjadi debu yang langsung lenyap dibawa angin.
Sekarang hanya ada diriku dan Roland di dalam kamar. Aku berjalan ke arahnya dan meraihnya berdiri. Aku menuntunnya menuju ke tempat tidur dan menyuruhnya berbaring.
Aku menuju ke kamarku untuk membersihkan diriku dan menghilangkan aroma gosong akibat api yang disebabkan Victor.
Aku keluar dari kamar mandi dan menuju ke arah Roland. Aku melihat kondisinya dan menyuruhnya untuk beristirahat. Setelah memastikan Roland tertidur, aku segera meninggalkan kamar untuk mencari Leda.
Aku memanggilnya namun tidak ada jawaban. Rumah terasa begitu sepi dan hening. Aku mencari ke sekeliling rumah namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Leda.
Aku melihat secarik kertas di atas meja di ruang tamu. Aku segera meraih kertas itu.
Aku membawa teman-temanmu ke istanaku. Datanglah dan bersiaplah menjadi pengantinku jika kau ingin mereka selamat!
Tanganku bergetar membaca pesan itu. Ini pasti ulah Sang Dewa Kegelapan! Aku meremas kertas itu dan melemparkannya. Tubuhku gemetar oleh amarah.