
Aku melangkah menuju ke arah pintu depan rumahku untuk menemui kawanan werewolf yang masih melolong di halaman rumahku.
Roland dan Damon berjalan di sisiku. Aku membuka pintu depan dan disambut oleh pemandangan segerombolan werewolf yang mengamuk dan mengguncangkan pagar depan rumahku.
Pagar besiku bergoyang-goyang nyaris runtuh. Aku berdiri mematung melihat pemandangan itu. Aku merasakan Roland dan Damon menegang di sisiku.
"Tenanglah!" Teriakku ke arah mereka.
Mendengar suara teriakku, mereka seketika terdiam. Beberapa detik kemudian mereka berubah wujud menjadi manusia. Aku melihat pria yang waktu itu berbicara pada Leda.
Saat itu ada setidaknya sepuluh orang yang berdiri di depan pagar rumahku. Pria yang bertubuh paling besar memandang ke arahku.
"Aku tahu kalian mengkhawatirkan Leda." Aku mengatakannya dengan suara lantang.
"Kami merasakan bahwa Alpha kami sedang berada dalam bahaya." Si pria bertubuh besar menjawab dengan sama lantangnya.
Anggota kawanan lainnya berdiri diam dengan posisi siaga seolah mereka siap bertarung demi menyelamatkan Sang Alpha.
"Semua ini terjadi gara-gara ulah kalian!" Si Pria besar itu berteriak.
Aku menggertakkan rahangku mendengar tuduhannya. Kawanan werewolf itu menyalahkan diriku atas hal yang menimpa Alpha mereka.
Mungkin memang ini semua adalah salahku.
"Aku akan menyelamatkan Leda!" Aku berteriak ke arahnya.
"Kami akan menyelamatkan Alpha kami!" Mereka berteriak serempak.
Aku merinding mendengar suara teriakan mereka.
"Aku berjanji akan membawa Leda pulang dengan selamat." Aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh dan dengan suara lantang.
"Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Alpha kami, kami akan membunuh kalian!" Kali ini si pria besar mengancam ku dengan suara lantang.
"Kalian tahu bahwa aku tidak akan pernah membiarkan Leda terluka." Aku mengatakannya dengan pelan.
Kali ini aku berjalan mendekat ke arah kawanan werewolf. Aku membuka pagar rumahku karena ingin berbicara dengan lebih serius kepada si pria besar yang mungkin merupakan wakil alpha bagi kawanan itu.
Aku berdiri tepat di hadapan pria besar itu.
"Aku berjanji akan melindungi Leda." Aku mengatakannya sambil menatap lekat matanya.
"Aku akan ikut bersamamu." Ia mengucapkannya dengan penuh tekad.
Aku menggeleng padanya.
"Aku tidak ingin membawa kalian ke dalam bahaya," ujarku lirih.
"Aku rela mengorbankan nyawa demi Sang Alpha." Kali ini ia mengucapkannya dengan suara tegas dan lantang.
"Tidak, biarkan aku saja yang berangkat ke istana Sang Dewa Kegelapan. Aku berjanji akan membawa Leda pulang dengan selamat." Aku mengucapkannya dengan tegas.
Aku tidak ingin membawa anggota kawanan itu menuju istana Sang Dewa Kegelapan. Aku tidak mau mempertaruhkan nyawa mereka. Sudah cukup selama ini orang-orang terdekatku terluka karena aku. Kali ini aku tidak mau ada orang lain yang terluka karena aku.
"Jika kau tidak bisa membawanya pulang dengan selamat ... " Kalimat pria itu menggantung di udara dengan penuh ancaman.
"Kau boleh mengambil nyawaku," bisikku padanya.
Kami berdua saling menatap dengan lekat seolah kami telah menyepakati sebuah perjanjian yang telah terikat.
Ya, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkan Leda seperti dia juga akan mempertaruhkan nyawanya demi diriku.
Mendengar ucapanku, si pria bertubuh besar itu berbalik menghadap ke arah kawanan yang lain. Mereka mengangguk seolah menyepakati perjanjian kami.
Pria itu kembai menoleh ke arahku.
"Aku Aldrin" ujarnya seraya mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku menjabat tangannya dan kami mengangguk tanda kesepakatan.
"Jadi, kapan kau akan berangkat?" Tanya Aldrin padaku.
"Sebentar lagi," jawabku.
Ia mengangguk ke arahku.
"Tidak," ujarku seraya menggelengkan kepalaku.
"Kenapa Sag Dewa Kegelapan membawa Leda?" Kali ini nada suaranya menjadi lebih lembut dari sebelumnya.
"Karena dia menungguku," ujarku pelan.
"Apa yang dia inginkan?" Kali ini bertanya sambil mengernyitkan dahinya.
"Dia ingin aku tinggal bersamanya." Aku mengucapkannya dengan suara bergetar.
Ia terkesiap mendengar jawabanku. Kali ini wajahnya berubah menjadi prihatin.
Aku menghela nafas panjang.
"Kalau begitu berhati-hatilah. Jika butuh pertolongan, panggil saja kami." Ia mengatakannya seraya mengangguk ke arahku lalu ke arah kawanan werewolf.
Mereka semua mengangguk ke arah kami. Aku tersenyum ke arah mereka.
"Kalau begitu aku akan segera berangkat." Aku mengatakannya seraya menoleh ke arah Roland dan Damon.
Mereka berdua mengangguk ke arahku. Aku kembali menoleh ke arah Aldrin.
"Berhati-hatilah!" ujarnya.
Aku mengangguk.
Aku berbalik hendak menuju ke rumahku namun Aldrin memanggilku. Aku kembali menoleh ke arahnya.
Aldrin meraih sesuatu ke dalam saku celananya. Aku melihatnya mengeluarkan sebuah terompet kecil yang terbuat dari tanduk rusa. Ia menyerahkan terompet itu ke arahku.
"Ini, bawalah bersamamu. Tiup terompet ini jika kau membutuhkan bantuan kami, maka kami akan datang padamu!" Dia mengatakannya seraya menyerahkan terompet itu padaku.
Aku menatap ke arah terompet itu lalu ke arahnya. Aku terharu dengan apa yang dilakukannya. Aku tahu bahwa benda itu adalah benda yang sangat berharga bagi kawanan werewolf.
"Tidak, itu terlalu berharga," ujarku lirih.
"Ambillah, aku mempercayaimu seperti Leda mempercayaimu." Ia meyerahkannya padaku.
Aku menerima pemberiannya dengan mata berkaca-kaca.
"Terimakasih," ujarku dengan nada tercekat.
Ia mengangguk ke arahku lalu ke arah Roland dan Damon.
"Kami akan menjaga rumahmu selama kau pergi," tambahnya.
Aku mengangguk dan merasa terharu oleh tindakannya. Kali ini aku telah mendapatkan kepercayaan werewolf.
"Terimakasih, aku akan segera membawa Leda kembali." Aku berjanji pada mereka.
Aku menyuruh Aldrin membawa anggota werewolf yang lain untuk masuk ke dalam rumahku. Namun ia menolak. Ia mengaku lebih senang menjaga rumah dari halaman. Aku menyetujui permintaannya.
Aku berpamitan padanya dan berbalik seraya berjalan menuju ke dalam rumah. Roland dan Damon berjalan di belakangku.
Sesampainya di ruang tamu, aku duduk di sofa dan menyuruh mereka berdua untuk duduk di dekatku.
"Dengar, yang akan kita hadapi adalah Sang Dewa Kegelapan." Aku mengatakannya dengan wajah tegang.
Aku melihat Roland dan Damon memasang wajah tegas.
"Jika seandainya terjadi sesuatu padaku, berjanjilah untuk membawa Leda dan Erick pulang dengan selamat." Kali ini suaraku tercekat.
Aku menyadari bahwa lawanku kali ini bukanlah lawan yang mudah. Hal buruk bisa saja terjadi. Namun aku sudah berjanji akan menyelamatkan Leda dan Erick meski aku harus mempertaruhkan nyawaku sendiri.
Aku menatap mata Roland.
"Aku akan membawamu pulang bersamaku," ujar Roland penuh percaya diri.
Aku melihat sorot matanya penuh cinta. Aku menatapnya dan berharap Roland bisa mengerti bahwa aku benar-benar mencintainya. Tapi bagaimana jika nanti situasi berjalan buruk? Aku mengedipkan mataku dan menepiskan pikiran buruk itu.
Kami bertiga terdiam dalam keheningan selama beberapa saat seolah menimbang situasi yang akan kami hadapi.
"Kita pasti pulang dengan selamat," ujar Damon memecahkan keheningan di antara kami bertiga.