SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 28



Leda berdiri tegak di teras rumahku. Ia berdiri seorang ratu. Erick berdiri di belakangnya seperti seorang ajudan. Semua serigala masih menunduk hormat di tempatnya.


Aku memperhatikan serigala-serigala itu berubah wujud menjadi manusia. Roland terlihat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Damon melihat pemandangan itu dengan berdecak kagum.


"Aku memerintahkan kalian semua untuk kembali ke wilayah masing-masing." Leda mengucapkannya dengan suara lantang.


"Kami merasakan Engkau terluka, Wahai Alpha!" Seorang werewolf pria berdiri dari tempatnya dengan sebelah tangannya diletakkan di dada.


"Aku tidak apa-apa." Kali ini suara Leda berubah menjadi lebih tenang.


Semua serigala itu masih berada di tempatnya dengan tatapan khawatir. Kawanan itu terdiri dari lima pria dan lima wanita.


"Kembalilah ke tempat kalian!" Kali ini Leda memerintahkan dengan nada tegas.


"Kami siap melawan siapa pun yang menyerang Anda, Wahai Alpha!" Werewolf pria itu mengatakannya dengan nada bersungguh-sungguh.


"Baiklah," ujar Leda, "Kali ini aku memerintahkan kalian untuk kembali ke tempat kalian! Dan jangan bergerak lagi tanpa menunggu perintahku!" Leda mengucapkannya dengan lantang.


Mendengar perintah dari Sang Alpha, kawanan werewolf itu segera beranjak pergi meninggalkan rumahku. Aku masih berdiri di halaman melihat perginya kawanan werewolf itu. Kali ini mereka pergi dengan wujud manusia.


"Wow! Ternyata dia adalah Sang Alpha." Damon berdecak kagum.


Aku berjalan menghampiri Leda dan berdiri tepat di hadapannya.


"Selama bertahun-tahun kau tinggal bersamaku, kau tidak pernah mengatakan bahwa kau seorang Alpha." Aku bertanya penasaran.


"Sudahlah," ujar Leda. "Tidak terlalu penting apakah aku Alpha atau bukan." Dia mengajak kami masuk.


"Ku dengar, kawanan werewolf akan merasakan ketika Alpa nya sedang terluka." Roland mengucapkan itu sambil berjalan di sampingku.


"Kau banyak tahu tentang makhluk immortal." Aku menoleh ke arahnya.


"Ya, aku senang mempelajari legenda yang beredar di masyarakat." Dia menambahkan.


Tak heran jika ia langsung bisa mengenali identitas asliku saat pertama kali kami bertemu.


Kami semua berkumpul di ruang tamu.


"Kita harus segera bergerak melawan Victor. Ku dengar vampir baru di kota sudah mulai banyak berkeliaran dan menjatuhkan beberapa korban."


"Kedengarannya buruk," ujar Erick.


"Sepertinya kita harus melawan Victor dan rombongan vampir ingusan itu," ujar Damon sambil menggelengkan kepalanya.


"Kita memiliki pemburu vampir di sini." Aku mengucapkannya dengan nada bangga sambil menoleh ke arah Roland.


Damon mendengus mendengar ucapanku. Dia masih bertingkah seperti remaja yang cemburu.


"Aku bisa meminta kawanan werewolf untuk berada di pihak kita." Leda mengatakannya dengan penuh keyakinan.


Kami menatapnya. Ia tampak kikuk ketika semua mata tertuju ke arahnya. Ini adalah Leda yang ku kenal.


"Apakah mereka akan setuju?" Tanyaku.


Kami mengangguk mengerti.


Tiba-tiba ada asap yang muncul di ruang tamuku. Kami semua menegang.


Di sana, muncullah sosok Sang Dewa Kegelapan. Tidak seperti beberapa hari yang lalu ketika ia mengenakan setelan jas mahal, kali ini ia mengenakan setelan jubahnya. Penampilannya semakin mengintimidasi ditambah lagi dengan kobaran api yang menyala di kedua matanya.


Kami semua terdiam menunggu ia berbicara.


Ia berjalan ke arah kami. Aku merasakan ketegangan yang nyata di ruangan ini.


"Aku belum mendapatkan hasil yang memuaskan," ujarnya dingin.


Kami tidak menjawab.


"Aku tidak memiliki kesabaran yang banyak." Ia melanjutkan sambil melangkah mendekat ke arahku.


Aku menelan ludah ketika tangannya yang dingin meraih tanganku. Ia menarik ku berdiri untuk menghadapnya. Aku merasakan Roland menegang di sampingku. Aku merinding ketika ia mengecup punggung tanganku.


"Kau sibuk bermain-main dengan si manusia, Sayangku." Dia mengucapkannya dengan senyum miring dan tatapannya tertuju pada Roland.


"Dia berada di pihak kami." Aku mengucapkannya dengan nada tegas.


"Ah, kau sepertinya sangat menyukainya." Ia tertawa ke arahku.


"Jika dia sedikit saja berpikir untuk mengkhianati ku, maka aku akan melenyapkannya." Sang Dewa Kegelapan mengucapkan itu dengan nada mengancam.


"Aku bertaruh dengan nyawaku bahwa dia tidak akan mengkhianati mu!" Aku meyakinkannya.


"Scarlett, jangan jatuh cinta terlalu dalam pada manusia, Sayang!" Sang Dewa Kegelapan masih memegang tanganku.


"Aku bersumpah bahwa aku berada di pihak kalian!" Kali ini Roland bangkit dan berjalan ke arahku. Ia berdiri di sampingku.


"Wow, sepertinya ada kisah cinta beda dunia di sini!" Sang Dewa Kegelapan tertawa sambil bertepuk tangan.


Tiba-tiba ia menghentikan tawanya dan kali ini ia menatap ke arahku dengan tatapan yang membuatku merinding.


"Aku memberimu waktu 24 jam untuk membawa kepala Victor padaku. Jika tidak, maka kau yang harus ikut denganku dan menjadi Ratu Kegelapan di istanaku." Ia mengancam ku.


Aku menegang mendengar ancamannya. Sang Raja Kegelapan tiba-tiba menghilang dari ruang tamuku.


Aku masih menatap tempat ia menghilang. Tubuhku menegang. Apa yang dia maksud dengan ingin membawaku ke istananya? Aku tidak akan mengikutinya. Aku tidak mau menjadi pengantinnya!


Aku merasakan tangan Roland merangkul bahuku. Aku menoleh ke arahnya. Kami semua masih tegang mendengar ancamannya.


"Kita harus segera mengalahkan Victor," ujarku pelan.


"Kami akan bersamamu." Damon berjalan ke arahku dan menepuk pundakku.


Aku menatap ke arah Leda dan Erick yang mengangguk ke arahku.


Aku memiliki mereka yang bersedia melindungi ku. Aku tidak perlu takut dengan ancaman Sang Dewa Kegelapan.