SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 27



Aku berlari dan berlutut di samping Leda. Aku meraih kepalanya dan meletakkannya di pangkuanku. Aku menangis dan menggoyang-goyangkan tubuhnya berharap ia akan segera membuka mata.


"Dia masih bernafas." Roland mengatakan itu untuk meredakan kekhawatiranku.


Aku melihat goresan luka di leher Leda. Darah masih merembes dari luka itu.


"Siapa yang melakukan ini?" Aku menatap Roland sambil menghapus air mata yang membuat pandanganku menjadi kabur.


Roland melihat ke sekeliling seolah mencari jawaban. Aku mengikuti arah pandangannya. Di sana, ada beberapa daun tanaman di sudut taman yang mengeluarkan asap seolah habis terbakar.


"Victor yang telah melakukan ini." Aku mengucapkannya dengan penuh dendam.


Roland membawa Leda masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan Leda di kamarnya. Aku membersihkan luka di leher Leda dan merawat lukanya.


Biasanya selama ini, Leda yang selalu merawat ku. Kali ini aku yang merawatnya.


Roland meninggalkan kami berdua. Aku duduk di samping Leda di tempat tidur. Aku menunggunya sadar. Nanti, aku akan membuat perhitungan dengan Victor.


Aku melihat Leda membuka mata dan mengernyit kesakitan.


"Leda, kau sudah sadar?" Aku bertanya sambil mencondongkan tubuhku ke arahnya.


Ia mengangguk lemah.


"Apakah Victor yang melakukan ini pada mu?" Aku bertanya hanya sekedar untuk memastikan.


"Ya, dia tiba-tiba muncul di halaman dan menyerangku." Ia menjawab dan matanya menerawang seolah ia sedang mengingat kejadian itu.


"Maafkan aku," ujarku dengan nada bersalah.


"Ini bukan salahmu," ujarnya sambil menepuk lenganku.


"Kenapa kau pulang begitu cepat? Bukankah kau bilang kau akan tinggal beberapa hari di rumah Damon?" Dia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur dan duduk.


"Ya, tadi ada beberapa pemburu vampir yang datang ke rumah Damon untuk menyerang kami," ujarku.


"Apakah kau terluka?" Leda menatapku dengan khawatir.


Begitulah dia, selalu lebih memperhatikan diriku dibandingkan dirinya sendiri.


"Bagaimana mungkin kau masih mengkhawatirkan aku sedangkan kau sendiri terluka." Aku tertawa padanya.


"Aku hanya mendapat sedikit lecet." Dia menggelengkan kepalanya.


"Kau tahu, tadi aku nyaris pingsan menemukan mu terbaring di tanah." Aku mengatakan itu sambil bergidik.


"Aku baik-baik saja." Dia menenangkan diriku.


"Istirahatlah!" Aku mengucapkannya sambil bangkit berdiri untuk meninggalkan kamarnya.


Ia menarik tanganku. Aku menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" Tanyaku.


"Kau bersama Roland?" Tanyanya penasaran.


Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.


"Beri dia makan!" Dia mengingatkan hal itu.


Aku tertawa mendengar nya mengatakan hal itu. Aku hampir lupa bahwa Roland manusia.


"Aku akan menyuruhnya makan." Aku mengucapkannya sambil tertawa.


Aku melenggang meninggalkan ruangan itu dan menuju ke ruang tamu untuk mencari Roland.


Aku melihatnya duduk di sofa. Aku segera menuju ke arahnya dan duduk di sampingnya. Ia meraih ku dan meletakkan aku di pangkuannya.


"Kau harus makan," ujarku.


"Aku belum terlalu lapar," ujarnya.


"Jangan berbohong! Aku bisa mendengar suara perutmu yang keroncongan dari jarak sepuluh meter." Aku mengatakannya sambil tertawa.


"Ya, aku lupa bahwa wanitaku adalah vampir yang memiliki pendengaran super," ujarnya sambil tersenyum.


Ah, aku merasa melayang mendengar Roland menyebutku dengan sebutan "wanitaku".


"Leda selalu memenuhi kulkas dengan makanan manusia." Aku menjelaskan padanya.


Roland mengangguk mendengarkan penjelasanku.


"Kaum werewolf seperti dia lebih menyerupai manusia." Aku melanjutkan sambil menuangkan segelas air untuknya.


Perhatian Roland terpusat pada kantong-kantong darah yang memenuhi bagian bawah kulkas.


"Ehm, itu adalah persediaan ku." Aku mengucapkannya dengan nada malu-malu.


Roland mengangguk dan menutup pintu kulkas setelah dia mengambil sekotak salad dan meletakkannya di atas meja.


Aku melihatnya menghabiskan salad itu. Aku kagum dengan semua yang ada ada diri Roland. Sepertinya Roland menyadari bahwa aku menatapnya. Dia meletakkan sendoknya dan berhenti mengunyah. Dia menatapku.


Aku tersenyum padanya.


"Kau mau coba?" Ia mengarahkan sesendok salad ke arahku hendak menyuapi ku.


Aku menggeleng.


"Apakah kau tidak bisa memakan makanan manusia?" Tanyanya penasaran.


"Aku bisa menelan semuanya namun hal itu terasa aneh ketika melewati tenggorokanku." Aku mengatakannya sambil tertawa.


Roland tertawa dan melanjutkan makan. Aku harus memberitahu Erick dan Damon bahwa Victor datang kemari. Aku menelepon Erick dan Damon.


Tiga puluh menit kemudian, aku mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa memasuki ruang tamuku. Erick sudah datang dan dia terlihat khawatir.


Aku menjelaskan padanya tentang apa yang sudah terjadi, ia segera berlari ke kamar Leda untuk menjenguknya.


Beberapa menit kemudian, Damon datang juga.


"Bagaimana kondisi werewolf kesayanganmu?" Tanyanya padaku.


"Berhentilah menyebutnya werewolf, dia punya nama!" Ujarku pada Damon.


Damon mengangkat bahu mendengar nada kejengkelan dalam suaraku.


"Hai pemburu! Senang bisa berjumpa kembali denganmu." Kali ini Damon menyapa Roland.


"Aku mantan pemburu." Ujar Roland dengan nada tegas.


Aku menatap ke arah Roland. Sepertinya ada aura ketegangan yang terjadi antara Roland dan Damon.


"Victor sengaja datang ke rumah ku untuk meneror ku," ujarku berusaha mencairkan ketegangan yang terjadi di antara Roland dan Damon.


"Sepertinya begitu," ujar Damon dengan nada datar.


Kita harus melawan Victor!" Aku mengucapkannya dengan nada tegas.


Roland dan Damon menatap serius ke arahku.


"Aku berharap diriku tidak berubah menjadi arang ketika melawannya." Damon mengucapkannya dengan nada skeptis.


"Kau bisa mengasah kemampuanmu dalam mengendalikan api." Roland mengatakannya dengan lembut padaku.


Aku mengangguk ke arahnya.


Kami bertiga kaget karena suara-suara ramai yang berasal dari luar pagar rumahku. Aku menoleh ke arah Roland dan Daon secara bergantian. Mereka berdua saling bertukar pandangan dengan sama penasarannya.


Aku melangkah ke arah halaman depan. Roland dan Damon berjalan mengikutiku di belakang.


Du sana, di balik pagarku yang tinggi terdapat segerombolan serigala yang seolah mengamuk dan siap menerkam kami. Aku berhenti dan berdiri kaku. Aku merasakan Roland dan Damon menegang di belakangku.


Para kawanan serigala itu mengaum dengan suara yang begitu kencang. Lolongan mereka membuatku merinding. Suara lolongan itu seolah menandakan kesedihan.


Aku masih berdiri diam tak bergerak ketika kawanan serigala itu mendobrak pagarku dan menghambur ke halaman hendak menyerang kami bertiga dengan lolongannya yang mengerikan.


Aku menerjang melawan serangan mereka. Dari sudut mataku terlihat Damn dan Roland bertarung melawan beberapa serigala yang menyerang keduanya. Sepertinya ada sepuluh serigala yang menyerang kami.


Kami bertiga melawan sepuluh serigala yang mengamuk. Aku berhasil melemparkan satu serigala ke tanah hingga ia melolong kesakitan. Aku melihat Roland mengarahkan pistolnya ke arah serigala yang berlari hendak menerkamnya.


"HENTIKAN!" Suara Leda menggema dari arah teras rumahku.


Seketika itu semua serigala menghentikan serangannya dan mereka berbaris rapi serta menunduk hormat ke arah Leda. Aku, Roland, dan Damon tercengang melihat pemandangan itu.