
Kami menegang menunggu apa yang akan terjadi setelah aku meniup terompet itu.
Satu detik ... dua ... tiga ... Puff ...
Muncul gumpalan asap gelap yang menyelimuti kami. Aku merasakan sensasi melayang seperti ketika aku berteleportasi menjadi kabut. Mungkin yang lain juga merasakan sensasi seperti yang aku rasakan.
Entah berapa lama kami berlima diselimuti kabut. Tiba-tiba kami merasakan kabut asap itu lenyap dan kami berada di perpustakaan pribadiku tepat di dalam lingkaran besar yang tergambar di lantai. Aroma dupa masih menyelimuti ruangan itu. Lilin yang dinyalakan Roland telah redup dan meleleh ke lantai.
Aku merasakan sensasi mual. Aku menoleh ke arah yang lain. Wajah mereka juga menunjukkan ekspresi mengernyit. Tapi yang membuat jantungku seolah melompat adalah ketika tiba-tiba Roland ambruk ke lantai.
"Roland!" Jeritku.
Aku berlutut dan meraihnya ke dalam pelukanku. Aku menepuk pipinya seraya memanggil namanya.
"Sepertinya dia pingsan," ujar Leda.
Aku menatap dengan penuh tanya ke arah Leda.
"Mungkin bagi kaum manusia, teleportasi membuat tubuh mereka kehilangan kekuatan. Apalagi setelah dia sempat kehilangan darah." Leda menjelaskan padaku.
Aku menatap luka di lengan Roland tempat aku meminum darahnya di istana kegelapan. Aku merasa bersalah padanya. Apakah aku terlaku banyak meminum darahnya, aku mulai menyalahkan diriku sendiri.
"Roland, bangunlah," ujarku seraya menepuk lembut pipinya.
"Biarkan dia beristirahat," ujar Leda.
Aku menuruti perkataannya. Aku menggendong Roland dan membawanya ke kamarku. Erick, Leda, serta Damon juga meninggalkan perpustakaanku dan sepertinya mereka juga butuh istirahat.
Sesampainya di kamarku, aku meletakkan Roland di kasur. Aku kembali menyentuh luka di lengannya. Wajah Roland begitu pucat. Bagaimana jika aku terlalu banyak meminum darinya?
"Roland, maafkan aku," bisikku seraya menyentuh pipinya.
Aku mengambil perban dan membalut luka di lengannya. Mungkin benar apa yang dikatakan Leda bahwa Roland butuh istirahat.
Aku menyelimutinya dan membiarkan dia beristirahat. Aku kembali menatap wajah Roland. Pikiranku kembali teringat pada ucapan Sang Dewa Kegelapan bahwa aku menentang peraturan karena berhubungan dengan manusia. Lalu apa artinya ini? Apakah ini akan berakibat fatal untuk Roland?
Aku kembali menatap wajah Roland. Aku tidak ingin dia terluka. Bahkan aku akan rela mengorbankan nyawaku demi dirinya.
Aku naik ke tempat tidurku dan berbaring di sampingnya sambil memeluknya. Roland begitu istimewa. Darahnya tidak seperti darah manusia pada umumnya. Kekuatan pikirannya juga melebihi manusia rata-rata.
Aku membiarkan tubuhku rileks. Belakangan ini hidupku terasa begitu melelahkan. Aku ingin beristirahat sejenak. Walaupun aku tidak membutuhkan tidur seperti manusia, namun berbaring seperti ini seolah membuat otot-otot ku rileks.
Tanganku aku letakkan di atas dada Roland, Aku begitu menyukai irama jantungnya. Akankah suatu hari nanti jantungku akan hidup seperti miliknya? Ah, keinginan itu mengganggu pikiranku.
Di dalam lubuk hatiku, aku ingin kembali menjadi manusia. Aku ingin Roland merasakan debaran jantungku ketika aku berada begitu dekat dengannya. Aku ingin menua bersamanya.
Aku menunggu Roland bangun. Mungkin saat ini sudah menjelang pagi. Aku mendengar suara kicauan burung.
Aku bangkit dan duduk di sampingnya. Aku mengusap lembut wajahnya. Roland membuka matanya perlahan.
"Kau sudah bangun," ujarku seraya tersenyum.
Roland mengernyitkan dahinya. Mungkin dia masih pusing akibat kejadian semalam.
"Roland, maafkan aku," ujarku lirih.
"Tidak perlu minta maaf," ujarnya seraya menyuruhku untuk mendekat.
Aku mendekatkan wajahku ke arahnya. Kami bertatapan lama sebelum akhirnya bibir kami bersatu. Ciuman itu seolah semakin mengikat jiwa kami.
"Roland ... ," bisikku.
Ia menatap mataku.
"Ada apa?"
"Sepertinya perutmu mulai memberontak," ujarku seraya tertawa.
Roland menyadari maksudku. Ia tertawa ketika menyadari bahwa ia lapar.
"Tidak, kau harus makan!" Aku memerintahkan dengan nada tegas.
"Baiklah, aku akan menuruti perintahmu." Dia mengatakannya seraya tertawa.
Roland berusaha untuk bangkit. Ia melirik sekilas ke arah perban di tangannya.
"Roland, apakah semalam aku menyakitimu?" tanyaku seraya menunjuk ke arah perban itu.
"Sama sekali tidak," ujarnya seraya bangkit dari tempat tidur.
"Kau di sini saja, aku akan mengambilkan makanan untukmu," ujarku seraya menyuruhnya duduk.
"Baiklah, Nyonya," ujarnya dengan tawa yang terdengar begitu renyah.
Aku mencium lembut pipinya dan berjalan meninggalkan kamar untuk mengambilkan makanan untuknya. Aku menghentikan langkah di pintu kamarku dan berbalik untuk menatapnya. Roland tersenyum ke arahku. Jiwaku seolah melayang menyadari betapa dia mencintaiku.
Sesampainya di dapur, aku melihat Leda sedang menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Ia tersenyum saat melihatku.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku.
"Aku merasa begitu bugar," ujarnya seraya tertawa. Dia tidak ingin membuatku khawatir.
"Bagaimana keadaan Roland?" tanyanya.
"Dia sudah bangun, aku akan membawakan makanan untuknya," ujarku.
"Aku akan menyiapkan sarapan untuknya," ujarnya.
Aku mengangguk ke arahnya.
"Dimana Erick dan Damon?" tanyaku penasaran.
"Mereka pulang ke rumah masing-masing. Aku tidak melarangnya. Situasi saat ini sudah membaik." Dia mengucapkannya seraya tersenyum.
"Kenapa kau tidak mengambil sekantong darah?" Leda bertanya seraya menunjuk ke arah kulkas tempatku menyimpan banyak kantong darah.
Aku menggeleng ke arahnya. Leda memiringkan kepalanya ke samping tanda dia penasaran.
"Leda, ada yang ingin aku ceritakan padamu," ujarku pelan.
Leda menatap ke arahku dengan raut wajah penasaran.
"Semalam, ketika aku meminum darah Roland, ada sesuatu hal yang terjadi yang tidak bisa ku mengerti," ujarku padanya.
Leda mengangkat kedua alisnya.
Aku berpikir bagaimana caranya menjelaskan sensasi itu padanya.
"Aku merasakan sesuatu yang aneh. Bukan hanya energi Roland yang mengalir ke dalam diriku melainkan semua emosi yang dia rasakan seolah menghantam pikiranku seperti ombak," jelasku.
Aku melihat Leda mengerutkan kedua alisnya
"Sampai saat ini aku masih merasakan seolah energiku begitu kuat, aku belum merasa haus sama sekali. Aku juga melihat dinding yang seolah menghalangi pikirannya, mungkin itulah sebabnya aku tidak bisa memanipulasi pikirannya waktu itu." Aku menambahkan.
Leda menyimak penjelasanku dengan raut wajah yang begitu serius.
"Scarlett, ... " Dia memanggilku dengan nada yang serius.
Aku menunggunya melanjutkan kalimatnya.
"Itu artinya dia adalah Yang Terpilih?" Leda mengucapkannya dengan wajah serius.
Keheningan terjadi di antara kami. Roland adalah Yang Terpilih? Itu artinya darahnya mengandung kekuatan yang mampu menghilangkan kutukan yang ada pada diriku. Darahnya adalah pemurni untuk makhluk seperti aku. Darah dari Yang Terpilih akan mampu merubah diriku kembali menjadi manusia.
Tapi, untuk bisa kembali menjadi manusia, seorang vampir seperti diriku harus mengorbankan jiwa dari orang Yang Terpilih.
Aku merasakan ketegangan di seluruh tubuhku. Itu artinya, jika aku ingin kembali menjadi manusia, aku harus mengorbankan jiwa Roland. Aku tidak mungkin melakukannya!