
Malam itu kami kembali berkumpul di ruang tamuku. Aku, Roland, Damon, Leda dan Erick membicarakan rencana untuk menangkap Victor.
"Waktu kita hanya 24 jam." Aku mengatakannya dengan nada skeptis.
"Kita pasti berhasil." Roland mengatakannya sambil merangkul bahuku.
"Kita bukan hanya harus melawan Victor, namun kita juga harus melawan beberapa vampir yang dibentuk Victor." Damon mengingatkan kami tentang para tentara yang dibentuk oleh Victor.
"Aku aka meminta bantuan kaum werewolf jika perlu," ujar Leda dengan meyakinkan.
Aku menoleh ke arahnya.
"Apakah itu tidak akan membahayakan mereka?" Aku menanyakannya dengan perasaan khawatir.
"Mereka lebih kuat dari dugaan kalian." Kali ini Leda mengucapkannya dengan serius.
Kami mengangguk mendengar perkataannya.
Kami memutuskan untuk beristirahat dan kembali ke kamar masing-masing. Aku melihat Erick pergi bersama Leda. Akhir-akhir ini mereka terlihat lebih akrab. Aku tersenyum melihat kedekatan mereka berdua.
Damon berjalan ke arah pintu dan hendak pulang ke rumahnya sendiri.
"Tinggallah di sini!" Aku memanggilnya dan menyuruhnya tinggal.
Damon menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ku.
"Untuk melihat kemesraan kalian berdua?" Ujarnya sinis.
Aku mengabaikan perkataannya. Dia masih saja menampakkan wajah cemburu yang berlebihan. Aku menghela nafas panjang.
"Lebih baik aku mencari udara segar di luar," ujarnya seraya berjalan meninggalkan rumahku.
Aku membiarkannya pergi.
Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Kali ini Roland mengikutiku ke kamarku tanpa aku harus memintanya. Aku memasuki kamarku dan melangkah ke balkon. Aku suka sekali menatap langit dari balkon kamarku.
Sinar bulan menyinari malam dengan cahaya keemasannya. Aku merasakan kehadiran Roland di belakangku. Ia melingkarkan lengannya di tubuhku dan memelukku dari belakang.
"Aku ingin mengetahui lebih banyak hal tentang mu," ujarnya lirih di telingaku.
"Terkadang lebih baik jika kau tidak tahu mengenai banyak hal," balasku pelan.
Roland terdiam.
"Aku memiliki masa lalu yang kelam," ujarku pelan.
"Aku mencintaimu dengan seutuhnya," ujarnya seraya membalik tubuhku untuk menghadapnya.
Aku menatap wajahnya. Sinar rembulan menyinari kami berdua.
"Apakah kau benar-benar ingin tahu tentang masa laluku?" tanyaku.
Ia menelusuri rahangku dengan jemari tangannya. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutku.
"Aku ingin mengetahui semuanya tentang mu," ujarnya seraya menyelipkan rambutku di belakang telingaku.
Aku membalik badanku dan kali ini aku berdiri membelakanginya. Roland masih berdiri di belakangku. Aku menatap ke arah rembulan yang sedang bersinar terang.
"Dahulu aku adalah seorang putri," ujarku lirih.
Aku memberi jeda pada kalimatku.
"Ayahku adalah seorang Raja yang begitu dicintai oleh rakyatnya. Semua orang hidup makmur. Namun segalanya berubah ketika Victor datang dan membunuh ayahku."
Aku merasakan Roland menegang di belakangku.
"Aku tidak bisa menyelamatkan orang tuaku." Aku mengucapkannya sambil menengadah menatap wajah Roland.
Aku merasakan air mataku menetes. Roland menyapukan jemarinya untuk mengusap air mataku.
"Aku tidak bisa membalaskan dendam orang tuaku pada Victor." Kali ini tubuhku gemetar karena emosi yang ku pendam selama ini seolah keluar dan muncul ke permukaan.
"Aku bahkan tidak layak untuk hidup di dunia ini." Kali ini suaraku tercekat oleh air mata yang seolah menyumbat tenggorokanku.
Roland melepaskan pelukannya dan meraih daguku agar aku menatap wajahnya.
"Di mana pun kau berada, kau adalah Sang Dewi," ujarnya seraya mengecup lembut bibirku.
"Aku tidak pernah menginginkan kehidupan sebagai makhluk immortal seperti ini," ujarku lirih, "dulu aku diubah oleh seorang penyihir tanpa persetujuanku." Aku tercekat mengingat kejadian ketika aku pertama kali sadar bahwa aku berubah menjadi immortal.
Roland kembali mencium ku. Kami berciuman lama. Kami membiarkan sinar rembulan menjadi saksi cinta kami berdua. Sesekali aku mendengar kepakan sayap kelelawar yang terbang mendekati balkon namun segera terbang menjauh seolah tidak ingin mengganggu momen ini.
"Roland, aku mencintaimu," ujarku pelan.
Roland mengangguk sambil menatapku. Apakah Roland mampu mencintaiku dengan seutuhnya seperti cintaku padanya? Apakah ia mau menerima diriku yang tak lain adalah makhluk terkutuk? Aku menepiskan pikiran buruk ku.
"Kau tahu, aku tidak pernah jatuh cinta selama eksistensiku. Baru kali ini aku merasakan cinta." Aku mengucapkannya dengan bersungguh-sungguh.
Roland menatapku lekat. Ia kembali meraihku ke dalam pelukannya. Aku membiarkan angin membelai kami berdua.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali aku menemukanmu di hutan malam itu, Scarlett." Dia membisikkan kalimat itu di telingaku.
Ingatanku kembali melayang pada kejadian ketika Roland menyelamatkan ku malam itu di hutan. Aku menengadah menatap matanya.
"Roland, ... " bisikku, "seandainya bisa, aku ingin kembali menjadi manusia." ujarku lirih.
Kali ini tatapan Roland begitu lekat seolah menembus ke dalam jiwaku. Ia tidak menjawab perkataanku. Ia kembali menarik ku ke dalam pelukannya.
"Bagaimana kau bisa menjadi anggota klan pemburu vampir?" Aku bertanya penasaran.
Ia masih tidak melepaskan pelukannya di tubuhku.
"Dulu ayahku adalah pemimpin klan pemburu vampir," ujarnya lembut.
Aku menegang mendengar ucapannya. Roland sepertinya merasakan ketegangan ku.
"Dia dibunuh dua tahun yang lalu atas dasar pengkhianatan." Roland mengucapkannya dengan nada suara bergetar.
Aku melepaskan pelukanku dan menengadah menatap wajahnya dengan prihatin.
"Mungkin aku juga akan bernasib sama seperi ayahku." Dia mengucapkannya dengan nada pasrah.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai mu!" Aku mengucapkannya dengan tegas.
Aku kembali memandangi wajahnya. Namun kali ini tanganku terkepal di samping tubuhku. Ya, aku tidak akan membiarkan siapa pun mencelakai Roland, bisikku dalam hati. Aku bersumpah akan melindunginya dengan nyawaku.
"Ya, aku tahu," ujarnya seraya tersenyum dan mengusap lembut pipiku.
"Apa yang terjadi pada ayahmu?" Aku bertanya dengan penasaran.
"Ayahku tidak mau membunuh vampir yang tidak menyerang manusia. Baginya, vampir berhak untuk hidup sebagaimana manusia." Ia berhenti sejenak dan memandangku. "Karena itulah, anggota klan menghukumnya dan menuduhnya pengkhianat."
Aku menegang mendengar perkataannya.
"Setelah itu, ada seorang teman ayahku yang merekrut ku untuk bergabung menjadi anggota klan." Dia mengatakannya sambil menyelipkan rambutku yang terbawa angin di belakang telingaku.
"Mungkin saat ini dunia akan tertawa ketika mendengar bahwa sang pemburu vampir telah jatuh cinta pada sang vampir," ujarnya seraya mendekatkan wajahnya kepadaku dan mencium bibirku.
Kami berdua berciuman begitu lama dan dalam. Aku merasakan nafasku dan nafas Roland memburu. Aku merasakan detak jantung Roland seperti genderang yang ditabuh. Tiba-tiba Roland melepaskan bibirnya dari bibirku.
"Scarlett, kau bukanlah makhluk terkutuk. Kau berhak untuk hidup di dunia ini." Dia mengucapkannya dengan nada penuh ketulusan.
Aku merasakan mataku panas oleh air mata. Baru kali ini seseorang tidak menyebutku dengan sebutan makhluk terkutuk. Baru kali ini ada yang menghargai eksistensiku du dunia ini. Saat ini hatiku benar-benar membuncah oleh perasaan cintaku padanya. Aku sadar bahwa cinta adalah hal yang paling berharga di dunia. Aku bahkan rela mempertaruhkan nyawaku demi cinta.
Kami berdua terkejut ketika mendengar pintu kamarku membuka dengan suara keras. Aku dan Roland menoleh ke arah suara itu.
"Rupanya aku datang di waktu yang salah." Victor mengucapkan itu seraya tertawa.
Aku dan Roland menegang. Bagaimana Victor bisa ada di sini?