SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 36



Aku melihat Roland berlari ke arahku. Tidak, aku tidak ingin Roland terkena api dari tubuhku. Aku samar-samar mendengar suara jeritan Leda, Erick serta Damon yang memanggil namaku. Namun suara mereka terdengar samar di telingaku.


Mungkin tubuhku akan hangus terbakar dan berubah menjadi debu. Mungkin saat inilah hidupku akan berakhir. Setidaknya aku sudah menyampaikan pada Roland bahwa aku mencintainya, jadi aku bisa meninggalkan dunia ini dengan perasaan tenang.


Tiba-tiba aku merasa api di tubuhku padam. Tubuhku ambruk ke lantai dan aku terkulai lemas. Aku merasa seolah energiku habis tersedot keluar.


Aku merasakan Roland memeluk tubuhku seraya memanggil namaku.


"Scarlett, bertahanlah," bisiknya di telingaku.


Aku melihatnya seolah hendak menangis. Apakah Roland menangisi diriku? Tidak, jangan menangis karena aku, jeritku dalam hati. Bahkan untuk berbicara saja rasanya seolah aku tak mampu.


Aku merasakan kehadiran Damon di sampingku.


"Scarlett, bertahanlah," ujarnya dengan suara serak.


Mungkin ia juga sedang merasakan kesedihan seperti yang dirasakan oleh Roland. Kenapa aku selalu saja membuat orang-orang terdekatku merasakan kesedihan yang mendalam? Aku merasakan air mataku menetes di sudut mataku.


"Jangan menangis, aku tahu kau pasti baik-baik saja," ujar Roland seraya menyentuh pipiku.


Roland mendekapku ke dadanya. Ya, aku mendengar suara detak jantungnya yang begitu aku sukai. Aku menyandarkan pipiku dengan rileks di dadanya. Hal itu membuatku merasa aman. Jika memang ini benar-benar akan menjadi akhir hayatku, setidaknya aku mati dalam pelukan orang yang paling aku cintai.


"Scarlett, kita berjanji akan pulang bersama-sama," bisik Roland dengan nada tercekat.


Ya, aku ingat janjiku. Aku akan pulang bersama Roland dan bersama teman-temanku.


"Jangan tinggalkan aku," kali ini suara Roland bercampur dengan isak tangis di telingaku.


Aku mencoba membuka mataku dan menatap ke arahnya seraya berusaha untuk menggeleng lemah padanya agar dia tidak menangis.


"Jangan tinggalkan aku," bisiknya di sela isak tangisnya.


Aku merasakan air mataku mengaliri pipiku.


"Roland, aku mencintaimu," bisikku lemah.


"Aku tahu," bisik Roland.


Aku tersenyum lemah.


"Scarlett, jangan berpikir untuk menyerah begitu cepat!" Suara Damon seolah menyadarkanku.


Aku merasakan Damon menggenggam tanganku dengan begitu kuat.


Ya, aku tidak boleh menyerah. Aku adalah Sang Dewi, mana mungkin aku akan menyerah secepat ini. Aku telah bersumpah untuk menyelamatkan orang-orang ku sayangi. Aku tidak akan menyerah!


Aku mengepalkan tanganku berusaha untuk mengembalikan kekuatanku.


"Vampir setua dirimu tidak akan bisa bertahan dari rasa sakit seperti itu," ujar Sang Dewa Kegelapan.


Aku tersenyum lemah seraya menoleh ke arahnya.


"Aku tidak akan mati di sini!" ujarku dengan suara lemah.


"Aku terharu melihat semangatmu yang berapi-api," ujar Sang Dewa Kegelapan seraya tertawa dengan nada mengejek.


Aku menggertakkan gigiku. Aku tidak akan menyerah secepat ini!


Aku melirik ke arah Leda dan Erick yang masih terikat di tiang di atas altar. Aku sudah bersumpah untuk menyelamatkan mereka dan aku pasti menepati janjiku!


Aku menelan ludah dengan susah payah. Kapan terakhir kalinya aku minum? Mungkin saat ini aku butuh darah. Tapi darah siapa? Aku tidak membawa kantong darah dari rumah.


Aku menatap mata Roland. Ia sedang memandang wajahku dan seolah mengerti apa yang dibutuhkan oleh tubuhku.


Aku melihat dari sudut mataku ketika Sang Dewa Kegelapan berjalan menuju ke arah Leda dan Erick.


Roland memanfaatkan momen itu, ia mendekatkan lehernya ke bibirku dan menyuruhku untuk minum.


Tidak, aku tidak mungkin bisa melukai Roland. Aku menggeleng padanya.


Roland meraih belati dari sabuk di pinggangnya dan tiba-tiba ia melukai lengan bagian dalamnya. Aku melihat darah mengalir dari lukanya. Tanpa meminta persetujuanku, Roland menempelkan lukanya pada bibirku dan menahannya di bibirku agar aku bisa minum dari sana.


Ia menahan kepalaku agar aku tidak menghindar.


"Minumlah, kau perlu kekuatan agar bisa menyelamatkan kita," ujarnya lembut.


Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginannya. Aku menyesap darah Roland. Aku memejamkan mata menikmati esensi dari tubuh Roland. Energinya mengalir ke dalam tubuhku. Aku merasakan berbagai emosi Roland seolah menghantam benakku.


Kejadian ini baru pertama kalinya aku rasakan. Kali ini aku bukan hanya merasakan darah dan aliran energi yang masuk ke dalam tubuhku melainkan juga semua emosi dan perasaan yang berasal dari dalam jiwa Roland juga mengalir ke benakku. Bagaimana ini bisa terjadi?


Aku bisa merasakan bagaimana cara Roland memandangku. Bagaimana jiwanya selalu membuncah oleh perasaan cinta ketika berada di dekatku. Jiwanya seolah terikat dengan jiwaku.


Aku bahkan bisa melihat benaknya seolah dilindungi oleh perisai pelindung dari kompulsi. Pria ini memiliki keistimewaan. Mungkin inilah sebabnya kompulsiku tidak berpengaruh padanya ketika pertama kali aku berjumpa dengannya waktu itu.


Aku merasakan tubuhku kembali bugar setelah beberapa tegukan. Aku melepaskan tangan Roland dari bibirku dan menjauhkan tangannya. Aku menatap lekat matanya. Ya, dia begitu mencintaiku. Aku akan membawanya pulang bersamaku.


Aku meraih belati Roland dan melemparkannya tepat ke arah Sang Dewa Kegelapan. Ia menghentikan langkahnya dengan terkejut. Ia berbalik dan menatapku.


Kini aku berdiri dengan tubuh bugar menghadapnya. Sang Dewa Kegelapan melihat ke arah dadanya tempat belati yang aku lemparkan menancap di sana.


Ia kembali menoleh ke arahku dengan tatapan murka.


"Berani-beraninya kau!" Teriaknya.


"Kau tidak boleh menyakiti kaum immortal!" Aku mengingatkan dirinya.


"Aku adalah Sang Dewa Kegelapan, aku berhak melakukan apa saja!" Teriaknya murka.


Aku masih berdiri menghadapnya dan menantangnya.


"Tidakkah kau lupa dengan peraturan kuno yang menyatakan bahwa Dewa Kegelapan tidak boleh menyerang makhluk immortal yang tidak bersalah?" Aku mengucapkannya dengan nada mengancam.


"Jangan berharap kau bisa mengintimidasi ku!" Ujarnya dengan suara gemetar yang berusaha ditutupinya.


"Secara harfiah, kau telah menyerangku dan menyerang mereka!" Aku mengucapkannya seraya menunjuk ke arah Leda dan Erick.


Sang Dewa Kegelapan tidak menjawab dan menatapku dengan amarah yang menyala di matanya.


"Kau akan kehilangan tahtamu tidak lama lagi!" ujarku.


"Diam kau!" Ujarnya seraya mengarahkan bola api ke arahku.


Aku bergerak begitu cepat untuk menghindari serangannya. Aku merasakan tubuhku menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Apakah ini karena darah Roland, pikirku dalam hati.


"Kau telah melanggar aturan dan sumpah!" ujarku dengan wajah menantang.


"Omong kosong!" Jeritnya.


"Sebentar lagi pasti Sang Pencabut Nyawa akan datang dan membawamu ke neraka. Singgasanamu akan digantikan oleh yang lain!" Kali ini aku mengucapkannya dengan mengangkat sudut bibirku untuk membuatnya semakin terintimidasi.


"Tidak mungkin!" Jeritnya frustasi.


Ya, Sang Dewa Kegelapan yang memiliki nama asli Vladimir adalah sosok yang haus kekuasaan. Ia selalu takut tahtanya direbut oleh saudaranya. Dahulu ia disumpah agar tidak menyerang kaum immortal yang tidak bersalah. Jika dia melanggar sumpah, maka tahtanya akan tergantikan.


Aku menggunakan momentum ini untuk membuatnya semakin ketakutan.


"Tidak lama lagi, kau akan kehilangan tahtamu. Kau bukan lagi Sang Dewa Kegelapan," ujarku seraya tersenyum mengejek.


"TIDAAAK!" Raungnya.


Tiba-tiba ia meledak menjadi debu. Sumpah kuno yang mengikat dirinya telah menghancurkannya. Ia termakan sumpahnya. Dahulu ia bersumpah dengan nyawanya tidak akan menyerang makhluk immortal yang tidak bersalah. Kali ini sumpah itu telah menghabisinya.


Kami menatap ke arah debu Sang Dewa Kegelapan yang teronggok di lantai batu itu.


Aku segera berlari ke arah Leda dan Erick dan melepaskan tali yang mengikat mereka.


Leda dan Erick segera mendekap ku ketika meeka berdua bebas. Leda menangis di pelukanku.


"Tadi aku begitu takut," isak Leda.


Aku tertawa ke arahnya, aku mengerti apa yang hendak dikatakannya. Ia takut kehilangan diriku.


Roland dan Damon berjalan ke arah kami.


"Bagaimana cara kita pulang?" Tanya Damon penasaran ke arahku.


Aku meraih ke dalam saku dan mengambil terompet kecil pemberian kaum werewolf. Aku menunjukkannya pada Leda. Ia tampak terkesiap.


"Bagaimana kau memilikinya?" Leda bertanya dengan mata membelalak.


"Aldrin memberikannya padaku," ujarku.


Leda mengangguk ke arahku.


Kami berlima berkumpul sambil bergandengan tangan. Ya, kami akan pulang. Aku meniup terompet itu satu kali.