SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 24



Roland kembali ke rumahnya siang hari itu. Aku menemui Erick di kamarnya. Ia tampak sangat murung dan merasa bersalah semenjak kejadian yang tak disengaja tadi. Ia menoleh pada ku ketika aku membuka pintu kamarnya dan melangkah ke dalam.


"Aku tidak bermaksud melukai mu," ujarnya dengan nada bersalah.


"Ya, aku mengerti." Aku mendekat ke arahnya.


"Apakah lukamu masih sakit?" Ia meraih tanganku dan melihat bekas gigitannya.


"Sama sekali tidak sakit." Aku tertawa untuk meredakan rasa bersalahnya.


"Bagaimana dengan Roland?" Kali ini ia bertanya sambil menatapku dengan pandangan bersalah.


Aku menghembuskan nafas panjang sambil memandangnya.


"Dia baik-baik saja." Aku menepuk bahunya. "Leda sudah merawat lukanya." Aku menambahkan.


"Aku kehilangan kendali." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak mudah bagi vampir muda untuk mengendalikan insting haus darah. Namun kau sudah berusaha." Kali ini aku merangkulnya berharap membuatnya tenang.


Aku bangkit dan hendak meninggalkan ruangan namun Erick memanggilku. Aku berbalik menghadapnya.


"Scarlett, terimakasih. Kau adalah kakak bagiku." Dia mengucapkannya dengan tulus.


Aku mengangguk dan pergi meninggalkannya.


Aku mencari Damon di ruang tamu. Ia sedang duduk sambil menyesap wiski.


"Kemari lah!" ujarnya sambil melambaikan tangannya ke arahku.


Aku melangkah menuju ke arahnya dan duduk di sebelahnya.


"Damon ... , aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Aku mengucapkannya sambil menatapnya.


Damon mengangkat alisnya padaku.


"Apa yang akan terjadi pada Roland jika Robert benar-benar mengadu pada pemimpin klan?"


Damon tidak segera menjawab, ia tampak sedang berpikir. Aku menunggu jawaban darinya.


"Mungkin pemimpin klan akan membunuhnya." Damon menjawab dengan lirih sambil menunduk memandangi wiski di gelas yang dipegangnya.


"Apa?" Aku bertanya seolah tak mempercayai apa yang aku dengar.


"Aku pernah mendengar tentang hal serupa yang terjadi di tempat lain beberapa tahun yang lalu." Damon menatapku dengan tatapan prihatin.


Aku termenung mendengar ucapannya. Bagaimana dengan Roland. Apakah Robert akan benar-benar mengadu pada pemimpin klan?


"Scarlett, kalian berdua tidak boleh bersama." Damon mengucapkan fakta itu.


Aku menerima fakta itu dengan perasaan perih dan terluka. Bagaimanapun aku dan Roland tidak bisa bersatu. Aku merasakan mataku memanas. Ada air mata yang aku tahan agar tidak tumpah. Apa yang harus aku lakukan?


Damon merangkul bahuku. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Jika aku terus bersama Roland, maka nyawanya akan terancam. Aku harus menjauhinya meski hal itu akan membuat hatiku berdarah. Namun demi cintaku padanya, aku harus melindungi nyawanya meskipun hatiku akan teriris jika aku harus berjauhan dengannya.


......................


Hari itu aku sepakat untuk pergi meninggalkan Roland. Aku memutuskan untuk menjauhinya demi keselamatannya. Aku lebih baik mati daripada harus melihat Roland terluka karena aku lagi.


Aku memberitahu Leda, Eric dan Damon tentang rencanaku. Mereka menatapku dengan prihatin seolah ada akan berjalan menuju ke gerbang kematian.


"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Leda dengan khawatir.


Aku mengangguk. Mungkin dia bisa melihat sorot kepedihan di mataku.


"Aku yakin kau pasti akan cepat melupakan si manusia itu." Erick menepuk bahuku sambil tertawa untuk menghibur diriku.


Damon hanya diam saja dan merangkul bahuku. Aku memutuskan untuk tinggal di rumah Damon untuk sementara waktu. Sementara Erick akan kembali ke rumahnya sendiri. Jadi di rumahku hanya tinggal Leda seorang.


Aku mendengar langkah kaki Roland memasuki ruang tamu. Leda menghadangnya di ruang tamu.


"Aku harus bicara pada Scarlett." Nada suara Roland mendesak.


"Scarlett sedang tidak di rumah." Leda menjawab dengan nada tegas.


"Ke mana dia?" Tanya Roland penasaran.


"Entahlah, dia pergi sejak tadi dengan Damon." Balas Leda.


"Baiklah, aku akan kembali nanti." Roland mengatakan itu sambil pergi meninggalkan ruang tamu.


Aku mengintip dari balik jendela kamarku ketika mobil Roland menjauhi rumahku. Damon memasuki kamarku.


"Sudah siap pergi bersamaku?" tanyanya dengan senyum ceria di wajahnya.


Aku mengangkat bahu sebagai tanda persetujuan. Aku membawa tasku yang berisi beberapa pakaian. Aku melangkah menuju ruang tamu untuk mengatakan pada Leda bahwa aku akan menginap di rumah Damon untuk beberapa hari.


"Jangan lupa untuk selalu meneleponku." Leda memelukku.


"Kau bicara seolah aku akan pergi jauh." Aku tertawa padanya.


"Barusan Roland mencarimu," ujarnya dengan nada prihatin.


"Ya, aku mendengar percakapan kalian dari atas." Aku mengangkat satu alisku.


"Jaga dia," ujarnya pada Damon.


"Pasti." Damon menjawabnya dengan suara mantab.


Kami meninggalkan rumah. Aku mengendarai mobilku menuju rumah Damon. Sebenarnya rumahku tidak terlalu jauh jaraknya dengan rumah Damon, namun aku memutuskan untuk menginap di sana agar aku bisa menjauh dari Roland. Mungkin dengan begitu Roland tidak akan mencari ku.


Tiga puluh menit kemudian kami sampai di rumah Damon. Damon mengaku baru beberapa hari menyewa rumah itu. Sebelumnya dia tinggal di Kanada.


Kami berdua masuk ke dalam rumahnya. Rumah Damon sama besarnya dengan rumahku. Ia menyukai kemewahan seperti aku. Kami sebenarnya memiliki berbagai persamaan.


Aku merebahkan diriku di sofa di ruang tamunya. Damon mengambil dua kantong dari kulkasnya. Dia memberikan satu kantong darah padaku dan yang satu lagi untuk dirinya sendiri. Kami menyeruput darah itu. Setelah aku merasa puas dan kenyang. Aku kembali merebahkan diriku di sofa.


Pikiranku kembali melayang pada Roland. Apakah dia mencari ku? Apa yang akan dipikirkannya ketika dia tahu bahwa aku menginap di rumah Damon? Apakah dia akan memahami alasanku pergi darinya? Apakah dia akan mengerti bahwa aku terpaksa melakukan hal ini agar nyawanya selamat?


Aku memejamkan mataku. Aku ingin beristirahat. Meskipun secara harfiah vampir tidak membutuhkan tidur, namun aku suka bersantai sambil memejamkan mata.


Aku merasakan Damon melangkah mendekati ku. Aku berpura-pura tidak menyadarinya. Aku merasakan dia menggendongku. Aku membuka mataku dan melihat wajahnya sedang menatap wajahku.


"Turunkan aku!" Aku hendak melepaskan diri darinya.


"Sssttt..!" Dia tidak menuruti perintahku.


"Damon, aku ... " Kalimatku terputus ketika dia mendaratkan bibirnya pada bibirku.


Dia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Aku melingkarkan tanganku di lehernya. Ia meletakkan aku di atas kasur mewah miliknya.


Aku hendak bangkit ketika dirinya tiba-tiba naik ke atas tubuhku.


"Damon ... " Aku berusaha melepaskan diri darinya.


Dia memelukku dan membenamkan wajahnya di lekukan leherku.


"Scarlett, kumohon." Dia membisikkan itu dengan mata yang penuh permohonan.


Aku belum sempat menjawab ketika ia mendaratkan bibirnya di bibirku dan menggigit bibirku dengan lembut. Tangannya menahan ku di belakang leherku. Sementara tangan lainnya bergerak liar ke bagian tubuhku yang lain.


"Kali ini saja," bisiknya lirih di telingaku.