SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 35



Tubuhku menegang melihat pemandangan yang terpampang di depan sana. Aku merasakan Roland dan Damon juga merasakan hal yang sama denganku.


"Leda! Erick!" panggilku dengan panik.


Mereka berdua menengadah mendengar suaraku.


"Scarlett, aku tahu kau pasti datang," ujar Leda seraya tersenyum lemah.


Apa yang telah dilakukan oleh Sang Dewa Kegelapan pada mereka berdua hingga mereka terlihat begitu lemas seperti itu. Tubuh Leda dan Erick terlihat begitu lemah dan lunglai. Aku mengepalkan kedua tanganku dengan emosi. Aku harus membalas perbuatan Sang Dewa Kegelapan.


"Sepertinya aku kedatangan tamu tak diundang," ujar Sang Dewa Kegelapan seraya berjalan dari balik pintu di belakang altar sambil tertawa.


Tubuhku menggigil oleh amarah melihat dirinya. Bagaimana ia begitu licik seperti ini. Aku tahu sejak dulu bahwa ia menyukai ku, namun aku tidak pernah berpikir bahwa dia akan bertindak sejauh ini.


"Scarlett, bersiaplah untuk menjadi pengantinku, Sayang." Dia mengatakannya seraya berjalan mendekat ke arahku.


"Itu tidak akan pernah terjadi," ujarku dengan tatapan tajam yang terarah padanya.


Aku merasakan tubuh Roland menegang ketika Sang Dewa Kegelapan berjalan mendekat ke arahku.


"Rupanya kau membawa teman dan kekasihmu," ujarnya seraya tersenyum mengejek ke arah Roland dan Damon.


"Brengsek!" Damon mengumpat ke arahnya.


"Apakah kalian sudah tahu bahwa perjalanan ke sini adalah perjalanan satu arah?" Ia mengucapkannya dengan nada mencibir.


Roland dan Damon tidak menghiraukannya.


"Itu artinya kalian akan terjebak di sini selamanya!" Kali ini tawanya semakin keras hingga taringnya tampak.


"Aku akan membawa mereka pulang." Aku mengucapkannya dengan tegas.


Tawa Sang Dewa Kegelapan mendadak berhenti dan dia menatap tajam ke arahku.


"Jangan berpikir bahwa kau bisa lolos dariku, Sayang!" ujarnya seraya meraih daguku. "Aku sudah menunggu selama ribuan tahun untuk bisa bersamamu."


"Aku tidak sudi tinggal dengan makhluk sepertimu!" Kali ini aku mengucapkannya dengan suara lantang.


Raut wajahnya berubah menjadi gelap. Aku melihat api di katanya seolah menyala semakin terang. Aku menelan ludah menyadari bahwa lawanku kali ini adalah Sang Dewa Kegelapan.


Selama ini aku tidak pernah membayangkan akan melawannya. Bahkan semua makhluk immortal selalu mematuhi perintahnya. Lawan terberatku selama ini adalah Victor. Namun kali ini lawanku adalah sosok yang bahkan aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa selamat darinya.


"Apa yang kau lakukan pada Leda dan Erick?" Aku bertanya dengan suara bergetar menahan amarah.


Sang Dewa Kegelapan tertawa mendengar pertanyaan. Aku semakin merasakan amarahku berkobar di dalam diriku.


"Kau selalu saja terlalu memperdulikan orang lain," ujarnya seraya tertawa padaku.


"Aku akan melindungi semua yang aku sayangi," ujarku dengan rahang menegang karena emosi.


"Jangan lupa untuk melindungi dirimu juga, Sayang." Kali ini ia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.


Aku menggertakkan rahangku.


"Sebentar lagi kau akan menjadi permaisuriku, aku tidak sabar untuk segera memilikimu!" Ia mengucapkannya seraya memajukan wajahnya mendekat ke arahku.


Aku menghindar dengan melangkah mundur.


Roland meninju wajahnya.


"Jangan berharap kau akan bisa memilikinya!" Teriak Roland ke arahnya.


Sang Dewa Kegelapan menoleh ke arah Roland dengan tatapan mematikan. Aku segera melangkah dan berdiri di depan Roland untuk melindunginya.


"Scarlett, kau jatuh cinta pada seorang manusia yang naif," ujar Sang Dewa Kegelapan seraya terkekeh.


"Diam!" Bentakku.


"Berani-beraninya kau berbicara dengan nada kasar seperti itu!" Kali ini Sang Dewa Kegelapan melangkah mendekat ke arahku dengan tatapan marah.


Aku masih berdiri di hadapan Roland seolah aku adalah tameng untuknya.


"Serahkan manusia itu padaku!" Perintahnya dengan suara tegas.


"Scarlett, kau tahu, kau telah melanggar aturan kaum immortal dengan menjalin hubungan dengan seorang manusia!" Teriaknya.


Aku masih berdiri di depan Roland dan tidak menjawabnya.


"Jika saja aku tidak menginginkan dirimu, pasti aku sudah membunuhmu!" Teriaknya dengan mata melotot ke arahku.


Jantungku berdebar oleh rasa takut. Baru kali ini aku merasakan takut ketika sedang berhadapan dengan seseorang yang berlawanan denganku.


"Scarlett, jika kau setuju untuk menjadi pengantinku, aku akan membiarkanmu hidup." Kali ini suaranya berubah menjadi lebih lunak.


Aku masih tidak menjawabnya.


"Tapi jika kau menolak, ... " Ia sengaja membiarkan kalimatnya menggantung.


Tiba-tiba Sang Dewa Kegelapan, berbalik dan melihat ke arah Leda dan Erick. Ia mengarahkan tangannya ke arah mereka berdua dan seketika Leda dan Erick memekik kesakitan seolah leher mereka tercekik.


"HENTIKAN!" Jeritku.


Sang Dewa Kegelapan menurunkan tangannya dan seketika aku melihat Leda dan Erick kembali bernafas lega.


Sang Dewa Kegelapan berbalik dan kembali menatap ke arahku. Ia mengangkat kedua alisnya padaku seolah bertanya aka keputusanku.


Aku berada di posisi yang begitu sulit. Kali ini aku melihat jalan buntu. Bagaimana caraku menyelamatkan mereka semua? Aku tidak ingin menjadi pengantinnya! Tidak akan pernah!


Aku harus berpikir keras mencari jalan keluar dari situasi ini. Aku harus menyelamatkan Roland serta yang lainnya. Meskipun aku harus kehilangan nyawaku di sini, tapi setidaknya aku harus menyelamatkan mereka dan mengirim mereka pulang.


"Lepaskan dulu Leda dan Erick!" Perintahku pada Sang Dewa Kegelapan.


"Kau berniat menipuku?" tanyanya seraya tertawa.


"Lepaskan mereka, dan aku akan menuruti permintaanmu," ujarku.


Aku merasakan Roland mencengkram bahuku dari belakangku.


"Tidak!" Pekiknya.


Aku menyentuh tangan Roland yang berada di bahuku dan berharap bisa membuatnya tenang.


"Apakah aku salah mendengar?" Tanya Sang Dewa Kegelapan dengan alis bertaut.


"Lepaskan mereka, dan aku akan menyetujui permintaanmu," ulangku.


"Scarlett!" Damon memanggilku dan menggelengkan kepalanya ke arahku.


Sang Dewa Kegelapan tertawa melihat kami bertiga.


"Aku melihat kisah cinta yang begitu rumit di sini!" Ia tertawa ke arah kami.


Aku menatap ke arah Damon berharap dia bisa memahami rencanaku. Sementara aku masih tetap memegang tangan Roland yang berada di bahuku.


"Aku peringatkan, jangan berniat untuk mempermainkan aku!" Sang Dewa Kegelapan mengancamku.


Aku menatap lekat ke arah Sang Dewa Kegelapan.


"Lepaskan mereka!" Kali ini aku memerintahkan dengan nada mendesak.


"Aku tidak mempercayaimu!" Sang Dewa Kegelapan mencengkram daguku.


Roland bergerak ke depan dan menendang Sang Dewa Kegelapan tepat di perutnya. Tendangan itu membuatnya terhuyung ke belakang.


"Jangan menyentuhnya!" Roland berteriak ke arahnya.


Sang Dewa Kegelapan menatap ke arah Roland dengan tatapan yang mematikan. Aku melihat kobaran api di matanya. Dia hendak menyerang Roland dengan api yang berasal dari matanya.


Aku segara melompat di antara mereka berdua dan menghalangi Sang Dewa Kegelapan. Untunglah aku bergerak di waktu yang tepat untuk menghalangi Roland dari serangannya.


Kobaran api yang ditujukan ke arah Roland mengenai diriku. Aku merasakan diriku terbakar.


"TIDAAAK!" Roland menjerit dan bergerak ke arahku.


Tidak, jangan mendekat Roland, ujarku dalam hati.