
Kami berciuman lama. Kami meluapkan kerinduan yang selama ini dipendam. Entah berapa lama aku dan Roland berciuman seperti itu hingga aku mendengar suara Damon dan membuat kami terpaksa melepaskan ciuman kami.
"Aku sedang tidak selera menonton adegan romantis di tempat semacam ini." Damon berjalan ke arahku dan berhenti satu meter di depanku. Dia melihat ku dari atas sampai bawah.
"Kenapa kau compang-camping begitu?" ujarnya sambil tertawa.
"Tak bisakah kau memberiku tatapan bersimpati sedikit?" Tanyaku sambil mengerutkan bibir.
Leda berlari ke arahku dan memelukku. Kali ini ia menangis hingga bahunya terguncang.
"Kau membuat ku ketakutan setengah mati!" Dia mengucapkannya sambil mengusap air mata.
"Aku masih hidup." Aku mengucapkannya sambil tersenyum menenangkan dirinya.
"Kenapa kau gosong begitu?" Erick menatapku sambil melotot.
"Aku hampir saja menjadi arang, kau malah mengejekku." Aku memutar bola mataku.
Hal terbaik hari ini adalah aku masih hidup dan aku masih bersama mereka, teman-temanku. Hal yang jauh lebih baik lagi adalah aku masih bersama Roland. Kami berlima berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke rumahku. Untuk saat ini lebih baik kami berkumpul di rumahku.
......................
Matahari sudah bersinar ketika kami sampai di rumahku. Aku menyuruh Roland untuk beristirahat di sini. Ia menyetujuinya. Hatiku seolah berbunga-bunga hari ini. Damon dan Erick memilih kamar masing-masing di rumahku. Ada banyak kamar di sini. Aku menyuruh mereka untuk memilihnya. Kini rumahku tampak seperti base camp bagi kami. Akan lebih aman begini. Kami bisa saling menjaga satu sama lain. Aku membersihkan diriku dan berganti pakaian. Setelahnya kami berkumpul kembali di ruang tamu untuk membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.
"Bagaimana kalian bisa menemukan aku?" Aku bertanya penasaran.
"Leda mengikuti bau tubuhmu. Dia memiliki penciuman seperti anjing pelacak." Erick menjelaskan.
Ya, kaum werewolf adalah pelacak terbaik, pikirku.
"Damon, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ujarku.
Damon mengangkat satu alis dan mendengarkan.
"Kenapa Victor memiliki kemampuan untuk menciptakan api?" Aku bertanya dengan penasaran.
"Bukankah kau seharusnya yang lebih tahu mengenai hal seperti itu?" Damon menjawab ku dengan pertanyaan lain.
"Entahlah," ujarku sambil mengangkat bahuku. "Kami sama-sama diubah oleh penyihir, tapi kenapa aku tidak bisa menciptakan api dari tanganku?" Aku mengucapkannya sambil menatap telapak tanganku.
"Aku pernah mendengar desas desus bahwa vampir yang berusia ribuan tahun memiiki kemampuan yang tidak dimiliki oleh vampir lainnya." Kini Roland yang berbicara.
Kami semua menatap ke arahnya.
"Aku pernah membaca bahwa beberapa vampir, termasuk dirimu," ia memberi jeda kalimatnya sambil menatap ke arahku, "kalian memiliki kemampuan untuk berubah wujud."
"Semua sudah tahu tentang itu!" Damon mengucapkan itu dengan kesal.
"Petir?" Aku membelalak tidak percaya. "Aku belum pernah mendengarnya."
Leda dan Erick mendengarkan dengan serius seperti siswa di kelas yang memperhatikan gurunya.
"Aku pernah membaca catatan penyihir kuno yang dimiliki oleh klan pemburu vampir mengenai kekuatan supranatural seperti ini. Kekuatan itu perlu dilatih untuk bisa muncul dan digunakan oleh vampir." Roland menjelaskan dengan serius.
Kami semua masih terfokus pada penjelasan Roland.
"Jika kau bisa berubah menjadi asap, ada kemungkinan besar kau pun juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan api atau bahkan petir." Roland melanjutkan sambil menatap ke arahku.
"Wow." Erick menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.
"Kita seperti bermain peran superhero dalam film." Damon mengangkat alisnya dan bersandar di sofa.
Aku mengerucutkan bibir mendengar penjelasan Roland. Apakah aku bisa mengendalikan api? Ah, tadi saja aku hampir mati gosong karena dibakar oleh Victor.
"Mungkin kau perlu berlatih untuk mengasah kemampuan itu." Roland mengatakan hal itu padaku.
"Ya, mungkin aku perlu latihan," ujarku agak malas sambil mengangkat bahuku.
Saat ini aku tidak sedang ingin bermain superhero seperti yang dikatakan Damon. Aku hanya ingin membawa Roland ke kamarku dan kami berdua di sana. Aku menepiskan pikiran itu. Untunglah tidak ada vampir di sini yang bisa membaca pikiran.
"Bagaimana kalau kita istirahat saja. Pembicaraan ini bisa kita lanjutkan nanti." Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju ke tangga yang mengarah ke kamarku.
Damon dan Erick berjalan ke arah masing-masing. Leda mengarah ke dapur, mungkin dia akan memasak untuknya dan Roland. Sementara Roland masih duduk di sofa.
Aku menghentikan langkahku di anak tangga pertama dan menoleh ke arahnya. Ia membalas tatapanku. Aku menatapnya lama. Kenapa dia tidak mengikuti ku? Tidak mungkin aku menyuruhnya untuk ikut ke kamar denganku.Hal itu akan sangat memalukan! Aku tidak mau terdengar seperti wanita yang memohon-mohon cintanya! Aku tersenyum padanya dan aku berbalik menaiki anak tangga. Sebenarnya dalam hati aku berharap dia akan melangkah di belakangku. Namun aku tidak mendengar suara langkahnya. Aku menepis rasa kecewa di hatiku.
Aku memasuki kamarku. Aku melangkah ke arah balkon. Aku berdiri di sana menatap langit. Aku yakin Victor belum mati. Belati Perak yang menancap di dadanya hanya membuatnya pingsan. Vampir akan berubah menjadi debu ketika mati. Namun Victor masih utuh. Itu artinya ia pasti akan kembali lagi mencari ku.
Aku merasakan sepasang tangan memelukku dari belakang. Aku tahu bahwa ini adalah Roland. Aku merasakan degup jantungnya di punggungku. Aku memegang tangannya yang dilingkarkan di tubuhku. Kali ini ia benar-benar datang memenuhi panggilan hatiku.
Aku merasakan dia membenamkan wajahnya di bahuku. Aku memejamkan mataku. Roland menyibakkan rambutku ke samping. Aku merasakan nafasku memburu. Bibir Roland mencium leherku. Aku merasakan tubuhku memanas. Sudah begitu lama aku mendambakan perasaan seperti ini.
Roland membalikkan badanku agar menghadapnya. Aku menengadah menatap wajahnya yang begitu rupawan. Ia menatap mataku. Jantungnya berdebar kencang. KAli ini tatapannya mengarah ke bibirku. Aku mendambakan bibirnya mendarat di bibirku.
Seolah bisa membaca pikiranku, ia mendaratkan ciumannya di bibirku. Kami saling menikmati satu sama lain. Roland menggendongku dan membawaku ke kasur. Ia membaringkan aku di atas kasur. Ia naik ke atasku.
"Aku kira aku akan melihat peti untuk tempat tidurmu alih-alih kasur yang empuk." Dia membisikkan kalimat itu di telingaku sambil menggigit ringan daun telingaku.
Aku merinding oleh sentuhannya.
"Aku vampir modern," bisikku di telinganya.
Kali ini Roland membenamkan wajahnya di bahuku sambil mencium leherku. Aku melengkungkan tubuhku menikmati setiap sentuhannya. Kami menikmati momen itu. Aku membenamkan jariku di rambutnya. Seperti inikah rasanya cinta? Ia begitu memabukkan. Kami terus bergerak bersama. Inilah yang aku dambakan selama ini.