
Bajuku dan baju Roland berserakan di lantai. Kami berdua terengah bersama. Kami baru saja mencapai pelepasan yang begitu dahsyat. Roland terkulai lemah di atasku. Aku pun merasakan diriku lemas. Roland berguling dan berbaring di sampingku. Ia berbaring miring ke arahku sambil menatapku.
"kau begitu sempurna," bisiknya kembali mencium ku.
Kami berdua melonjak kaget ketika Leda mengetuk pintu kamarku. Aku dan Roland bergegas mengenakan pakaian kami. Setelah aku selesai berpakaian, aku membuka pintu dan melihat Leda membawakan ku sekantong darah. Dia mengintip ke dalam kamar dan menemukan Roland di sana. Dia menatap ke arahku dengan alis terangkat.
"Manusia itu perlu makan. Aku sudah menyiapkan makanan untuknya." Leda memberi isyarat padaku untuk menyuruh Roland makan.
Bagaimana aku bisa lupa akan hal itu. Tadi aku merasa begitu melayang hingga aku lupa fakta bahwa Roland adalah manusia. Aku mengambil kantong darah yang ia bawa dan aku kembali ke dalam kamar. Leda kembali menutup pintu kamar ku.
"Kau harus makan." Aku mengatakan itu sambil memegang kantong darahku.
Roland melihat ke arah kantong darah yang aku pegang.
"Aku mendapatkannya dari bank darah." Aku menjelaskan dengan malu-malu.
Sial. Kenapa aku malah terlihat seperti gadis remaja yang baru pertama kali bercinta.
Roland berjalan ke arahku. Aku menatapnya dengan pandangan kagum. Dia berdiri tepat di depanku. Aku masih memegang kantong darahku dengan perasaan gugup. Roland meraih pipiku. Aku menatap matanya.
"Scarlett, aku ... " Ucapannya terhenti ketika Damon memasuki kamarku tanpa mengetuk pintu.
"Cepatlah turun! Ada yang mencari mu!" Damon mengatakan hal itu dengan nada yang begitu mendesak.
Aku hendak menanyakan siapa yang datang namun Damon telah pergi.
Aku dan Roland saling menatap dengan penasaran. Aku menghabiskan kantong darahku dengan beberapa tegukan cepat. Aku melemparkan kantong yang sudah kosong ke lantai. Kami berdua turun dan ingin segera melihat siapa yang datang.
Di ruang tamu, aku melihat Erick, Damon dan Leda berdiri berdampingan seolah mereka sedang menghadapi seorang musuh. Di hadapan mereka berdirilah Robert dengan pistol di tangannya yang di arahkan tepat ke arahku. Aku berhenti melangkah di anak tangga terakhir. Aku begitu terkejut dengan pemandangan yang aku lihat saat ini.
"Kau adalah monster!" Ia mengucapkan itu dan menarik pelatuk nya. Aku menghindari pistol itu dengan bergerak ke samping.
Damon menangkap Robert dan memelintir tangannya ke belakang bahunya dan menguncinya di posisi itu. Robert berjuang melepaskan diri namun cengkraman Damon begitu kuat. Robert berteriak ke arah Roland.
"Kau penghianat!" Ia mengatakan hal itu dengan mata melotot dan wajah penuh kebencian.
Aku melihat ke arah Roland dan jantungku seolah hampir copot ketika aku melihat darah mengalir dari bahunya menuju lengannya. Pastilah tadi tembakan Robert mengenai bahu Roland. Aku berjalan ke arah Roland dan melihat lukanya. Aku begitu khawatir.
"Kau berteman dengan monster!" Robert kembali memekik dan meronta-ronta hendak melepaskan diri.
Roland berjalan ke arahnya. Aku berdiri menatapnya.
"Aku bisa menjelaskan semuanya padamu." Roland mengatakannya dengan pelan.
"Kau penghianat!" Robert meludah ke arah Roland.
Damon semakin mengeratkan cengkeramannya pada tangan Robert. Ia semakin meronta-ronta.
"Robert, tidak semua vampir itu jahat!" Roland menjelaskan dengan nada bersungguh-sungguh.
"Semua monster sama saja! Monster tetaplah monster!" Ia berteriak sambil meronta-ronta.
"Aku akan mengadukan mu pada pemimpin klan!" Dia mengancam Roland.
"Robert, kumohon. Dengarkan penjelasan ku dulu. Mereka ini tidak pernah menyerang manusia!" Kali ini nada bicara Roland mendesak.
"Persetan! Kau sudah pikiranmu sudah diracuni oleh mereka!" Robert melotot ke arah Roland.
Aku melihat darah Roland semakin deras mengalir di lengannya. Aroma darah itu menguar di udara dan memenuhi ruang tamu kku dengan aroma yang sulit untuk ditolak oleh para vampir. Aku melihat Erick dengan khawatir. Ia adalah yang termuda dan seringkali dirinya kesulitan untuk menahan nafsu haus darahnya. Semoga Erick bisa menahan diri. Aku melihat wajahnya menegang.
"Ada vampir lain di kota yang menyerang manusia! Mereka bukanlah pelakunya!" Roland meninggikan suaranya untuk meyakinkan Robert.
"Aku akan melaporkan mu pada pemimpin klan! Dia akan membunuh penghianat seperti dirimu!" Robert menjerit.
Damon memiting lengan Robert dan menyebabkan bunyi mengerikan seperti suara tulang yang patah. Aku meringis ketika melihat Robert menjerit kesakitan.
Tiba-tiba aku melihat Erick menghambur ke arah Roland dan menyerang Roland. Aku berteriak dan berlari ke arah mereka sambil menarik Erick untuk menjauhi Roland. Erick lepas kendali. Mungkin karena ia belum minum sama sekali sehingga aroma darah Roland mengambil kendali atas instingnya. Aku menahan Erick dengan tanganku.
"Kau lihat monster itu!" Jerit Robert. "Nanti kau akan menyesal kau telah bersikap lunak terhadap mereka!"
Erick meronta-ronta ingin melepaskan diri dariku. Dia menggigit tanganku. Aku menjerit. Damon segera berlari ke arahku dan melepaskan Robert. Aku melihat tanganku sedikit terluka akibat gigitan Erick. Robert mengambil kesempatan itu dan segera kabur berlari meninggalkan rumahku.
Damon meninju Erick.
"Sadarlah bocah ingusan!" Damon kembali meninjunya.
Erick berhenti meronta dan melihat ke sekeliling ruangan seperti orang yang baru sadar dari kesurupan.
Erick melihat tanganku yang terluka akibat gigitannya. Dia menatapku dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa." Aku mengucapkannya untuk membuatnya tenang.
"Maafkan aku." Matanya tampak berkaca-kaca.
Aku menepuk bahunya untuk mengurangi rasa bersalahnya. Ia menoleh ke arah Roland.
"Maafkan aku." Ia mengucapkannya sambil berlari menjauh dari ruang tamu. Ia berlari ke kamarnya.
Aku berjalan ke arah Roland dengan khawatir.
"Kau terluka," ujarku lirih.
"Hanya sedikit lecet," ujarnya sambil tersenyum ke arahku.
"Kau terluka karena aku." Aku merasakan air mataku menggenang di pelupuk mataku.
Aku menuntun Roland ke arah sofa. Leda segera meninggalkan ruang tamu untuk mengambil kotak obat dan perban. Damon meninggalkan kami berdua. Hatiku merasa tertusuk melihat Roland terluka karena aku. Akan terlalu berbahaya jika dia terus bersamaku.
"Apa yang akan terjadi dia Robert memberitahukan hal ini pada pemimpin klan?" Aku bertanya dengan tatapan khawatir.
Roland menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Leda kembali ke ruang tamu membawa perlengkapan untuk merawat luka Roland. Aku memperhatikan Leda membersihkan luka itu dan membalut perban di bahu Roland. Untunglah pelurunya meleset dan hanya mengenainya sedikit. Sudah dua kali Roland terluka karena aku. Aku tidak boleh membiarkannya kembali terluka. Jika aku terus bersamanya, mungkin keselamatannya akan dipertaruhkan.