SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 38



Aku memikirkan implikasi dari hal ini. Jika aku ingin kembali menjadi manusia, itu artinya aku harus mengorbankan jiwa dari Yang Terpilih. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan. Aku tidak mungkin mengorbankan Roland. Tidak akan pernah!


Tapi jika aku tetap menjadi vampir, maka mimpi terbesarku untuk bisa menua bersama dengan Roland akan pupus. Kenapa hidup tak henti-hentinya mempermainkan diriku. Jiwaku menjerit memikirkan hal ini.


"Makanannya sudah siap," ujar Leda mengagetkanku.


Aku menoleh ke arahnya dan melihat dia sudah menyiapkan makanan dan secangkir kopi panas di atas sebuah nampan. Ia menyerahkan nampan itu padaku.


"Bawalah!" ujarnya dengan nada lembut.


Aku menerima nampan itu dan berbalik untuk menuju kamarku. Suara Leda menghentikan langkahku.


"Scarlett," ujarnya dengan lembut.


Aku berbalik dan menghadapnya. Aku melihat sorot khawatir di matanya.


"Kau tahu, aku selalu menginginkan kau untuk hidup bahagia," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Ucapannya membuatku ingin menangis. Aku menggigit bibir dan hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Aku berharap kau bisa bahagia bersama Roland," tambahnya.


"Jangan membuatku menangis sepagi ini, Leda!" ujarku seraya menahan air mataku.


Dia begitu memperdulikan aku.


"Aku akan mengantarkan ini pada Roland," ujarku.


Leda mengangguk ke arahku.


Aku berjalan ke kamar dengan perasaan yang bercampur aduk. Bagaimana jika suatu saat Roland mengetahui bahwa dirinya memiliki keistimewaan yang mengalir dalam darahnya?


Aku menggeleng pelan. Tidak, Roland tidak boleh tahu tentang hal ini. Aku tidak ingin Roland berkorban untukku.


Aku memasuki kamarku dan melihatnya sedang menatap ke arahku dengan senyumnya yang mempesona.


Aku berjalan mendekat ke arahnya dan meletakkan nampan di meja yang terletak di samping tempat tidurku.


Aku mengambilkan makanan dan hendak menyuapinya.


"Ayo, makanlah!" ujarku seraya menyodorkan sendok yang penuh makanan ke mulutnya.


"Biarkan aku makan sendiri," ujarnya seraya tertawa.


"Tidak boleh!" seruku dan memaksa untuk menyuapinya.


Ia menuruti perintahku dan membiarkan aku menyuapinya. Setelah selesai makan, ia menyuruhku untuk berbaring di sampingnya.


Aku naik ke atas tempat tidurku dan meletakkan kepalaku di dadanya. Itu adalah posisi favoritku saat sedang berdua bersamanya. Sebab dengan begitu, aku bisa merasakan detak jantungnya yang selalu berdetak semakin cepat setiap kali menyentuhku.


Aku merasakan tangan Roland membelai lembut rambutku. Aku begitu menikmatinya. Hal itu selalu membuatku merasa tenang dan nyaman.


"Scarlett," ujarnya dengan lembut.


Aku menengadah menatap ke arahnya. Ia mengusap lembut pipiku dengan tangannya.


"Kau tahu, semalam aku benar-benar takut kehilangan dirimu," ujarnya.


Aku tersenyum mendengar ucapannya. Aku kembali meletakkan kepalanya di dadanya. Kali ini debarannya terasa semakin kencang.


Aku menelan ludah merasakan bahwa tubuhku seolah merespons detak jantung Roland yang mulai berpacu.


Tiba-tiba Roland berbalik dan menempatkan aku di bawahnya. Tangannya menelusuri pipiku. Aku melihat matanya yang mulai dipenuhi oleh gairah.


"Kau selalu membuatku gila," bisiknya di telingaku.


Ia membenamkan wajahnya di lekukan leherku dan menghujaniku dengan ciuman-ciumannya.


Aku memeluknya dan mencengkram punggungnya. Aku melengkungkan tubuhku yang telah dipenuhi sensasi panas dingin akibat sentuhan tangan Roland.


Aku mengerang dan menyebut namanya. Kami berdua bersatu dalam panasnya api cinta dan gairah.


Satu jam kemudian, dia ambruk di atasku dengan nafas yang memburu. Aku masih memeluknya dengan erat seolah tak mau jauh darinya.


"Scarlett, kau mau jalan-jalan denganku?" Tanyanya.


"Tentu saja," ujarku dengan senang.


Roland mencium keningku dari bangkit dari atas tubuhku. Dia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian aku melihatnya keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun yang menguar di udara. Dia terlihat kembali sehat dan bugar.


Aku bangkit dari kasurku dengan perasaan berat. Sejujurnya aku masih ingin bersama Roland di sini. Tapi ide untuk berjalan-jalan dengannya juga terdengar mengasyikkan.


Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diriku. Setelah selesai berganti pakaian. Aku berdiri di hadapannya.


"Apakah aku terlihat cantik?" tanyaku dengan nada manja.


"Tidak ada yang bisa menandingi kecantikanmu," ujarnya dengan sorot mata yang penuh kekaguman.


Kami berdua berjalan bersama keluar dari kamar. Sesampainya di bawah, aku memberitahu Leda bahwa aku dan Roland ingin mencari angin segar.


"Berhati-hatilah," ujar Leda padaku.


Aku mengangguk meyakinkan dirinya bahwa aku akan baik-baik saja.


"Jaga dia." Kali ini Leda mengucapkannya pada Roland.


"Pasti," balas Roland.


Kami berdua mengendarai mobil Roland.


"Kau ingin pergi ke mana?" tanyanya.


"Aku menyukai pantai," ujarku.


"Baiklah," ujarnya seraya melaju ke arah pantai.


Beberapa menit kemudian kami berdua sampai di pantai. Cuaca hari itu tampak mendung dan dingin. Aku menyukainya.


Kami berdua keluar dari mobil. Roland menggandeng tanganku dan berjalan di sampingku menyusuri garis pantai.


Angin sepoi-sepoi membelai rambutku. Kami berdua terlihat seperti sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara.


Tiba-tiba rintik gerimis turun dan kilatan petir tampak di langit. Aku dan Roland berlari ke arah sebuah bangunan kecil yang ada di ujung untuk berteduh.


Aku dan Roland naik ke teras bangunan itu. Bangunan itu tampak sepi. Mungkin ini adalah sebuah rumah untuk berjualan makanan dan minuman. Namun hari itu tampaknya sedang tutup.


Kami berdua berdiri seraya memandangi langit yang mulai semakin menggelap. Suara guntur terasa memekakkan telingaku. Hujan turun semakin deras.


Aku melihat Roland tampak kedinginan.


"Kau terlihat kedinginan," ujarku dengan khawatir.


"Tidak apa-apa," ujarnya seraya menenangkan diriku dan menepuk bahuku.


Kami berdua kaget ketika terdengar suara derit pintu. Aku dan Roland menoleh ke arah pintu depan rumah itu. Di sana nampak seorang perempuan dewasa yang melangkah keluar dan menatap ke arah kami berdua. Ia bertubuh tinggi dan ramping dengan kulit kecoklatan serta garis-garis kerutan samar di sudut mata dan bibirnya. Rambutnya hitam mengkilap. Rambutnya digelung rapi.


"Kami berdua menumpang di sini untuk berteduh," ujar Roland.


Perempuan itu tidak menjawab melainkan menatap lekat ke arah ku dan Roland secara bergantian.


"Maaf, apakah kami mengganggumu?" Tanyaku dengan khawatir.


Dia masih tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun, melainkan berjalan mendekat ke arah kami dengan tatapan yang seolah terkunci pada kami berdua.


Aku merasakan Roland menegang di sampingku. Aku berdiri waspada dan aku yakin Roland juga merasakan hal yang sama sepertiku.


Perempuan itu berhenti dalam jarak satu meter di depan kami berdua. Ia masih saja menatap lekat ke arahku dan Roland. Aku merinding ketika menatap matanya.


"Tidak mungkin," bisiknya.


Aku dan Roland berdiri mematung menunggu apa yang akan dikatannya.


"Yang satu adalah vampir murni dan yang satunya lagi adalah Yang Terpilih," ujarnya seraya menunjuk ke arahku dan Roland secara bergantian.


Suara petir menggelegar dan menambah ketegangan di dalam diriku.