
Kami bertiga saling menatap untuk membulatkan tekad. Aku mengangguk ke arah Roland dan Damon untuk meyakinkan mereka berdua bahwa aku akan baik-baik saja. Kami akan baik-baik saja.
Aku menatap ke arah tanganku yang sedang memegang terompet kecil pemberian Aldrin. Aku menggenggamnya dengan erat seolah hal itu mampu memberikan kekuatan padaku.
Aku menjelaskan pada Roland dan Damon cara untuk memasuki istana kegelapan tempat Sang Dewa Kegelapan berada.
Aku mengajak mereka berdua ke perpustakaan pribadiku. Bagiku, akan lebih nyaman jika kami melakukan ritual ini di ruangan itu. Aku sendiri merasa jauh lebih tenang ketika berada di perpustakaan ini. Ruangan ini adalah ruangan favoritku.
"Kita harus menggambar sebuah bintang dengan enam sudut yang di luarnya terdapat sebuah lingkaran." Aku menjelaskannya pada mereka seraya menunjuk arah lantai.
Mereka berdua melihat ke arah lantai yang aku tunjuk.
"Setelah gambarnya selesai, kita harus berdiri di dalam lingkaran itu tepat pada sudut bintang." Aku melanjutkan penjelasanku.
Roland dan Damon menatapku dengan pandangan serius.
Aku mengambil sebatang kapur dan dupa serta beberapa lilin untuk mempersiapkan ritual ini. Istana Sang Dewa Kegelapan hanya bisa dimasuki dengan cara seperti ini.
"Apakah kau yakin ini aman?" Tanya Damon.
Aku mengangguk ke arahnya seraya menyerahkan dupa dan lilin.
Aku segera menggambar sebuah lingkaran besar yang di dalamnya terdapat gambar bintang bersudut enam. Roland dan Damon mengamati ku dengan seksama.
"Damon, letakkan dupanya tepat di tengah lingkaran," ujarku.
"Letakkan lilinnya di setiap sudut bintang dan nyalakan," ujarku pada Roland.
Damon dan Roland melakukan apa yang aku perintahkan.
Setelah aku memeriksa bahwa semuanya sudah siap, aku menghela nafas panjang dan menatap bergantian ke arah Roland dan Damon.
"Semuanya sudah siap," ujarku seraya mengangguk meyakinkan mereka.
"Bagaimana caranya kita kembali ke sini?" Tanya Roland ke arahku.
Aku terdiam lama dan berpikir bagaimana caraku menjelaskan pada mereka bahwa perjalanan menuju ke Istana Kegelapan adalah perjalanan satu arah.
Aku menatap mereka berdua secara bergantian.
"Roland, Damon, kalian berdua harus tetap di sini untuk menjaga nyala lilinnya agar tidak padam. Aku akan berangkat sendirian ke sana," ujarku dengan suara lirih.
"APA?" Roland dan Damon serempak mengatakan hal itu.
Aku melihat Roland menatap tak percaya ke arahku.
"Bukankah kita akan pergi bersama?" Roland memegang bahuku.
Aku terdiam dan tidak berani memandang wajahnya.
"Tidak, kalian berdua harus tetep di sini." Aku mengucapkannya seraya menahan agar air mataku tidak tumpah.
Fakta yang belum aku ungkapkan pada mereka berdua ialah bahwa aku tidak ingin membawa mereka berdua ke tempat yang berbahaya seperti yang akan aku tuju saat ini.
"Aku harus pergi sendiri," bisikku.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi ke dalam bahaya sendirian?" Roland nyaris berteriak sambil mengguncangkan bahuku.
Aku memberanikan diri menatapnya. Bagaimana mungkin aku membawanya ke dalam bahaya? Tidak, aku tidak akan membawa Roland ke dalam bahaya. Sang Dewa Kegelapan bukanlah tandingannya.
"Roland, aku ... " suaraku tercekat.
Aku menggelengkan kepalaku ke arahnya.
"Aku akan pergi denganmu dengan atau tanpa izinmu!" ujar Roland dengan nada tegas.
"Aku tidak mungkin membawamu ke dalam bahaya!" Kali ini aku nyaris berteriak padanya.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu terjun ke dalam bahaya sendirian?" Roland balas berteriak.
"Aku harus segera menyelamatkan Leda dan Erick," ujarku lirih.
Roland menggeleng frustasi.
Aku mendengar Damon menghela nafas berat.
"Scarlett, kau mengerti bahwa kami tidak akan pernah membiarkan kau terjun ke dalam bahaya sendirian," ujar Damon.
Aku menatap mereka berdua, mereka selalu saja rela berada dalam bahaya hanya demi aku. Aku meneteskan air mataku.
"Scarlett, aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian," nada suara Roland begitu penuh permohonan.
"Kau juga jangan pernah bermimpi bisa pergi tanpaku!" Kali ini Damon mengucapkannya seraya melangkah ke arahku.
"Aku tidak ingin membahayakan kalian berdua," ujarku seraya mengusap air mataku.
Roland segera menarik ku ke dalam pelukannya.
"Kita berdua saling mencintai, bagaimana mungkin kita pergi tanpa satu sama lain?" bisik Roland di telingaku.
Aku melepas pelukannya dan menatap wajahnya. Ya, kami berdua saling mencintai dan berjanji untuk saling melindungi.
"Ayolah, cepat berangkat!" ujar Damon dengan nada tidak sabar.
Aku berpikir keras, bagaimana caranya aku membawa mereka semua kembali ke sini? Tapi aku harus segera berangkat untuk menyelamatkan Leda dan Erick.
Tatapanku kembali ke benda yang ada di tanganku. Aku kembali mengingat benda berharga itu. Bagi kaum werewolf terompet kecil ini begitu berharga karena benda ini bisa membuatmu berpindah ke manapun, bahkan ke dimensi lain. Ah ya, kenapa aku baru mengingatnya.
Walaupun perjalanan menuju ke istana kegelapan adalah perjalanan yang bersifat satu arah, namun dengan terompet ajaib ini aku bisa membawa orang-orang yang aku sayangi kembali pulang ke sini bersamaku.
Mungkin Aldrin sengaja memberikan benda berharga ini untuk menyelamatkan kami. Aku terharu oleh kebaikannya. Nanti aku akan mengucapkan terimakasih padanya setelah misi ini selesai.
Aku menatap ke arah Roland dan Damon secara bergantian. Mereka berdua mengangguk ke arahku untuk meyakinkan bahwa mereka berdua sudah siap.
Aku menyuruh mereka berdua untuk memasuki lingkaran dan berdiri di sudut bintang yang berdekatan. Mereka melakukan apa yang aku perintahkan.
Setelah memastikan bahwa posisi mereka berdua sudah benar, aku melangkah ke dalam lingkaran dan berdiri di atas sebuah sudut di antara mereka berdua. Kami bertiga bergandengan tangan.
"Kalian berdua harus memejamkan mata dan memfokuskan pikiran padaku," ujarku pelan.
Aku melihat mereka berdua segera memejamkan mata. Aku merasakan genggaman tangan mereka begitu erat di tanganku.
Aroma dupa mulai memenuhi ruangan ini. Cahaya lilin menerangi ruangan ini. Aku memejamkan mataku dan menarik nafas perlahan.
Aku mulai menghirup aroma dupa dan memusatkan pikiranku. Aku merasakan genggaman tangan Roland dan Damon seolah tangan-tangan itu memberiku kekuatan lebih.
Aku semakin memfokuskan pikiranku pada istana kegelapan dan pada Sang Raja Keabadian. Aku membiarkan jiwaku seolah melayang. Namun aku tetap menggenggam erat tangan Roland dan Damon seolah aku takut tangan mereka terlepas dariku.
Kegelapan seolah semakin menelanku. Aku merasakan tarikan dari dunia lain mulai merenggut jiwaku. Aku semakin mempererat genggaman tanganku di tangan Roland dan Damon. Mereka berdua juga melakukan hal yang sama seolah mereka takut kehilangan diriku.
Aku merasa berputar. Entah berapa lama sensasi berputar ini aku rasakan. Tiba-tiba aku merasakan tubuhku jatuh dengan suara gedebuk pelan di lantai yang keras dan dingin.
Aku berusaha membuka mataku. Aku melihat Roland dan Damon jatuh berguling di samping kanan dan kiriku dengan tangan masih menggenggam erat tanganku. Mereka berdua mengerang pelan dan berusaha bangkit dengan terhuyung-huyung. Aku berdiri dengan kepala pening.
Perjalanan ini membuat ku sakit kepala. Mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh Roland dan Damon. Ekspresi di wajahnya menjelaskan hal itu.
Aku menatap berkeliling. Kami sudah berada di istana kegelapan. Istana ini tidak seperti istana kerajaan pada umumnya, namun lebih mirip seperti aula besar dan kosong yang terdiri dari pilar-pilar seperti kuil Dewa Yunani. Di depan sana terdapat sebuah altar yang di atasnya terdapat dua tiang dan mataku membelalak ketika aku melihat ke arah itu.
Di tiang itu, berdirilah Leda dan Erick dengan tubuh yang masing-masing terikat erat pada tiang seolah mereka berdua akan dikorbankan.